Sabtu, 15 Oktober 2016
Connexin, Lem Umat Islam
Hari-hari ini adalah harinya grup whatsapp, begitu juga tulisan ini, idenya hinggap saat menyimak saut-sautan dalam sebuah grup whatsapp. Berbeda dengan grup-grup lainnya, grup yang satu ini seringkali “go deep” . Saya beri satu contoh yaitu polemik gubernur jakarta saat ini pak Basuki atau yang lebih diakrabi dengan nama Ahok. Saat polemik Ahok memuncak grup ini masuk dalam bahasan sinergi antar komponen dan orkestrasi respon yang adekuat, terukur, dan permanen.
Membicarakan sinergi antar komponen dalam tubuh umat islam dan upaya orkestrasi respon umat islam tentu bukan hal sederhana. Komunikasi, koordinasi, antar pemimpin, antar juru bicara, dan antara akar rumput secara vertikal dan horizontal adalah hal-hal krusial kalau mau bicara sinergi dan orkestrasi. Nah ! ketika memikirkan hal ini, saya teringat satu protein yang dulu pernah saya pelajari, namanya Connexin.
Long story short, connexin seperti yang dapat dibayangkan dari namanya “to connect” berperan dalam komunikasi antar sel jantung. Jantung bergerak secara ritmis, dengan koordinasi yang ciamik antar bagian-bagiannya sehingga mampu memompa darah keseluruh tubuh. Terkadang, karena sesuatu hal koordinasinya kacau, empunya jantung bisa megap-megap kebiruan, apalagi kalau ada salah satu bagian yang ngambek gara-gara tidak mendapat suplai makanan dan oksigen via pembuluh darah karena ada sumbatan.
Beberapa connexin membentuk connexon yang terletak pada dua sel otot jantung yang bersebelahan, dia menghubungkan sitoplasma kedua sel secara langsung, sehingga setiap perubahan kondisi ionik pada sitoplasma sel yang satu akan segera mempengaruhi kondisi ion-ion pada sitoplasma sel sebelahnya. Hal ini memungkinkan koordinasi seketika antar sel otot jantung. Jadi, ketika pandangan mata kepala saya angkat dan melihat pelbagai macam organ dan kelompok dalam tubuh umat islam, saya bertanya siapakah connexin dalam tubuh umat islam saat ini? siapakah yang memungkinkan koordinasi seketika antar komponen umat islam sehingga betul-betul ia bertindak bagai satu tubuh ?
Harus ada individu umat islam, yang tidak dapat berkelompok karena orbit edarnya berbeda-beda, namun memiliki kesadaran yang sama untuk berperan sebagai lem untuk umat islam. Lem yang merekatkan antar organ, antar kelompok, antar unit sekaligus memfasilitasi komunikasi dan koordinasi diantara organ, kelompok dan unit ini. Individu-individu lem ini bekerja secara mandiri, terpisah-pisah, tidak saling mengenal, namun memiliki kemampuan deteksi yang serupa sehingga mampu (1) menangkap sinyal komunikasi, (2) melakukan interpretasi pesan dan situasi yang berkembang serta (3) menyusun rencana aksi yang personalized untuk situasi dan kondisi khas lingkungan sosial yang melingkupinya dirinya sendiri.
Hal ini berarti individu lem kita di produksi atau di kader oleh satu kurikulum dengan pabrikan yang sama, namun, memiliki kemampuan beroperasi secara mandiri dan otonom. Meski demikian untuk menjamin keseragaman pesan, tetap diperlukan suatu sistem sentralisasi yang “over the air” dan ini sudah tersedia, dalam pandangan saya yaitu via grup whatsapp atau sepupunya yang lain. Sudah pasti individu kita ini bukanlah aktor utama pemimpin umat atau juru bicara organisasi, bukan pula da’i kondang atau wakil rakyat serta selebriti dalam skala dan bentuk apapun. Lem umat islam ini tiada lain adalah sekadar seorang al-akh yang dalam istilah biologi bisa dianggap telah teraktivasi atau seorang activated al-akh (aa akhi)
Lalu bagaimana aa akhi kita beroperasi? seperti connexin, dia bertujuan memungkinkan proses koordinasi seketika. Pertama dia menerima informasi dari sentral grup lalu menyebarkan informasi yang tervalidasi keseluruh wilayah operasinya dan bila memungkinkan memberikan saran aksi atau membuat rencana aksi yang senada dengan organ dan komponen umat lainnya. Sehingga target minimal aa akhi kita adalah sosialisasi informasi, kemudian baru koordinasi aksi dan terakhir orkestrasi respon sebagai bentuk paling optimal.
Sistem ini memiliki kelemahan utama yaitu bila sentral informasi mengalami infiltrasi sehingga berpotensi digunakan untuk agenda-agenda disinformasi, agitasi dan provokasi, bila hal ini terjadi celaka dua belas kita semua. Menutupi kelemahan ini maka sentral informasi sebaiknya bukanlah sebuah command center melainkan discussion center dengan spektrum yang beragam agar setiap potensi disinformasi terungkap dan menjadi bahan pertimbangan. aa akhi kita sendiri haruslah seorang yang mampu berfikir mandiri dalam artian dia bukan seorang prajurit yang sekadar menerima komando, tapi lebih menyerupai perwira telik sandi yang baik dan cerdas. Seperti juga connexon yang dibentuk beberapa connexin, maka sepantasnya fungsi ini juga diperankan oleh beberapa aa akhi yang bekerjasama dan saling membantu.
Saya tidak yakin apakah celotehan ini berarti untuk anda, tapi, bagi penulis ide yang tumbuh membesar di dalam kepala harus dipindahkan segera dalam tulisan sebelum membuat isi kepala terasa sesak. demikian.
Sampai jumpa di kesempatan berikutnya
Selasa, 27 Oktober 2015
Bait Putus Asa
Ketika pemimpin adil dan bijaksana
Harapan timbul pada gurat wajah rakyat
Ketika pemimpin welas lagi asih
Cinta dan bakti mendorong segala upaya
Harapan timbul pada gurat wajah rakyat
Ketika pemimpin welas lagi asih
Cinta dan bakti mendorong segala upaya
Sesaat tambatan harapan tenggelam
Resah beriak dalam benak rakyat
Sesaat tambatan hati berpaling
Rakyat telanjang dalam kesendirian
Resah beriak dalam benak rakyat
Sesaat tambatan hati berpaling
Rakyat telanjang dalam kesendirian
Sengsara, merana, kalut dan menangis
Yang tersisa hanya keluh tiada habis
Yang terbit hanya cerca tiada guna
Lalu bertanya kapan kiamat tiba?
Yang tersisa hanya keluh tiada habis
Yang terbit hanya cerca tiada guna
Lalu bertanya kapan kiamat tiba?
Bila semua sibuk melindungi diri
Bila semua sibuk melindungi hati
Tiada peduli nasib jutaan
Atau ratusan yang kehilangan harapan
Bila semua sibuk melindungi hati
Tiada peduli nasib jutaan
Atau ratusan yang kehilangan harapan
Tiada guna bait berbait dijalin
Tiada guna usaha dan upaya
Hanya waktu yang memutus segalanya
Mari duduk bermanis dalam putus asa
Tiada guna usaha dan upaya
Hanya waktu yang memutus segalanya
Mari duduk bermanis dalam putus asa
Rabu, 15 Juli 2015
Foreskin-derived skin equivalent in exchange for animal testing*
* dibuat sebagai essay persyaratan mengikuti seleksi Novartis International Biocamp 2015
The European union completely ban the use of animal testing for cosmetics
development in 2013. The ban was a critical milestones in the effort to phase
out experimentation using animals. The medical research community were
currently guided by principles that whenever possible, to replace animal with
other reliable methods, reduce the number of animal and refine the techniques
used to minimize potential pain and distress and promote animal welfare. These
trends leads to the development of alternatives to animal testing. One such
alternatives is the use of cell culture and tissue engineering.
The Fraunhofer institute in 2010
launch the “skin from factory” project that essentially produced skin equivalents
in a fully automated process. The institute recognized that skin equivalents as
in vitro test system for chemicals, cosmetics and drugs are rare. Production of
an in vitro test system by manual cell culture and tissue engineering is time
consuming and required specifically trained personnel. Most interesting was
that the skin source for such system were foreskins which was an abundant by
product/medical waste of compulsory practice of khitan in Indonesia.
Rumah Sunatan a leading company
focused in khitan services claimed to reach more than 15.000 patient a year.
This is an untapped resource unique of Indonesia home to millions of observant Muslims.
This point of view is, for sure, not without challenges. Among others is the
ethical and religious issues that centered on the commercial use of human
tissues. However research on the potential cultivation of foreskins could
result benefit for many field such as stem cells, regenerative medicine, cell
therapy, cryopreservation.
Recently, the discovery of the
non-tumorigenic multilineage-stress enduring cells (MUSE) from dermal
fibroblast potentially resolve the concern on the use of iPS cells for therapy.
Dermal fibroblast contains a pluripotent subpopulation of mesenchymal stem
cells that evidently does not form tumour. This findings extends further the
importance of foreskin as skin sample source in regenerative medicine.
Cryopreservation of cells isolated from so many samples a year will also
stimulate research in the field of cryobiology and bio banking.
In conclusion, the production of
foreskin-derived skin equivalent as an in vitro skin testing system on a large
scale will largely reduce the demand on animal testing. Indonesia has a unique potential to solve other
problems in medical research. Communication with appropriate religious body and
government agency should be commenced to resolve issues that aroused on the
collection, cultivation and storage of foreskins for medical research.
Sabtu, 09 Mei 2015
Barisan Kebaikan Memberikan Harapan

Dimanapun dalam ruang-ruang kehidupan kebaikan akan selalu berhadapan dengan kebatilan. Anasir kebaikan seringkali harus berhadapan dengan kebatilan yang telah berurat akar. Menghadapi kebatilan yang terstruktur maka harus dibentuk barisan yang berisi anasir-anasir kebaikan. Kesatuan prinsip, kesamaan cara pandang, serta semangat beramal didalam barisan tersebut adalah berkah luar biasa yang sering tidak kita sadari. Upaya mempertahankan kerapihan dan keutuhan barisan yang kompak lebih utama daripada tugas penyerangan atau target kemenangan.
Barisan yang kokoh dapat menjadi jangkar untuk kebaikan, kibaran bendera yang menandai titik kumpul orang-orang beriman, serta tempat menumpahkan keikhlasan amal dan air mata ukhuwah. Barisan yang kompak berkesempatan memperluas ruang-ruang kebaikan, mengirim dutanya membawa cahaya menerangi relung gelap kebatilan, hingga tampak jelas dibawah cahaya matahari perbedaan antara yang haq dan yang batil.
Cita-cita kita letakkan setinggi langit, hasil usaha kita serahkan pada sang pemilik takdir, tugas kita hanya berusaha semampu dan sebaik yang dapat kita berikan. Meski demikian mempertahankan dinamika lebih utama dari pada menggapai cita-cita. Dinamika dan partisipasi niscaya akan membuka celah-celah kebaikan dan ruang-ruang amal sekalipun kecil dan sederhana. Fokus pada cita-cita tentu baik tapi membangun harapan untuk masa depan yang cerah lebih utama, karena kita bekerja dalam kerangka waktu yang lebih panjang dari pada usia pengabdian.
Harapan memungkinkan estafeta generasi untuk merealisasikan impian dan cita-cita di masa depan yang jauh. Prinsip dasar dari strategi nafas panjang adalah membangun harapan, mempertebal kesabaran, dan menghindari ketergesaan. Semangat membangun dan memperbaiki adalah modal utama, kesatuan kata dan perbuatan menjadi pegangan. Partisipasi dan keterlibatan akan membuat kita basah dan kotor, harus di sadari, ini bukan tempat orang suci..tapi ini adalah tempat orang yang hobi bertobat, orang yang jujur pada dirinya dan tidak takut mengakui kesalahan. Partisipasi memungkinkan kita memotret anatomi dajjal, merangkai patofisiologi kebatilan dan menemukan manajemen terapi terbaik untuk setiap kondisi
Barisan kebaikan ini menempatkan wewenang dan kekuasaan di tangan bukan di hatinya sehingga setiap prestasi dan wanprestasi tidaklah melekat pada dirinya, bila usaha maksimal telah di keluarkan. Barisan kebatilan menempatkan wewenang dan kekuasaan di hatinya sehingga secara alamiah menganggap setiap prestasi pastilah bersumber darinya sementara setiap wanprestasi akan ditolak, disembunyikan atau di carikan kambing hitamnya agar tidak mengotori jubah kekuasaan yang sedang dikenakan.
Untuk agenda perbaikan berikan usaha terbaik, tapi jangan serahkan leher kalian untuk memaksakan kemenangan kecil atau karena keputus-asaan. Kenalilah kapan saatnya untuk merunduk, mundur teratur, agar dapat mengangkat bendera di palagan berikutnya. Demi Sang pemilik takdir, pemimpin yang baik lebih berharga daripada tercapainya target-target, karena selama pemimpin tersebut ada harapan akan selalu menyertainya tapi bila target-target telah tercapai semua akan rusak kembali tanpa pemimpin yang baik. Karena itu selama masih ada orang-orang beriman yang bersedia mengotori dirinya dalam mengarungi rawa-rawa kepemimpinan, mereka niscaya berkata: Harapan itu masih ada !!
Jumat, 01 Mei 2015
Untuk para pemimpin yang berselancar diatas gelombang perubahan
Mengelola gelombang, mengendalikan ombak
Merangkai mimpi menuju pantai perbaikan
adalah pekerjaan para dai, hobi para mujahid
inilah agenda para ulama dan warisan para nabi
Keikhlasan bergerak, semangat melangkah,
keteraturan bekerja adalah sunnatullah perjuangan
begitu pula segala kendala, kesulitan dan himpitan
siapa yang tak ingin memberi bantuan untuk kebaikan?
siapa yang rela ketinggalan mendorong gerbong kemajuan?
Setiap niat mulia akan menghimpun pendukung kebajikan
Semoga Allah swt berikan barakah atas setiap peluh,
pahala untuk setiap penat serta kesehatan diatas yang lain
untuk para pemimpin yang bekerja dengan nafas panjang..
untuk para pemimpin yang berselancar diatas gelombang
perubahan
Hail Caesar ! We who about to die, salute you
Senin, 12 Januari 2015
Membeli Rumah
Membeli rumah, apalagi rumah pertama, tentu satu hal yang mau tidak mau di alami setiap pasangan. Saya dan istri mengalaminya akhir tahun lalu. Pertama kami sangat berhutang pada blogger lain yang menuliskan pengalamannya dan sering kali menjadi acuan buat kami berdua. Tulisan ini juga bukan berarti kami pakar dalam hal ini dan dapat menjadi rujukan. Pertama kami mulai dengan mencari rumah dari iklan di internet, brosur, spanduk, pameran, setelah sekian lama mencari kami memutuskan untuk akhirnya mengunjungi beberapa lokasi perumahan, tepatnya 3 lokasi yang kami kunjungi.
Tempat pertama adalah perumahan muslim di daerah depok. Kami mengunjungi site pembangunan sambil menghitung waktu yang dibutuhkan dengan moda transportasi umum (kereta + ojek). Akses juga menjadi salah satu pertimbangan kami. Perumahan ini dilalui oleh angkot meski saat kami membuktikannya dalam setengah jam hanya 1 mobil yang lewat :) Harga rumah, model rumah dan pertimbangan lainnya langsung terbang melayang dan kami pulang hampir-hampir kapok.
Saat ini rumah yang kami beli dan sedang kami cicil saat ini justru berada di perumahan tersebut. Aneh sekali bukan? cerita saya pada akhirnya akan sampai kesana tapi saya gatal ingin menekankan poin ini bahwa membeli rumah itu memang "jodoh-jodohan"
Meneruskan cerita, pada kesempatan berikutnya kami mendatangi perumahan kedua di daerah bogor sekitar stasiun cilebut. Oya, kami mencari rumah yang dapat diakses dari stasiun kereta, itu berarti pencarian kami dilakukan sepanjang jalur depok-bogor. Perumahan ini kecil dengan akses yang cukup memadai, harga terjangkau kantong, akan tetapi yang menjadi ganjalan adalah skema diskon uang muka yang cukup besar. Kami saat itu berusaha memahami prosedur perbankan dan aturan hukum yang berlaku dan sepanjang pengetahuan kami modus diskon uang muka ini agak sulit dipercaya. Saya tidak jelaskan detail, pada intinya kami menemukan distrust terhadap pengembang perumahan ini. Marketing yang menawarkan perumahan ini juga tidak berasal dari perusahaan yang sama dengan pengembang menambah distrust lebih dalam lagi.
Perumahan ketiga masih di jalur depok-bogor kami dapatkan dari pameran di jakarta. Kami mengunjungi site tersebut pada hari yang sama setelah dari pameran. Hal ini membuktikan aksesnya yang memadai, harga yang terjangkau bahkan kami berfikir untuk ambil 2 sekaligus. Kami sudah membayar booking untuk dua rumah sekaligus. Intinya kesan kami sangat baik untuk perumahan ini dan juga ternyata tidak jauh dari perumahan kakak kami yang memang dari pengembang yang sama. satu hal yang mengganjal adalah adanya SUTET yang melintasi perumahan ini. Akhirnya kami membatalkan untuk membeli perumahan ini.
Setelah itu kami meluaskan pencarian termasuk rumah-rumah second. Satu rumah saat itu menjadi incaran kami, karena lokasinya yang sangat dekat dan sangat strategis, cocok sekali untuk usaha meski tidak terlalu luas. Kendalanya adalah status tanah tersebut yang meski sudah SHM namum dulunya adalah tanah kategori fasum/fasos dan saat itu disekitar rumah tersebut pemerintah sedang membangun taman-taman kota. Hal ini menjadi kekhawatiran, masa iya baru punya rumah nanti langsung digusur pemda.
Saya kemudian mendatangi tata kota dan dinas pertamanan yang hasil akhirnya adalah tidak ada jaminan tanah tersebut tidak dimasukkan dalam proyek pemda karena mereka sendiri mengetahui lokasinya yang sebelumnya adalah tanah fasos/fasum. Enggan berurusan dengan pemda kalau nanti perlu legal action maka kami pun mundur.
Nah, setelah saat itu kami pun menurunkan ekspektasi dan mencari kontrakan saja, saat itu niat kami sudah bulat untuk pindah dari rumah yang sekarang kami tumpangi. Alhamdulillah dapat rumah yang cocok dekat sekolah anak-anak dan cukup luas dengan harga yang terjangkau. Uang muka dibayarkan dan kami sudah mengumumkan untuk pindah rumah akhir tahun ini.
Bersambung
Saat ini rumah yang kami beli dan sedang kami cicil saat ini justru berada di perumahan tersebut. Aneh sekali bukan? cerita saya pada akhirnya akan sampai kesana tapi saya gatal ingin menekankan poin ini bahwa membeli rumah itu memang "jodoh-jodohan"
Meneruskan cerita, pada kesempatan berikutnya kami mendatangi perumahan kedua di daerah bogor sekitar stasiun cilebut. Oya, kami mencari rumah yang dapat diakses dari stasiun kereta, itu berarti pencarian kami dilakukan sepanjang jalur depok-bogor. Perumahan ini kecil dengan akses yang cukup memadai, harga terjangkau kantong, akan tetapi yang menjadi ganjalan adalah skema diskon uang muka yang cukup besar. Kami saat itu berusaha memahami prosedur perbankan dan aturan hukum yang berlaku dan sepanjang pengetahuan kami modus diskon uang muka ini agak sulit dipercaya. Saya tidak jelaskan detail, pada intinya kami menemukan distrust terhadap pengembang perumahan ini. Marketing yang menawarkan perumahan ini juga tidak berasal dari perusahaan yang sama dengan pengembang menambah distrust lebih dalam lagi.
Perumahan ketiga masih di jalur depok-bogor kami dapatkan dari pameran di jakarta. Kami mengunjungi site tersebut pada hari yang sama setelah dari pameran. Hal ini membuktikan aksesnya yang memadai, harga yang terjangkau bahkan kami berfikir untuk ambil 2 sekaligus. Kami sudah membayar booking untuk dua rumah sekaligus. Intinya kesan kami sangat baik untuk perumahan ini dan juga ternyata tidak jauh dari perumahan kakak kami yang memang dari pengembang yang sama. satu hal yang mengganjal adalah adanya SUTET yang melintasi perumahan ini. Akhirnya kami membatalkan untuk membeli perumahan ini.
Setelah itu kami meluaskan pencarian termasuk rumah-rumah second. Satu rumah saat itu menjadi incaran kami, karena lokasinya yang sangat dekat dan sangat strategis, cocok sekali untuk usaha meski tidak terlalu luas. Kendalanya adalah status tanah tersebut yang meski sudah SHM namum dulunya adalah tanah kategori fasum/fasos dan saat itu disekitar rumah tersebut pemerintah sedang membangun taman-taman kota. Hal ini menjadi kekhawatiran, masa iya baru punya rumah nanti langsung digusur pemda.
Saya kemudian mendatangi tata kota dan dinas pertamanan yang hasil akhirnya adalah tidak ada jaminan tanah tersebut tidak dimasukkan dalam proyek pemda karena mereka sendiri mengetahui lokasinya yang sebelumnya adalah tanah fasos/fasum. Enggan berurusan dengan pemda kalau nanti perlu legal action maka kami pun mundur.
Nah, setelah saat itu kami pun menurunkan ekspektasi dan mencari kontrakan saja, saat itu niat kami sudah bulat untuk pindah dari rumah yang sekarang kami tumpangi. Alhamdulillah dapat rumah yang cocok dekat sekolah anak-anak dan cukup luas dengan harga yang terjangkau. Uang muka dibayarkan dan kami sudah mengumumkan untuk pindah rumah akhir tahun ini.
Bersambung
Sabtu, 02 Agustus 2014
Koleksi Pilpres 2014
Pemilihan Presiden tahun 2014 ini memang istimewa, seru, jadi sumber pertengkaran, perseteruan, ajang olok-olok dan tentunya sumber inspirasi yang kaya
berikut adalah kalimat-kalimat yang saya keluarkan akibat situasi yang terjadi pada pilpres apa adanya sebagai pengingat untuk diri saya pribadi,
Pada musim kampanye saya tidak banyak memperhatikan karena bulan itu saya dalam perjalanan di eropa. perlu di perhatikan bahwa saya adalah pendukung No.1 :)
Berikut yang pertama: Tribute buat pak Prabowo
ketika hasil pemilu sudah keluar tanda-tandanya, saya mengarahkan tudingan pada kaum golput:
berikut adalah kalimat-kalimat yang saya keluarkan akibat situasi yang terjadi pada pilpres apa adanya sebagai pengingat untuk diri saya pribadi,
Pada musim kampanye saya tidak banyak memperhatikan karena bulan itu saya dalam perjalanan di eropa. perlu di perhatikan bahwa saya adalah pendukung No.1 :)
Berikut yang pertama: Tribute buat pak Prabowo
Merenungi sosok Prabowo Subianto saya teringat The Riddle of Strider, bagi para penggemar J.R.R. Tolkien, fans LOTR dan sejarah Midlle Earth khususnya mengenai Dunedain of The North tentu sudah familier dengan puisi ini
All that is gold does not glitter
Not all those who wander are lost
The old that is strong does not wither
Deep roots are not reached by the frost
From the ashes a fire shall be woken
A light from the shadows shall spring
Renewed shall be blade that was broken
The crownless again shall be king.
Next kalimat untuk para saksi yang bekerja keras:
Ditengah kabut asap perang psikologis,
kebenaran bergantung di ujung tanduk
lengah sekejap rakyat banyak menangis
dan negara hancur remuk
para saksi lah yang kini berdiri di garis terdepan,
ketajaman mata mereka yang membedakan
haq dan batil terpaut segaris tipis sahaja
mari doakan mereka, para saksi di medan laga
ketika hasil pemilu sudah keluar tanda-tandanya, saya mengarahkan tudingan pada kaum golput:
they put the nation in waiting
they put the people in uncertainty
they put us all in the brink of social unrest
and to put salt on a wound
they feel happy and very much relax on the condition
Terakhir mengenai sportifitas dan legowo yang tiba-tiba jadi trending topic
Sportifitas, sikap gentleman atau legowo adalah ilusi, tabir asap yg diciptakan oleh kaum penindas untuk membungkam protes...
Sportifitas sejati hanya muncul diatas penghormatan thd kebenaran dalam pertarungan yg adil
Sikap legowo demi persatuan dan perdamaian hanyalah kosmetika publik untuk menutupi wajah buruk kezaliman
Pejuang sejati mengenali dan mengagumi kekalahan mutlak akibat tipu daya dalam peperangan
Tapi berdiam diri atas kekalahan serupa diluar medan tempur adalah absurd, tanda kelemahan dan jiwa yg terbelenggu..singkatnya mental Inlander !
Europe Trip : Paris
Bulan lalu akhirnya saya menjejakan kaki di Eropa..Benua biru..
Saya dan dua orang rekan berkesempatan mengikuti training di Jerman. Topik trainingnya penting, tapi bukan maksud saya menceritakannya dalam tulisan ini
saya ingin membagi kesan saya dalam perjalanan ini. Eropa bukan benua yang asing lagi sebenarnya, sudah banyak yang mengisahkannya bahkan membuatnya jadi film. Orang bilang perjalanan akan membuka mata kita, entahlah tapi apa yang saya lihat ternyata menjadi konfirmasi apa yang selama ini saya fikirkan ( the sceptic in me)
Paris, Ibukota eropa adalah kota pertama yang kami kunjungi, transit satu hari sebelum menjadi tujuan akhir kami Koln di jerman. Salah satu minat saya dalam perjalanan adalah melihat kehidupan keseharian warganya, jadi saya selalu memilih menggunakan tranportasi publik, seperti metro dan subway. Saya juga sebisa mungkin menghindari area turis yang terlalu ramai. Passion saya sebenarnya pada kultur dan sejarah suatu tempat.
Hei !, tapi siapa yang bisa menolak mengunjungi Eiffel ketika sampai di Paris, jadi sebagai kompromi saya mengatur 2 site yang kami kunjungi yaitu Eiffel dan Louvre. Kami sampai ke Louvre meski hanya sampai halamannya saja, simply no idea how to get inside LOL. Di kejauhan kami melihat Eiffel, jadi setelah makan dan uang secukupnya kami kembali ke bawah tanah, figure out which metro to take :)
Eiffel turn out berupa stuktur metal kelabu yang mulai nampak lusuh dan muram, mungkin karena usia, cuaca atau beratnya menjadi saksi bagi warga Paris dan dunia yang mengunjunginya (its summer for heaven sake).
Kami akhirnya mengaso di tepian air sungai Seine, fikiranku melayang ke kisah-kisah dalam tetralogi Emperor-nya Conn Iggulden, betapa perjuangan bangsa Romawi membawa peradaban dan jaringan jalannya ke wilayah Gaul.
Di Paris kami melihat, kaki lima, calo, pengemis, gelandangan, metro yang bau pesing, tapi kami juga melihat gabled house yang cantik, bangunan-bangunan megah, dan patung-patung. Berbagai macam ras, dan suku bangsa menghuni kota ini, memang luar biasa. Sisa hari itu kami habiskan untuk memulihkan tubuh dari jet lag.
Di akhir rangkaian perjalanan sebelum kembali ke jakarta, kami sempat ke Paris lagi dan kembali ke Louvre, kami memutuskan untuk berjalan sepanjang taman dan menyaksikan bagaimana cahaya matahari begitu dihargai di eropa :) dan mengakhiri trip eropa kami dengan tidur siang dibawah naungan pepohonan di taman yang menghadap bundaran dengan Obelisk di tengahnya
Saya dan dua orang rekan berkesempatan mengikuti training di Jerman. Topik trainingnya penting, tapi bukan maksud saya menceritakannya dalam tulisan ini
saya ingin membagi kesan saya dalam perjalanan ini. Eropa bukan benua yang asing lagi sebenarnya, sudah banyak yang mengisahkannya bahkan membuatnya jadi film. Orang bilang perjalanan akan membuka mata kita, entahlah tapi apa yang saya lihat ternyata menjadi konfirmasi apa yang selama ini saya fikirkan ( the sceptic in me)
Paris, Ibukota eropa adalah kota pertama yang kami kunjungi, transit satu hari sebelum menjadi tujuan akhir kami Koln di jerman. Salah satu minat saya dalam perjalanan adalah melihat kehidupan keseharian warganya, jadi saya selalu memilih menggunakan tranportasi publik, seperti metro dan subway. Saya juga sebisa mungkin menghindari area turis yang terlalu ramai. Passion saya sebenarnya pada kultur dan sejarah suatu tempat.
Hei !, tapi siapa yang bisa menolak mengunjungi Eiffel ketika sampai di Paris, jadi sebagai kompromi saya mengatur 2 site yang kami kunjungi yaitu Eiffel dan Louvre. Kami sampai ke Louvre meski hanya sampai halamannya saja, simply no idea how to get inside LOL. Di kejauhan kami melihat Eiffel, jadi setelah makan dan uang secukupnya kami kembali ke bawah tanah, figure out which metro to take :)Eiffel turn out berupa stuktur metal kelabu yang mulai nampak lusuh dan muram, mungkin karena usia, cuaca atau beratnya menjadi saksi bagi warga Paris dan dunia yang mengunjunginya (its summer for heaven sake).
Kami akhirnya mengaso di tepian air sungai Seine, fikiranku melayang ke kisah-kisah dalam tetralogi Emperor-nya Conn Iggulden, betapa perjuangan bangsa Romawi membawa peradaban dan jaringan jalannya ke wilayah Gaul.
Di Paris kami melihat, kaki lima, calo, pengemis, gelandangan, metro yang bau pesing, tapi kami juga melihat gabled house yang cantik, bangunan-bangunan megah, dan patung-patung. Berbagai macam ras, dan suku bangsa menghuni kota ini, memang luar biasa. Sisa hari itu kami habiskan untuk memulihkan tubuh dari jet lag.Di akhir rangkaian perjalanan sebelum kembali ke jakarta, kami sempat ke Paris lagi dan kembali ke Louvre, kami memutuskan untuk berjalan sepanjang taman dan menyaksikan bagaimana cahaya matahari begitu dihargai di eropa :) dan mengakhiri trip eropa kami dengan tidur siang dibawah naungan pepohonan di taman yang menghadap bundaran dengan Obelisk di tengahnya
Jumat, 25 April 2014
Geraniin supplementation increases human keratinocyte proliferation in serum-free culture
Indra
Kusuma1 and Restu Syamsul Hadi2
1Physiology Department, Faculty of Medicine, YARSI University 2Anatomy Department, Faculty of Medicine, YARSI University
1Physiology Department, Faculty of Medicine, YARSI University 2Anatomy Department, Faculty of Medicine, YARSI University
Abstract
Background
Various products used in cellular
therapy utilize tissue culture techniques requiring
keratinocyte culture. An
efficient and clinically acceptable keratinocyte culture system
requires supplements with mitogenic activity. Geraniin is a phytochemical with the
potential as a supplement for
expansion culture of keratinocytes. The objective of the present study was
to verify the mitogenic activity of geraniin
on
human keratinocytes.
Methods
This was an experimental study using two
samples of human foreskin obtained by
circumcision of a male child. Epidermal keratinocytes were isolated
from the foreskin samples and cultured with the addition of epidermal growth factor and bovine pitutary extract. The
keratinocytes were divided into paired groups, comprising intervention and
control groups. The intervention groups
were cultured with geraniin
supplementation, whereas
the control groups were cultured with standard supplements, without the
addition of geraniin. Mitochondrial
activity of the cells was evaluated by means of the MTT proliferation assay. Absorbance values in each of the groups
was measured at 450 nm. Data
analysis was performed with the paired
t-test.
Results
Geraniin supplementation significantly increased the
keratinocyte proliferation rates at dosages of 0.8 to 3.1 µM. An increase of 57% in the proliferation rate was obtained
at a dosage
of 1.6 µM, while at a dosage of 12.5 µM
toxic effects were starting to appear. Geraniin presumably causes increased cellular
energy status, resulting in increased proliferation rates.
Conclusion
The findings in this study provide
evidence in support of the utilization of geraniin as a supplement for expansion culture of keratinocytes. Further studies may presumably identify
the molecules acting as geraniin receptors and the intracellular mechanisms underlying
the increase in proliferation rates.
Key
words: Keratinocyte, geraniin, foreskin, proliferation
Rabu, 27 November 2013
Surat Terbuka PROKAMI untuk Indonesia (original version)
*orginal version dari Press Release IMANI-PROKAMI terkait demonstrasi dokter 27 November 2013.
as per req. dr Achmad Zaki M.Epid. SpOT disusun selasa 26 November 2013 diatas commuter line Bogor-Jakarta en route ke stasiun cikini, ketikan awal disusun di Microsoft One Note Nokia Lumia. Sumber referensi: Risalah Pergerakan (Hassal Al Banna), Wajah Dokter Indonesia ( {Prof.Sjamsuridzal Djauzi)
as per req. dr Achmad Zaki M.Epid. SpOT disusun selasa 26 November 2013 diatas commuter line Bogor-Jakarta en route ke stasiun cikini, ketikan awal disusun di Microsoft One Note Nokia Lumia. Sumber referensi: Risalah Pergerakan (Hassal Al Banna), Wajah Dokter Indonesia ( {Prof.Sjamsuridzal Djauzi)
Assalamualaikum
wr wb
Ba'da tahmid
dan shalawat, mencermati kegaduhan di ruang-ruang komunikasi seputar kasus
hukum yang dialami sejawat peserta pendidikan program dokter spesialis
kebidanan dan kandungan di manado, serta menangkap kegelisahan sejawat dokter
dan kegundahan tenaga kesehatan lainnya. PROKAMI sebagai stakeholder kesehatan
di negeri ini menyampaikan seruan pada bangsa Indonesia...
1. Kepada
saudara kami para dokter yang diikat oleh sumpah yang satu, suarakan aspirasi
kalian besok sebagai hak setiap warga negara. Ingatlah bahwa Allah swt yang
menyembuhkan penyakit bukan kalian, simpan keraguan dan tutup kebimbangan,
pengabdian kita tidak sepatutnya menghilangkan keadilan.
2. Kepada
sejawat tenaga kesehatan, perawat, bidan, analis, radiografer, fisioterapis dan
lainnya kita adalah keluarga. Mari lupakan sejenak perselisihan, ini adalah
momentum evaluasi, konsolidasi, reposisi dan reorganisasi. Ambilah pelajaran
dan antisipasi karena sejarah akan berulang
3. Kepada
industri farmasi, pejabat kesehatan, pemimpin profesi, civitas akademika,
pemilik modal bangunlah! Kita beredar dalam orbit yang sama, ada fundamental
yang salah dengan sistem kesehatan di negeri ini. Mari kita manfaatkan momentum
ini untuk formulasikan sistem yang harmoni, seimbang dan berkeadilan.
4. Kepada
rakyat, kami adalah kalian, hubungan kita bukanlah produsen dan konsumen, bukan
provider dan klien, bukan pula keluarga atau saudara melainkan kita adalah
sahabat. Setelah segala yang terjadi kami tetap teguh dengan jabat
persahabatan, semoga Allah swt meringankan beban kalian dengan kesehatan.
Seperti semua sahabat, kami hanya menyatakan apa adanya, tidak lebih.
Demikian,
untuk negeri ini dan masa depan umat Islam
Wassalamualaikum
wr wb.
Minggu, 24 November 2013
Persepsi masyarakat terhadap Ilmu Pengetahuan
*Diolah dari Sergei Kapitza; Public perception of
science and anti science: science and counter culture. World Confrence of
Science Hungaria 1999 untuk tugas mata kuliah filsafat sains program doktor IPB
Pada zaman
modern, Ilmu pengetahuan dasar dapat dipandang sebagai bagian dari kultur.
Kontribusi Ilmu pengetahuan praktis dalam perkembangan industri dan ekonomi
tidak dapat disangkal. Meski demikian interaksi Ilmu Pengetahuan dengan
masyarakat, pendidikan dan kultur jauh lebih kompleks dan sering kali
kontroversial. Ilmu Pengetahuan telah berkembang menjadi dalam skala global
menembus batas-batas negara sementara kultur semakin erat dikaitkan dengan
identitas bangsa dan bahasa serta tradisi lokal.
Ilmu pengetahuan
berkembang dalam bidang yang semakin
lama semakin spesifik akan tetapi masyarakat menerima informasi ilmu
pengetahuan melalui upaya multidisiplin, hal ini menyulitkan proses transfer
informasi dan pemahaman oleh orang awam atau bahkan para pejabat pemerintahan.
Hal ini menjadi sebab hilangnya kontak antara ilmu pengetahuan dengan
masyarakat dan kebutuhan manusia dalam kehidupan
Bentuk perceraian
antara ilmu pengetahuan dan masyarakat
dapat berupa 1) muncul kembalinya kepercayaan kuno yang bersifat supernatural. Di
Indonesia hal ini dapat terlihat pada fenomena “Ponari” dan larisnya dukun menjelang tahun pemilu,
keduanya mewakili kepercayaan terhadap kekuatan magis yang bertentangan dengan
rasionalitas medis dan kalkulasi politik. 2) penolakan terhadap
perkembangan-perkembangan modern seperti energi nuklir, rekayasa genetik yang
semakin berkembang. Dalam banyak kejadian penolakan ini berupa rasa takut yang
irrasional dan kurangnya pemahaman
Perkembangan
tekhnologi yang pesat merubah perangkat keras masyarakat sedemikian cepat
hingga perubahan perangkat lunak masyarakat selalu tertinggal dan orang-orang
kemudian mundur dan berlindung pada ide-ide lama. Jurang pemisah yang semakin
lebar ini mungkin adalah alasan penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan sikap
anti-ilmu pengetahuan. Tren ini bahkan terlihat diantara para ilmuwan sendiri
berupa hilangnya identitas, dan degradasi moral ilmuwan yang terperangkap dalam
dunia yang semakin kompetitif.
Efek lebih
signifikan kemudian terlihat pada hilangnya rasa percaya dan harapan, serta
runtuhnya ide-ide yang selama ini memberi panduan dan tujuan. Penolakan
terhadap rasio dan sikap positif adalah konstruk postmodernisme. Kondisi
hilangnya arah dan tujuan serta rendahnya pemahaman dan pengertian terhadap
ilmu pengetahuan menjerumuskan masyarakat pada sikap pro “natural” yang keliru.
Maraknya riset herbal, anjuran back to
nature, hidup sehat alami, “obat alami tanpa efek samping”, serta pengobatan
ala nabi mudah-mudahan bukanlah bagian sikap anti-ilmu pengetahuan melainkan murni aktivitas mencari ilmu
pengetahuan sehingga sepatutnya berkembang secara terstruktur dan terarah
seperti layaknya ilmu pengetahuan disusun, dikaji, dibuktikan dan
diorganisasikan dengan baik
Selasa, 19 November 2013
Menghimpun pemikiran yang terserak
*tulisan adalah kata pengantar yang dibuat untuk buku Bunga Rampai Kedokteran Islam (original version)
Form Pemesanan buku
http://goo.gl/sMF1hF
Lebih dari setahun yang lalu
kami memulai suatu kebiasaan yang kami anggap baik yaitu mengumpulkan tulisan.
Melalui berbagai cara, sekian tulisan yang terserak hasil karya para dokter
muslim berhasil dikumpulkan. Kisah para dokter selalu menarik untuk diceritakan
mulai dari kisah klasik seperti The
Doctor karya novelis Eric Segal sampai Team
Medical Dragon karya mangaka Akira Nagai dan Taro Nogizaka. Muslim yang
menggunakan kacamata Islam dalam kehidupannya sebagai dokter tentu memiliki aroma
khas yang terasa dalam tulisan-tulisan ini.
Form Pemesanan buku
http://goo.gl/sMF1hF
![]() |
| Harga Rp.50.000 belum termasuk ongkos kirim |
Bukan kebetulan pula bila
sebagian besar dari kami berasal dari satu almamater yang suatu ketika pernah
memiliki suatu momen bersama namun saat ini terpencar di setiap penjuru mata
angin dan dalam dimensi kehidupan yang berbeda menjalani takdirnya
masing-masing. Tulisan-tulisan ini mengungkap isi fikir kami sebagai muslim dan
dokter sekaligus. Buku ini memberikan kami kesempatan untuk melakukan reuni,
suatu reuni pemikiran dalam kedokteran Islam.
Ruas pertama dalam buku ini
bercerita tentang dilema, mimpi dan harapan. Melalui bagian ini kami bercermin
dan melihat kembali apakah jalan yang kami tempuh saat ini memang jalan yang
layak untuk seorang muslim. Dari laboratorium ke meja operasi dan dari ruang
praktek ke dalam benak serta relung jiwa pasien. Ruas ini kami akhiri dengan
doa lulusan dokter yang merangkum dan menggenggam.
Ruas kedua kami isi dengan
tulisan yang memberi tuntunan untuk pelbagai masalah seperti problem rokok dan
shaum Ramadhan. Kami juga menggali makna dari ilmu dan pengalaman yang tidak
jarang mendorong proses deep thinking.
Beberapa tulisan disajikan dalam bentuk hasil kunyahan atas ilmu yang tidak
setiap orang mampu menimbanya. Pada ruas ketiga kami berusaha mendefinisikan
kedokteran islam secara formal. Bagian ini adalah hasil pemikiran mengenai beberapa aspek dalam kedokteran islam
seperti tinjauan historis, pelayanan kesehatan, pengobatan ala nabi serta peran
ulama. Kami mengikutsertakan guru kami Ust. Ahmad Sarwat, Lc. dan dr Siti
Aisyah Ismail untuk memperkaya bagian ini.
Terakhir, seperti juga
kehidupan, dunia kami diwarnai perdebatan. Kedokteran Islam difahami oleh
banyak kepala dengan beragam pemikiran beserta cabang-cabang pandangannya. Ruas
ini menjadi fokus keprihatinan kami karena muslim tidak saja telah memahami
tapi juga melaksanakan dan menyebarluaskan kebodohan yang dibalut semangat
dakwah dan jihad. Sedemikian hingga kami melihat fenomena eropa di abad
kegelapan terjadi pada sebagian kecil komunitas muslim di abad kebangkitan
Islam namun dengan konsekuensi yang dapat
melumpuhkan generasi muslim.
Buku ini berusaha merangkum
pemikiran yang terserak membentuk mozaik, aroma dan bunga rampai mengenai
muslim, dokter dan kedokteran Islam. Satu hal yang kami sadari, kedokteran
Islam, sebelum hal lainnya, adalah seorang dokter yang menggunakan Islam untuk
memandang kehidupannya. Buku ini berharap menjadi bagian dari upaya membangun
budaya belajar dan menulis, kultur rasionalitas ilmu dan intuisi kalbu,
peradaban hati dan akal serta menjadi bagian dari arus kebangkitan Islam.
Selasa, 11 Juni 2013
Peranku bagi Indonesia
*essay untuk aplikasi beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)
Sebagai dosen dan
peneliti khususnya di fakultas kedokteran saya ingin berkontribusi setidaknya
dalam dua bidang. Pertama sebagai pendidik di lingkungan fakultas kedokteran
saya ingin menularkan semangat dan kultur riset pada calon dokter Indonesia.
Dokter dengan semangat dan kemampuan yang mumpuni di bidang riset akan selalu
membawa kemajuan pada kedokteran atau kesehatan apapun bidang yang diampunya
kelak. Dokter yang selalu berhati-hati, cermat, pantang menyerah, mudah
berkolaborasi, mampu menulis tentu akan memberikan manfaat yang besar pada
kemajuan dunia kedokteran dan kesehatan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Dokter Indonesia
yang terbiasa melakukan penelitian akan cenderung berhati-hati ketika
menghadapi masalah dan tidak kehilangan akal ketika dihadapkan pada
keterbatasan alat dan fasilitas. Sebagai contoh dokter yang bertugas di daerah
terpencil dapat memperbaiki generator berbasis panel sel surya yang telah lama
terbengkalai karena mampu memahami buku manual. Perbaikan generator tersebut
memungkinkan penyimpanan stok vaksin untuk program imunisasi.
Penelitian selalu
mendorong kolaborasi hingga seorang dokter dapat berkomunikasi secara setara
dengan koleganya serta memaklumi bahwa sebagai manusia memiliki keterbatasan
ilmu. Kemampuan menulis, mengutarakan ide dan melaporkan temuan sangat
diperlukan oleh dokter agar kolega dan masyarakat luas dapat mengikuti
perkembangan Ilmu kedokteran dengan baik. Sebagai contoh sistem rujukan hanya
dapat berjalan bila spirit kolaborasi dan kerendahan hati dimiliki oleh setiap
dokter. Tidak akan terdengar cerita dokter yang “memelihara pasien” atau pasien
yang berobat langsung ke layanan spesialistik, karena ketika seorang dokter
merasa tidak memiliki cukup ilmu untuk menangani pasien ia akan merujuk atau
berkonsultasi dengan koleganya. Sementara di pihak lain seorang dokter layanan
spesialistik juga tidak akan serta merta menerima pasien tanpa rujukan yang sesuai
dengan bidang ilmu spesialistik yang dikuasainya.
Dokter yang
memahami kultur riset cenderung rasional dan lebih mempercayai data dan fakta
serta tidak silau dengan iming-iming keuntungan duniawi. Kemampuan membuat
proposal riset, melaksanakan, melaporkan dan membuat publikasi riset adalah
satu set keahlian yang memungkinkan seorang dokter menjadi pembelajar seumur
hidup. Sebagai contoh adalah maraknya pseudoscience
yang beredar mulai dari terapi batu giok hingga terapi yang bersifat
supranatural. Dokter akan mudah memisahkan terapi rasional dengan terapi
abal-abal hingga dapat memberikan saran dan edukasi yang terbaik untuk
masyarakat umum
Hal kedua yang
ingin saya berikan adalah kontribusi di bidang kedokteran regeneratif di
Indonesia. Kedokteran regeneratif meliputi bidang rekayasa jaringan, sel punca,
dan biomaterial. Meski Indonesia masih tergolong negara berkembang dan
prioritas riset masih terfokus pada penyakit infeksi menular namun bidang
kedokteran regeneratif adalah masa depan yang harus dirintis sejak sekarang.
Riset dan aplikasi terapi regeneratif akan mendorong industri farmasi
meninggalkan tekhnologi konvensional dan beralih pada bioteknologi dengan
produk berupa biofarmaka.
Rekayasa jaringan
mencakup penggantian jaringan atau bahkan organ tubuh yang rusak dengan
jaringan/organ yang dikembangkan di dalam laboratorium. Hal ini menjadi
alternatif untuk memenuhi demand
transplantasi organ yang selalu lebih besar dari supply. Sebagai contoh penyakit diabetes akibat produksi insulin
yang kurang, suatu saat alih-alih melakukan injeksi insulin secara rutin pasien
dapat mendapat transplantasi pankreas dengan kemampuan produksi insulin yang
normal.
Bidang sel punca
saat ini sudah sampai pada tahap produksi sel yang mampu berdiferensiasi
menjadi hampir seluruh jenis yang ada dalam tubuh menggunakan sel pasien
sendiri. Fibroblas dan keratinosit yang didapat dari kulit dapat di induksi
tanpa menggunakan perantara virus menjadi sel iPSc (Induced pluripotent stem cells) suatu sel yang mampu
berdiferensiasi menjadi sel dari ketiga lapisan germinal ectoderm, mesoderm dan
endoderm.
Bidang
biomaterial melengkapi rekayasa jaringan dengan menyediakan rangka atau
scaffold tempat sel tumbuh dan
berkembang membentuk struktur 3 dimensi. Material biologis yang digunakan
seringkali berasal dari kekayaan hayati yang banyak dimiliki Indonesia. Sebagai
contoh adalah chitosan yang berasal dari hewan laut dapat dikombinasikan dengan
kolagen membentuk rangka untuk tempat tumbuh fibroblast. Keratinosit yang
ditanam diatas struktur ini akan menghasilkan suatu produk kulit buatan atau Bioengineered Skin yang dapat digunakan
untuk terapi luka bakar atau ulkus diabetes.
Akhir kata, peran
saya untuk Indonesia adalah menularkan semangat ilmiah dan kultur riset pada
dokter Indonesia sehingga terbentuk dokter yang cerdas, cermat dan rendah hati
dan seorang pembelajar seumur hidup untuk menyehatkan masyarakat luas. Peran
saya berikutnya adalah membangun bidang kedokteran regeneratif yang mendorong
revolusi industri farmasi, bioteknologi dan pemanfaatan kekayaan sumber daya
hayati menjadi salah satu kompetensi strategis bangsa Indonesia diantara
bangsa-bangsa lain.
Sukses terbesar dalam hidupku
*essay yang dibuat untuk aplikasi beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)
Kesuksesan
umumnya terkait prestasi, jadi kalau melihat resume pribadiku yang tidak
mencantumkan prestasi apapun, wajar bila pertanyaan kesuksesan termasuk sulit
aku jawab. Orang tuaku akan mengatakan Indra sukses karena sudah berhasil
menjadi dokter. Tetangga dan keluarga besar akan mengatakan Indra sukses karena
masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat perkerjaan yang tetap. Mereka yang
menyertaiku sepanjang perjalanan hidup melihat apa yang kulalui ini adalah
sebuah kesuksesan, tapi aku sendiri yang menjalaninya melihat teman-teman
seangkatan yang lebih menonjol dengan beragam prestasinya, sementara Indra ini
biasa saja sebenarnya.
Sampai titik ini
dalam kehidupan aku merasa tidak memiliki prestasi yang menonjol seperti orang
lain yang menjadi juara lomba cabang olahraga tertentu, mendapat penghargaan
akademik, mendapat beasiswa, mendapat hadiah, bonus, pekerjaan bergaji tinggi
dan lain sebagainya. Dalam setiap kondisi aku selalu berusaha memberikan yang
terbaik dan hasilnya juga lumayan memuaskan aku dan orang lain seperti teman
dan atasan yang melihat hasil kerjaku. Untuk semua itu aku mendapatkan
penghargaan, respek, dan persahabatan, tapi tidak ada satupun yang bisa
kucantumkan dalam curriculum vitae
sebagai prestasi dan sebuah kesuksesan yang dapat dibanggakan.
Ini bukan berarti
aku mengeluhkan hidupku, hanya saja aku merasa heran sendiri dan terus berfikir
lebih dalam. Inspirasi itu hinggap di dalam kereta komuter yang kunaiki setiap hari.
Pada sore hari itu dalam perjalanan pulang melintasi stasiun Pasar Minggu aku
menyadari kesuksesan terbesar dalam hidupku hanya dengan merubah sudut pandang
sedikit. Untuk bisa memahaminya aku
perlu memberikan gambaran sekilas
perjalanan hidupku. Aku adalah anak kedua dari 2 bersaudara, menjalani masa
kecil di kota kecil yaitu Garut di
daerah Jawa Barat hingga memasuki usia SMP. Pendidikan menengah aku jalani di
salah satu SMU favorit di Bandung. Hidup sendiri, terpisah dari kakak dan
keluarga, hingga aku kuliah di PTN di Jakarta, menikah dan berkeluarga aku
tidak pernah lagi kembali ke rumah orang tua, kecuali dalam rangka liburan
tentunya.
Pada usia 16
tahun aku seperti burung yang telah pergi dari sarangnya, meninggalkan kedua
orang tua dan menjalani hidup hingga saat ini di usia 31 tahun. 15 tahun telah
berlalu dan banyak hal sudah terjadi dan disinilah aku merasakan sukses
terbesar dalam hidupku. Dalam tahun-tahun yang berlalu itu tanpa naungan orang
tua, ditengah masyarakat, mengatur hidupku secara mandiri, memilih teman
sendiri, dalam kebebasan yang sebebas-bebasnya aku berhasil menjadi dewasa,
meraih kematangan, kemandirian tanpa insiden apapun. Tanpa terjerat narkoba,
seks bebas, atau perbuatan kriminal lainnya.
Sukses terbesar
dalam hidupku adalah survive sebagai
orang biasa, baik, normal dan waras ditengah masyarakat yang semakin galau ini.
Itulah kesuksesan yang paling aku syukuri, berapa banyak sudah kesempatan
menjadi ‘rusak’ yang aku lewati dengan disadari ataupun tanpa kusadari. Kesuksesan
ini memberikan aku pijakan yang bersih, kokoh dan lapang untuk banyak berbuat,
memberi manfaat, berkarya, membangun dan memperbaiki tanpa dibebani penyesalan
dan hambatan dari masa lalu.
. Aku menyadari
kesuksesan ini bukan lah atas usaha dan kerja kerasku tapi buah dari do’a orang
tua dan rencana yang Allah swt rancang untuk diriku. Kesadaran itu terasa kuat
karena kesuksesan ini tidak bisa aku klaim sebagai hasil peluh sendiri tapi
bagian dari skenario besar untuk bangsa ini. Hari ini aku berada pada kondisi
yang siap siaga untuk berkontribusi dalam masyarakat adalah buah dari
kesuksesan tersebut. Aku meyakini bahwa aku adalah bagian dari perwujudan do’a
dan pengorbanan orang-orang ikhlas, pahlawan tanpa nama, dan orang-orang
terzalimi yang menginginkan bangsa ini unggul dan menjadi tauladan serta negara
ini mewujudkan nama yang sudah lama disematkan yaitu sepenggal firdaus di muka
bumi.
Sabtu, 05 Mei 2012
Africanis : A Dog Story
Salah satu Novel best seller internasional pertama yang saya baca adalah The Fourth Protocol oleh Frederick Forsyth, belakangan saya lihat juga sudah ada filmnya. Karakter utama novel ini adalah seorang agen MI5--ini adalah dinas intelijen Inggris yang bertugas di bidang kontraintelijen--saya sudah lupa namanya, tapi diakhir cerita koleganya dari dinas intelijen Afrika Selatan membandingkannya dengan anjing lokal Afrika Selatan yang dikenal saat ini sebagai Africanis.
Sejak lama saya merasa ada makna lebih yang dimaksudkan oleh penulis dengan menggunakan analogi africanis ini. Baru-baru ini saya tiba-tiba teringat kembali bagaimana Mr. Forsyth merangkai cerita dibalik hidup Jan Marais dan bagaimana perwira intelijen inggris kita mampu mengendus kebenaran dan membuktikannya. Saya teringat lagi akibat kemenangan kecil di laboratorium kemarin, keberhasilan yang sudah saya incar sejak setahun lalu. Hanya soal kesempatan, waktu, dan kesabaran.
Sejak lama saya merasa ada makna lebih yang dimaksudkan oleh penulis dengan menggunakan analogi africanis ini. Baru-baru ini saya tiba-tiba teringat kembali bagaimana Mr. Forsyth merangkai cerita dibalik hidup Jan Marais dan bagaimana perwira intelijen inggris kita mampu mengendus kebenaran dan membuktikannya. Saya teringat lagi akibat kemenangan kecil di laboratorium kemarin, keberhasilan yang sudah saya incar sejak setahun lalu. Hanya soal kesempatan, waktu, dan kesabaran.
Cerita dari NUS : Laboratorium In Vitro Elektrofisiologi
![]() |
| Patch Clamp Rig |
Kamis, 21 April 2011
Cerita dari Laboratorium kultur sel
Selama 7 bulan terakhir saya bekerja di dalam ruang steril bertekanan positif setiap hari.. dan ini adalah kisah yang dapat saya bagikan.
Awalnya adalah sebuat kehormatan untuk bekerja di bidang yang tidak pernah terbayangkan selama 6 tahun pendidikan kedokteran ( yah mungkin pernah sesekali waktu kecil ). Kultur sel adalah bidang yang baru bagi saya, satu-satunya skill yang telah saya miliki adalah perhatian terhadap tehnik aseptik dan antiseptik. tehnik ini memegang peran yang amat penting dan ditegakkan dengan disiplin tinggi secara berlebihan.
jangan salah, saya tidak bekeja di lembaga riset, meski .. ya riset adalah yang saya lakukan setiap hari tapi saya lebih suka dengan kosa kata "coba". Kami betugas mencoba..mencoba dan mencoba, untuk itu kami perlu membaca ( dalam jumlah besar) setelah itu mulai menghabiskan uang (karena ini bidang yang mahal) dan berharap mendapat hasil yang baik segera (karena terkait pasar)
Sel pertama yang menjadi objek percobaan saya adalah Keratinosit. khususnya basal keratinosit, saya menggunakan sampel foreskin yang banyak diproduksi di negri kita asal tahu kemana harus mencari ( makasi bang Mahdian! ). Saya ingat betapa gemetar tangan saya ketika untuk pertama kalinya menggunakan pipetor di dalam BSC ( Biological safety Cabinet). singkatnya ada terlalu banyak pengalaman pertama mulai dari menghitung pengenceran reagen dengan rumus C1*V1 = C2*V2, menggunakan inverted microscope, kamar hitung Nebauer, seeding.. dll. Sebut saja rupiah seharga laptop yang saya buang dalam proses learning by doing ini..untungnya bukan uang saya..
Senin, 11 Oktober 2010
Resep Selapis Keratinosit
| Reagen | Larutan alikuot | Konsentrasi tujuan | 50 ml | 100 ml |
| DMEM/F12 3:1 | 1x | 1x | Add 50 ml | Add 100ml |
| FBS ( di Inaktivasi) | 1x | 5% total | 2,5 ml | 5 ml |
| Hidrokortison | 50 ug/ml | 10 ug/ml | 10 ml | 20 ml |
| ITS | (1 mg/ml) | 10 ug/ ml | 0,5 ml | 1 ml |
| Amphotericin B | 250 ug/ml | 2,5 ug/ml | 0,5 ml | 1 ml |
| Pen-strep | 5000 U pen-5 mg strep /ml | 100 U P- 100 ug/ ml | 1 ml | 2 ml |
| L-glutamin | 200mM | 2 mM | 0,5 ml | 1 ml |
| EGF | 50 ug/ml | 10 ng/ml | 10 ul | 20 ul |
| KGF/FGF-7 | 500 ng/ml | 1 ng/ml | 100 ul | 200 ul |
| BPE | 1 mg/ml | 60 ug/ml | 3 ml | |
Langganan:
Postingan (Atom)



