Sabtu, 15 Oktober 2016

Connexin, Lem Umat Islam

Hari-hari ini adalah harinya grup whatsapp, begitu juga tulisan ini, idenya hinggap saat menyimak saut-sautan dalam sebuah grup whatsapp. Berbeda dengan grup-grup lainnya, grup yang satu ini seringkali “go deep” . Saya beri satu contoh yaitu polemik gubernur jakarta saat ini pak Basuki atau yang lebih diakrabi dengan nama Ahok. Saat polemik Ahok memuncak grup ini masuk dalam bahasan sinergi antar komponen dan orkestrasi respon yang adekuat, terukur, dan permanen.

Membicarakan sinergi antar komponen dalam tubuh umat islam dan upaya orkestrasi respon umat islam tentu bukan hal sederhana. Komunikasi, koordinasi, antar pemimpin, antar juru bicara, dan antara akar rumput secara vertikal dan horizontal adalah hal-hal krusial kalau mau bicara sinergi dan orkestrasi. Nah ! ketika memikirkan hal ini, saya teringat satu protein yang dulu pernah saya pelajari, namanya Connexin.
Long story short, connexin seperti yang dapat dibayangkan dari namanya “to connect” berperan dalam komunikasi antar sel jantung. Jantung bergerak secara ritmis, dengan koordinasi yang ciamik antar bagian-bagiannya sehingga mampu memompa darah keseluruh tubuh. Terkadang, karena sesuatu hal koordinasinya kacau, empunya jantung bisa megap-megap kebiruan, apalagi kalau ada salah satu bagian yang ngambek gara-gara tidak mendapat suplai makanan dan oksigen via pembuluh darah karena ada sumbatan.
Beberapa connexin membentuk connexon yang terletak pada dua sel otot jantung yang bersebelahan, dia menghubungkan sitoplasma kedua sel secara langsung, sehingga setiap perubahan kondisi ionik pada sitoplasma sel yang satu akan segera mempengaruhi kondisi ion-ion pada sitoplasma sel sebelahnya. Hal ini memungkinkan koordinasi seketika antar sel otot jantung. Jadi, ketika pandangan mata kepala saya angkat dan melihat pelbagai macam organ dan kelompok dalam tubuh umat islam, saya bertanya siapakah connexin dalam tubuh umat islam saat ini? siapakah yang memungkinkan koordinasi seketika antar komponen umat islam sehingga betul-betul ia bertindak bagai satu tubuh ?
Harus ada individu umat islam, yang tidak dapat berkelompok karena orbit edarnya berbeda-beda, namun memiliki kesadaran yang sama untuk berperan sebagai lem untuk umat islam. Lem yang merekatkan antar organ, antar kelompok, antar unit sekaligus memfasilitasi komunikasi dan koordinasi diantara organ, kelompok dan unit ini. Individu-individu lem ini bekerja secara mandiri, terpisah-pisah, tidak saling mengenal, namun memiliki kemampuan deteksi yang serupa sehingga mampu (1) menangkap sinyal komunikasi, (2) melakukan interpretasi pesan dan situasi yang berkembang serta (3) menyusun rencana aksi yang personalized untuk situasi dan kondisi khas lingkungan sosial yang melingkupinya dirinya sendiri.
Hal ini berarti individu lem kita di produksi atau di kader oleh satu kurikulum dengan pabrikan yang sama, namun, memiliki kemampuan beroperasi secara mandiri dan otonom. Meski demikian untuk menjamin keseragaman pesan, tetap diperlukan suatu sistem sentralisasi yang “over the air” dan ini sudah tersedia, dalam pandangan saya yaitu via grup whatsapp atau sepupunya yang lain. Sudah pasti individu kita ini bukanlah aktor utama pemimpin umat atau juru bicara organisasi, bukan pula da’i kondang atau wakil rakyat serta selebriti dalam skala dan bentuk apapun. Lem umat islam ini tiada lain adalah sekadar seorang al-akh yang dalam istilah biologi bisa dianggap telah teraktivasi atau seorang activated al-akh (aa akhi)
Lalu bagaimana aa akhi kita beroperasi? seperti connexin, dia bertujuan memungkinkan proses koordinasi seketika. Pertama dia menerima informasi dari sentral grup lalu menyebarkan informasi yang tervalidasi keseluruh wilayah operasinya dan bila memungkinkan memberikan saran aksi atau membuat rencana aksi yang senada dengan organ dan komponen umat lainnya. Sehingga target minimal aa akhi kita adalah sosialisasi informasi, kemudian baru koordinasi aksi dan terakhir orkestrasi respon sebagai bentuk paling optimal.
Sistem ini memiliki kelemahan utama yaitu bila sentral informasi mengalami infiltrasi sehingga berpotensi digunakan untuk agenda-agenda disinformasi, agitasi dan provokasi, bila hal ini terjadi celaka dua belas kita semua. Menutupi kelemahan ini maka sentral informasi sebaiknya bukanlah sebuah command center melainkan discussion center dengan spektrum yang beragam agar setiap potensi disinformasi terungkap dan menjadi bahan pertimbangan. aa akhi kita sendiri haruslah seorang yang mampu berfikir mandiri dalam artian dia bukan seorang prajurit yang sekadar menerima komando, tapi lebih menyerupai perwira telik sandi yang baik dan cerdas. Seperti juga connexon yang dibentuk beberapa connexin, maka sepantasnya fungsi ini juga diperankan oleh beberapa aa akhi yang bekerjasama dan saling membantu.
Saya tidak yakin apakah celotehan ini berarti untuk anda, tapi, bagi penulis ide yang tumbuh membesar di dalam kepala harus dipindahkan segera dalam tulisan sebelum membuat isi kepala terasa sesak. demikian.
Sampai jumpa di kesempatan berikutnya

Selasa, 27 Oktober 2015

Bait Putus Asa

Ketika pemimpin adil dan bijaksana
Harapan timbul pada gurat wajah rakyat
Ketika pemimpin welas lagi asih
Cinta dan bakti mendorong segala upaya
Sesaat tambatan harapan tenggelam
Resah beriak dalam benak rakyat
Sesaat tambatan hati berpaling
Rakyat telanjang dalam kesendirian
Sengsara, merana, kalut dan menangis
Yang tersisa hanya keluh tiada habis
Yang terbit hanya cerca tiada guna
Lalu bertanya kapan kiamat tiba?
Bila semua sibuk melindungi diri
Bila semua sibuk melindungi hati
Tiada peduli nasib jutaan
Atau ratusan yang kehilangan harapan
Tiada guna bait berbait dijalin
Tiada guna usaha dan upaya
Hanya waktu yang memutus segalanya
Mari duduk bermanis dalam putus asa

Rabu, 15 Juli 2015

Foreskin-derived skin equivalent in exchange for animal testing*

* dibuat sebagai essay persyaratan mengikuti seleksi Novartis International Biocamp 2015

The European union completely ban the use of animal testing for cosmetics development in 2013. The ban was a critical milestones in the effort to phase out experimentation using animals. The medical research community were currently guided by principles that whenever possible, to replace animal with other reliable methods, reduce the number of animal and refine the techniques used to minimize potential pain and distress and promote animal welfare. These trends leads to the development of alternatives to animal testing. One such alternatives is the use of cell culture and tissue engineering.
                The Fraunhofer institute in 2010 launch the “skin from factory” project that essentially produced skin equivalents in a fully automated process. The institute recognized that skin equivalents as in vitro test system for chemicals, cosmetics and drugs are rare. Production of an in vitro test system by manual cell culture and tissue engineering is time consuming and required specifically trained personnel. Most interesting was that the skin source for such system were foreskins which was an abundant by product/medical waste of compulsory practice of khitan in Indonesia.
                Rumah Sunatan a leading company focused in khitan services claimed to reach more than 15.000 patient a year. This is an untapped resource unique of Indonesia home to millions of observant Muslims. This point of view is, for sure, not without challenges. Among others is the ethical and religious issues that centered on the commercial use of human tissues. However research on the potential cultivation of foreskins could result benefit for many field such as stem cells, regenerative medicine, cell therapy, cryopreservation.
                Recently, the discovery of the non-tumorigenic multilineage-stress enduring cells (MUSE) from dermal fibroblast potentially resolve the concern on the use of iPS cells for therapy. Dermal fibroblast contains a pluripotent subpopulation of mesenchymal stem cells that evidently does not form tumour. This findings extends further the importance of foreskin as skin sample source in regenerative medicine. Cryopreservation of cells isolated from so many samples a year will also stimulate research in the field of cryobiology and bio banking.

                In conclusion, the production of foreskin-derived skin equivalent as an in vitro skin testing system on a large scale will largely reduce the demand on animal testing.  Indonesia has a unique potential to solve other problems in medical research. Communication with appropriate religious body and government agency should be commenced to resolve issues that aroused on the collection, cultivation and storage of foreskins for medical research.

Sabtu, 09 Mei 2015

Barisan Kebaikan Memberikan Harapan




Dimanapun dalam ruang-ruang kehidupan kebaikan akan selalu berhadapan dengan kebatilan. Anasir kebaikan seringkali harus berhadapan dengan kebatilan yang telah berurat akar. Menghadapi kebatilan yang terstruktur maka harus dibentuk barisan yang berisi anasir-anasir kebaikan. Kesatuan prinsip, kesamaan cara pandang, serta semangat beramal didalam barisan tersebut adalah berkah luar biasa yang sering tidak kita sadari. Upaya mempertahankan kerapihan dan keutuhan barisan yang kompak lebih utama daripada tugas penyerangan atau target kemenangan.

Barisan yang kokoh dapat menjadi jangkar untuk kebaikan, kibaran bendera yang menandai titik kumpul orang-orang beriman, serta tempat menumpahkan keikhlasan amal dan air mata ukhuwah. Barisan yang kompak berkesempatan memperluas ruang-ruang kebaikan, mengirim dutanya membawa cahaya menerangi relung gelap kebatilan, hingga tampak jelas dibawah cahaya matahari perbedaan antara yang haq dan yang batil.

Cita-cita kita letakkan setinggi langit, hasil usaha kita serahkan pada sang pemilik takdir, tugas kita hanya berusaha semampu dan sebaik yang dapat kita berikan. Meski demikian mempertahankan dinamika lebih utama dari pada menggapai cita-cita. Dinamika dan partisipasi niscaya akan membuka celah-celah kebaikan dan ruang-ruang amal sekalipun kecil dan sederhana. Fokus pada cita-cita tentu baik tapi membangun harapan untuk masa depan yang cerah lebih utama, karena kita bekerja dalam kerangka waktu yang lebih panjang dari pada usia pengabdian.

Harapan memungkinkan estafeta generasi untuk merealisasikan impian dan cita-cita di masa depan yang jauh. Prinsip dasar dari strategi nafas panjang adalah membangun harapan, mempertebal kesabaran, dan menghindari ketergesaan. Semangat membangun dan memperbaiki adalah modal utama, kesatuan kata dan perbuatan menjadi pegangan. Partisipasi dan keterlibatan akan membuat kita basah dan kotor, harus di sadari, ini bukan tempat orang suci..tapi ini adalah tempat orang yang hobi bertobat, orang yang jujur pada dirinya dan tidak takut mengakui kesalahan. Partisipasi memungkinkan kita memotret anatomi dajjal, merangkai patofisiologi kebatilan dan menemukan manajemen terapi terbaik untuk setiap kondisi

Barisan kebaikan ini menempatkan wewenang dan kekuasaan di tangan bukan di hatinya sehingga setiap prestasi dan wanprestasi tidaklah melekat pada dirinya, bila usaha maksimal telah di keluarkan. Barisan kebatilan menempatkan wewenang dan kekuasaan di hatinya sehingga secara alamiah menganggap setiap prestasi pastilah bersumber darinya sementara setiap wanprestasi akan ditolak, disembunyikan atau di carikan kambing hitamnya agar tidak mengotori jubah kekuasaan yang sedang dikenakan.

Untuk agenda perbaikan berikan usaha terbaik, tapi jangan serahkan leher kalian untuk memaksakan kemenangan kecil atau karena keputus-asaan. Kenalilah kapan saatnya untuk merunduk, mundur teratur, agar dapat mengangkat bendera di palagan berikutnya. Demi Sang pemilik takdir, pemimpin yang baik lebih berharga daripada tercapainya target-target, karena selama pemimpin tersebut ada harapan akan selalu menyertainya tapi bila target-target telah tercapai semua akan rusak kembali tanpa pemimpin yang baik. Karena itu selama masih ada orang-orang beriman yang bersedia mengotori dirinya dalam mengarungi rawa-rawa kepemimpinan, mereka niscaya berkata: Harapan itu masih ada !!

Jumat, 01 Mei 2015

Untuk para pemimpin yang berselancar diatas gelombang perubahan

Mengelola gelombang, mengendalikan ombak
Merangkai mimpi menuju pantai perbaikan
adalah pekerjaan para dai, hobi para mujahid
inilah agenda para ulama dan warisan para nabi

Keikhlasan bergerak, semangat melangkah,
keteraturan bekerja adalah sunnatullah perjuangan
begitu pula segala kendala, kesulitan dan himpitan

siapa yang tak ingin memberi bantuan untuk kebaikan?
siapa yang rela ketinggalan mendorong gerbong kemajuan?
Setiap niat mulia akan menghimpun pendukung kebajikan

Semoga Allah swt berikan barakah atas setiap peluh,
pahala untuk setiap penat serta kesehatan diatas yang lain
untuk para pemimpin yang bekerja dengan nafas panjang..
untuk para pemimpin yang berselancar diatas gelombang perubahan


Hail Caesar ! We who about to die, salute you

Senin, 12 Januari 2015

Membeli Rumah

Membeli rumah, apalagi rumah pertama, tentu satu hal yang mau tidak mau di alami setiap pasangan. Saya dan istri mengalaminya akhir tahun lalu. Pertama kami sangat berhutang pada blogger lain yang menuliskan pengalamannya dan sering kali menjadi acuan buat kami berdua. Tulisan ini juga bukan berarti kami pakar dalam hal ini dan dapat menjadi rujukan. Pertama kami mulai dengan mencari rumah dari iklan di internet, brosur, spanduk, pameran, setelah sekian lama mencari kami memutuskan untuk akhirnya mengunjungi beberapa lokasi perumahan, tepatnya 3 lokasi yang kami kunjungi.

Tempat pertama adalah perumahan muslim di daerah depok. Kami mengunjungi site pembangunan sambil menghitung waktu yang dibutuhkan dengan moda transportasi umum (kereta + ojek). Akses juga menjadi salah satu pertimbangan kami. Perumahan ini dilalui oleh angkot meski saat kami membuktikannya dalam setengah jam hanya 1 mobil yang lewat :) Harga rumah, model rumah dan pertimbangan lainnya langsung terbang melayang dan kami pulang hampir-hampir kapok.

Saat ini rumah yang kami beli dan sedang kami cicil saat ini justru berada di perumahan tersebut. Aneh sekali bukan? cerita saya pada akhirnya akan sampai kesana tapi saya gatal ingin menekankan poin ini bahwa membeli rumah itu memang "jodoh-jodohan"

Meneruskan cerita, pada kesempatan berikutnya kami mendatangi perumahan kedua di daerah bogor sekitar stasiun cilebut. Oya, kami mencari rumah yang dapat diakses dari stasiun kereta, itu berarti pencarian kami dilakukan sepanjang jalur depok-bogor. Perumahan ini kecil dengan akses yang cukup memadai, harga terjangkau kantong, akan tetapi yang menjadi ganjalan adalah skema diskon uang muka yang cukup besar. Kami saat itu berusaha memahami prosedur perbankan dan aturan hukum yang berlaku dan sepanjang pengetahuan kami modus diskon uang muka ini agak sulit dipercaya. Saya tidak jelaskan detail, pada intinya kami menemukan distrust terhadap pengembang perumahan ini. Marketing yang menawarkan perumahan ini juga tidak berasal dari perusahaan yang sama dengan pengembang menambah distrust lebih dalam lagi.

Perumahan ketiga masih di jalur depok-bogor kami dapatkan dari pameran di  jakarta. Kami mengunjungi site tersebut pada hari yang sama setelah dari pameran. Hal ini membuktikan aksesnya yang memadai, harga yang terjangkau bahkan kami berfikir untuk ambil 2 sekaligus. Kami sudah membayar booking untuk dua rumah sekaligus. Intinya kesan kami sangat baik untuk perumahan ini dan juga ternyata tidak jauh dari perumahan kakak kami yang memang dari pengembang yang sama. satu hal yang mengganjal adalah adanya SUTET yang melintasi perumahan ini. Akhirnya kami membatalkan untuk membeli perumahan ini.

Setelah itu kami meluaskan pencarian termasuk rumah-rumah second. Satu rumah saat itu menjadi incaran kami, karena lokasinya yang sangat dekat dan sangat strategis, cocok sekali untuk usaha meski tidak terlalu luas. Kendalanya adalah status tanah tersebut yang meski sudah SHM namum dulunya adalah tanah kategori fasum/fasos dan saat itu disekitar rumah tersebut pemerintah sedang membangun taman-taman kota. Hal ini menjadi kekhawatiran, masa iya baru punya rumah nanti langsung digusur pemda.

Saya kemudian mendatangi tata kota dan dinas pertamanan yang hasil akhirnya adalah tidak ada jaminan tanah tersebut tidak dimasukkan dalam proyek pemda karena mereka sendiri mengetahui lokasinya yang sebelumnya adalah tanah fasos/fasum. Enggan berurusan dengan pemda kalau nanti perlu legal action maka kami pun mundur.

Nah, setelah saat itu kami pun menurunkan ekspektasi dan mencari kontrakan saja, saat itu niat kami sudah bulat untuk pindah dari rumah yang sekarang kami tumpangi. Alhamdulillah dapat rumah yang cocok dekat sekolah anak-anak dan cukup luas dengan harga yang terjangkau. Uang muka dibayarkan dan kami sudah mengumumkan untuk pindah rumah akhir tahun ini.

Bersambung

Sabtu, 02 Agustus 2014

Koleksi Pilpres 2014

Pemilihan Presiden tahun 2014 ini memang istimewa, seru, jadi sumber pertengkaran, perseteruan, ajang olok-olok dan tentunya sumber inspirasi yang kaya

berikut adalah kalimat-kalimat yang saya keluarkan akibat situasi yang terjadi pada pilpres apa adanya sebagai pengingat untuk diri saya pribadi,

Pada musim kampanye saya tidak banyak memperhatikan karena bulan itu saya dalam perjalanan di eropa. perlu di perhatikan bahwa saya adalah pendukung No.1 :)
Berikut yang pertama: Tribute buat pak Prabowo

Merenungi sosok Prabowo Subianto saya teringat The Riddle of Strider, bagi para penggemar J.R.R. Tolkien, fans LOTR dan sejarah Midlle Earth khususnya mengenai Dunedain of The North tentu sudah familier dengan puisi ini

All that is gold does not glitter

Not all those who wander are lost

The old that is strong does not wither
Deep roots are not reached by the frost


From the ashes a fire shall be woken

A light from the shadows shall spring

Renewed shall be blade that was broken
The crownless again shall be king.

Next kalimat untuk para saksi yang bekerja keras:

Ditengah kabut asap perang psikologis, 
kebenaran bergantung di ujung tanduk 
lengah sekejap rakyat banyak menangis
dan negara hancur remuk

para saksi lah yang kini berdiri di garis terdepan, 

ketajaman mata mereka yang membedakan

haq dan batil terpaut segaris tipis sahaja
mari doakan mereka, para saksi di medan laga


ketika hasil pemilu sudah keluar tanda-tandanya, saya mengarahkan tudingan pada kaum golput:

they put the nation in waiting

they put the people in uncertainty

they put us all in the brink of social unrest

and to put salt on a wound
they feel happy and very much relax on the condition

Terakhir mengenai sportifitas dan legowo yang tiba-tiba jadi trending topic

Sportifitas, sikap gentleman atau legowo adalah ilusi, tabir asap yg diciptakan oleh kaum penindas untuk membungkam protes...
Sportifitas sejati hanya muncul diatas penghormatan thd kebenaran dalam pertarungan yg adil
Sikap legowo demi persatuan dan perdamaian hanyalah kosmetika publik untuk menutupi wajah buruk kezaliman
Pejuang sejati mengenali dan mengagumi kekalahan mutlak akibat tipu daya dalam peperangan
Tapi berdiam diri atas kekalahan serupa diluar medan tempur adalah absurd, tanda kelemahan dan jiwa yg terbelenggu..singkatnya mental Inlander !

Europe Trip : Paris

Bulan lalu akhirnya saya menjejakan kaki di Eropa..Benua biru..

Saya dan dua orang rekan berkesempatan mengikuti training di Jerman. Topik trainingnya penting, tapi bukan maksud saya menceritakannya dalam tulisan ini

saya ingin membagi kesan saya dalam perjalanan ini. Eropa bukan benua yang asing lagi sebenarnya, sudah banyak yang mengisahkannya bahkan membuatnya jadi film. Orang bilang perjalanan akan membuka mata kita, entahlah tapi apa yang saya lihat ternyata menjadi konfirmasi apa yang selama ini saya fikirkan ( the sceptic in me)

Paris, Ibukota eropa adalah kota pertama yang kami kunjungi, transit satu hari sebelum menjadi tujuan akhir kami Koln di jerman. Salah satu minat saya dalam perjalanan adalah melihat kehidupan keseharian warganya, jadi saya selalu memilih menggunakan tranportasi publik, seperti metro dan subway. Saya juga sebisa mungkin menghindari area turis yang terlalu ramai. Passion saya sebenarnya pada kultur dan sejarah suatu tempat.

Hei !, tapi siapa yang bisa menolak mengunjungi Eiffel ketika sampai di Paris, jadi sebagai kompromi saya mengatur 2 site yang kami kunjungi yaitu Eiffel dan Louvre. Kami sampai ke Louvre meski hanya sampai halamannya saja, simply no idea how to get inside LOL. Di kejauhan kami melihat Eiffel, jadi setelah makan dan uang secukupnya kami kembali ke bawah tanah, figure out which metro to take :)

Eiffel turn out berupa stuktur metal kelabu yang mulai nampak lusuh dan muram, mungkin karena usia, cuaca atau beratnya menjadi saksi bagi warga Paris dan dunia yang mengunjunginya (its summer for heaven sake).
Kami akhirnya mengaso di tepian air sungai Seine, fikiranku melayang ke kisah-kisah dalam tetralogi Emperor-nya Conn Iggulden, betapa perjuangan bangsa Romawi membawa peradaban dan jaringan jalannya ke wilayah Gaul.

Di Paris kami melihat, kaki lima, calo, pengemis, gelandangan, metro yang bau pesing, tapi kami juga melihat gabled house yang cantik, bangunan-bangunan megah, dan patung-patung. Berbagai macam ras, dan suku bangsa menghuni kota ini, memang luar biasa. Sisa hari itu kami habiskan untuk memulihkan tubuh dari jet lag.

Di akhir rangkaian perjalanan sebelum kembali ke jakarta, kami sempat ke Paris lagi dan kembali ke Louvre, kami memutuskan untuk berjalan sepanjang taman dan menyaksikan bagaimana cahaya matahari begitu dihargai di eropa :) dan mengakhiri trip eropa kami dengan tidur siang dibawah naungan pepohonan di taman yang menghadap bundaran dengan Obelisk di tengahnya

Jumat, 25 April 2014

Geraniin supplementation increases human keratinocyte proliferation in serum-free culture

Indra Kusuma1 and Restu Syamsul Hadi2
1Physiology Department, Faculty of Medicine, YARSI University 2Anatomy Department, Faculty of Medicine, YARSI University
Abstract 
Background
Various products used in cellular therapy utilize tissue culture techniques requiring keratinocyte culture. An efficient and clinically acceptable  keratinocyte culture system requires supplements with mitogenic activity. Geraniin is a phytochemical with the potential as a supplement for expansion culture of keratinocytes. The objective of the present study was to verify the mitogenic activity of geraniin on human keratinocytes.
Methods
This was an experimental study using two samples of human foreskin  obtained by circumcision  of a male child. Epidermal keratinocytes were isolated from the foreskin samples and cultured with the addition of epidermal growth factor and bovine pitutary extract. The keratinocytes were divided into paired groups, comprising intervention and control groups.  The intervention groups were cultured with geraniin supplementation, whereas the control groups were cultured with standard supplements, without the addition of geraniin. Mitochondrial activity of the cells was evaluated by means of the MTT proliferation assay. Absorbance values in each of the groups was measured at 450 nm. Data analysis was performed with the  paired t-test.
Results
Geraniin supplementation significantly increased the keratinocyte proliferation rates at dosages of  0.8 to 3.1 µM. An increase of 57% in the proliferation rate was obtained at a dosage of 1.6 µM, while at a dosage of 12.5 µM toxic effects were starting to appear. Geraniin presumably causes increased cellular energy status, resulting in increased proliferation rates.
Conclusion
The findings in this study provide evidence in support of the utilization of geraniin as a supplement for expansion culture of keratinocytes. Further studies may presumably identify the molecules acting as geraniin receptors and the intracellular mechanisms underlying the increase in proliferation rates.
Key words: Keratinocyte, geraniin, foreskin, proliferation

Keratinocytes, Cobble-stone Appearance >90% Confluence


Rabu, 27 November 2013

Surat Terbuka PROKAMI untuk Indonesia (original version)

*orginal version dari Press Release IMANI-PROKAMI terkait demonstrasi dokter 27 November 2013.
as per req. dr Achmad Zaki M.Epid. SpOT disusun selasa 26 November 2013 diatas commuter line Bogor-Jakarta en route ke stasiun cikini, ketikan awal disusun di Microsoft One Note Nokia Lumia. Sumber referensi: Risalah Pergerakan (Hassal Al Banna), Wajah Dokter Indonesia ( {Prof.Sjamsuridzal Djauzi)


Assalamualaikum wr wb

Ba'da tahmid dan shalawat, mencermati kegaduhan di ruang-ruang komunikasi seputar kasus hukum yang dialami sejawat peserta pendidikan program dokter spesialis kebidanan dan kandungan di manado, serta menangkap kegelisahan sejawat dokter dan kegundahan tenaga kesehatan lainnya. PROKAMI sebagai stakeholder kesehatan di negeri ini menyampaikan seruan pada bangsa Indonesia...

1. Kepada saudara kami para dokter yang diikat oleh sumpah yang satu, suarakan aspirasi kalian besok sebagai hak setiap warga negara. Ingatlah bahwa Allah swt yang menyembuhkan penyakit bukan kalian, simpan keraguan dan tutup kebimbangan, pengabdian kita tidak sepatutnya menghilangkan keadilan.

2. Kepada sejawat tenaga kesehatan, perawat, bidan, analis, radiografer, fisioterapis dan lainnya kita adalah keluarga. Mari lupakan sejenak perselisihan, ini adalah momentum evaluasi, konsolidasi, reposisi dan reorganisasi. Ambilah pelajaran dan antisipasi karena sejarah akan berulang

3. Kepada industri farmasi, pejabat kesehatan, pemimpin profesi, civitas akademika, pemilik modal bangunlah! Kita beredar dalam orbit yang sama, ada fundamental yang salah dengan sistem kesehatan di negeri ini. Mari kita manfaatkan momentum ini untuk formulasikan sistem yang harmoni, seimbang dan berkeadilan.

4. Kepada rakyat, kami adalah kalian, hubungan kita bukanlah produsen dan konsumen, bukan provider dan klien, bukan pula keluarga atau saudara melainkan kita adalah sahabat. Setelah segala yang terjadi kami tetap teguh dengan jabat persahabatan, semoga Allah swt meringankan beban kalian dengan kesehatan. Seperti semua sahabat, kami hanya menyatakan apa adanya, tidak lebih.

Demikian, untuk negeri ini dan masa depan umat Islam


Wassalamualaikum wr wb.

Minggu, 24 November 2013

Persepsi masyarakat terhadap Ilmu Pengetahuan

*Diolah dari Sergei Kapitza; Public perception of science and anti science: science and counter culture. World Confrence of Science Hungaria 1999 untuk tugas mata kuliah filsafat sains program doktor IPB

Pada zaman modern, Ilmu pengetahuan dasar dapat dipandang sebagai bagian dari kultur. Kontribusi Ilmu pengetahuan praktis dalam perkembangan industri dan ekonomi tidak dapat disangkal. Meski demikian interaksi Ilmu Pengetahuan dengan masyarakat, pendidikan dan kultur jauh lebih kompleks dan sering kali kontroversial. Ilmu Pengetahuan telah berkembang menjadi dalam skala global menembus batas-batas negara sementara kultur semakin erat dikaitkan dengan identitas bangsa dan bahasa serta tradisi lokal.

Ilmu pengetahuan berkembang  dalam bidang yang semakin lama semakin spesifik akan tetapi masyarakat menerima informasi ilmu pengetahuan melalui upaya multidisiplin, hal ini menyulitkan proses transfer informasi dan pemahaman oleh orang awam atau bahkan para pejabat pemerintahan. Hal ini menjadi sebab hilangnya kontak antara ilmu pengetahuan dengan masyarakat dan kebutuhan manusia dalam kehidupan

Bentuk perceraian antara  ilmu pengetahuan dan masyarakat dapat berupa 1) muncul kembalinya kepercayaan kuno yang bersifat supernatural. Di Indonesia hal ini dapat terlihat pada fenomena “Ponari”  dan  larisnya dukun menjelang tahun pemilu, keduanya mewakili kepercayaan terhadap kekuatan magis yang bertentangan dengan rasionalitas medis dan kalkulasi politik. 2) penolakan terhadap perkembangan-perkembangan modern seperti energi nuklir, rekayasa genetik yang semakin berkembang. Dalam banyak kejadian penolakan ini berupa rasa takut yang irrasional dan kurangnya pemahaman

Perkembangan tekhnologi yang pesat merubah perangkat keras masyarakat sedemikian cepat hingga perubahan perangkat lunak masyarakat selalu tertinggal dan orang-orang kemudian mundur dan berlindung pada ide-ide lama. Jurang pemisah yang semakin lebar ini mungkin adalah alasan penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan sikap anti-ilmu pengetahuan. Tren ini bahkan terlihat diantara para ilmuwan sendiri berupa hilangnya identitas, dan degradasi moral ilmuwan yang terperangkap dalam dunia yang semakin kompetitif.


Efek lebih signifikan kemudian terlihat pada hilangnya rasa percaya dan harapan, serta runtuhnya ide-ide yang selama ini memberi panduan dan tujuan. Penolakan terhadap rasio dan sikap positif adalah konstruk postmodernisme. Kondisi hilangnya arah dan tujuan serta rendahnya pemahaman dan pengertian terhadap ilmu pengetahuan menjerumuskan masyarakat pada sikap pro “natural” yang keliru. Maraknya riset herbal, anjuran back to nature, hidup sehat alami, “obat alami tanpa efek samping”, serta pengobatan ala nabi mudah-mudahan bukanlah bagian sikap anti-ilmu pengetahuan  melainkan murni aktivitas mencari ilmu pengetahuan sehingga sepatutnya berkembang secara terstruktur dan terarah seperti layaknya ilmu pengetahuan disusun, dikaji, dibuktikan dan diorganisasikan dengan baik

Selasa, 19 November 2013

Menghimpun pemikiran yang terserak

*tulisan adalah kata pengantar yang dibuat untuk buku Bunga Rampai Kedokteran Islam (original version)
 Form Pemesanan buku
 http://goo.gl/sMF1hF
Harga Rp.50.000 belum termasuk ongkos kirim

Lebih dari setahun yang lalu kami memulai suatu kebiasaan yang kami anggap baik yaitu mengumpulkan tulisan. Melalui berbagai cara, sekian tulisan yang terserak hasil karya para dokter muslim berhasil dikumpulkan. Kisah para dokter selalu menarik untuk diceritakan mulai dari kisah klasik seperti The Doctor karya novelis Eric Segal sampai Team Medical Dragon karya mangaka Akira Nagai dan Taro Nogizaka. Muslim yang menggunakan kacamata Islam dalam kehidupannya sebagai dokter tentu memiliki aroma khas yang terasa dalam tulisan-tulisan ini.

Bukan kebetulan pula bila sebagian besar dari kami berasal dari satu almamater yang suatu ketika pernah memiliki suatu momen bersama namun saat ini terpencar di setiap penjuru mata angin dan dalam dimensi kehidupan yang berbeda menjalani takdirnya masing-masing. Tulisan-tulisan ini mengungkap isi fikir kami sebagai muslim dan dokter sekaligus. Buku ini memberikan kami kesempatan untuk melakukan reuni, suatu reuni pemikiran dalam kedokteran Islam.

Ruas pertama dalam buku ini bercerita tentang dilema, mimpi dan harapan. Melalui bagian ini kami bercermin dan melihat kembali apakah jalan yang kami tempuh saat ini memang jalan yang layak untuk seorang muslim. Dari laboratorium ke meja operasi dan dari ruang praktek ke dalam benak serta relung jiwa pasien. Ruas ini kami akhiri dengan doa lulusan dokter yang merangkum dan menggenggam.

Ruas kedua kami isi dengan tulisan yang memberi tuntunan untuk pelbagai masalah seperti problem rokok dan shaum Ramadhan. Kami juga menggali makna dari ilmu dan pengalaman yang tidak jarang mendorong proses deep thinking. Beberapa tulisan disajikan dalam bentuk hasil kunyahan atas ilmu yang tidak setiap orang mampu menimbanya. Pada ruas ketiga kami berusaha mendefinisikan kedokteran islam secara formal. Bagian ini adalah hasil pemikiran  mengenai beberapa aspek dalam kedokteran islam seperti tinjauan historis, pelayanan kesehatan, pengobatan ala nabi serta peran ulama. Kami mengikutsertakan guru kami Ust. Ahmad Sarwat, Lc. dan dr Siti Aisyah Ismail untuk memperkaya bagian ini.

Terakhir, seperti juga kehidupan, dunia kami diwarnai perdebatan. Kedokteran Islam difahami oleh banyak kepala dengan beragam pemikiran beserta cabang-cabang pandangannya. Ruas ini menjadi fokus keprihatinan kami karena muslim tidak saja telah memahami tapi juga melaksanakan dan menyebarluaskan kebodohan yang dibalut semangat dakwah dan jihad. Sedemikian hingga kami melihat fenomena eropa di abad kegelapan terjadi pada sebagian kecil komunitas muslim di abad kebangkitan Islam namun dengan konsekuensi yang dapat  melumpuhkan generasi muslim.


Buku ini berusaha merangkum pemikiran yang terserak membentuk mozaik, aroma dan bunga rampai mengenai muslim, dokter dan kedokteran Islam. Satu hal yang kami sadari, kedokteran Islam, sebelum hal lainnya, adalah seorang dokter yang menggunakan Islam untuk memandang kehidupannya. Buku ini berharap menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar dan menulis, kultur rasionalitas ilmu dan intuisi kalbu, peradaban hati dan akal serta menjadi bagian dari arus kebangkitan Islam.

Selasa, 11 Juni 2013

Peranku bagi Indonesia

*essay untuk aplikasi beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)

Sebagai dosen dan peneliti khususnya di fakultas kedokteran saya ingin berkontribusi setidaknya dalam dua bidang. Pertama sebagai pendidik di lingkungan fakultas kedokteran saya ingin menularkan semangat dan kultur riset pada calon dokter Indonesia. Dokter dengan semangat dan kemampuan yang mumpuni di bidang riset akan selalu membawa kemajuan pada kedokteran atau kesehatan apapun bidang yang diampunya kelak. Dokter yang selalu berhati-hati, cermat, pantang menyerah, mudah berkolaborasi, mampu menulis tentu akan memberikan manfaat yang besar pada kemajuan dunia kedokteran dan kesehatan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Dokter Indonesia yang terbiasa melakukan penelitian akan cenderung berhati-hati ketika menghadapi masalah dan tidak kehilangan akal ketika dihadapkan pada keterbatasan alat dan fasilitas. Sebagai contoh dokter yang bertugas di daerah terpencil dapat memperbaiki generator berbasis panel sel surya yang telah lama terbengkalai karena mampu memahami buku manual. Perbaikan generator tersebut memungkinkan penyimpanan stok vaksin untuk program imunisasi.
Penelitian selalu mendorong kolaborasi hingga seorang dokter dapat berkomunikasi secara setara dengan koleganya serta memaklumi bahwa sebagai manusia memiliki keterbatasan ilmu. Kemampuan menulis, mengutarakan ide dan melaporkan temuan sangat diperlukan oleh dokter agar kolega dan masyarakat luas dapat mengikuti perkembangan Ilmu kedokteran dengan baik. Sebagai contoh sistem rujukan hanya dapat berjalan bila spirit kolaborasi dan kerendahan hati dimiliki oleh setiap dokter. Tidak akan terdengar cerita dokter yang “memelihara pasien” atau pasien yang berobat langsung ke layanan spesialistik, karena ketika seorang dokter merasa tidak memiliki cukup ilmu untuk menangani pasien ia akan merujuk atau berkonsultasi dengan koleganya. Sementara di pihak lain seorang dokter layanan spesialistik juga tidak akan serta merta menerima pasien tanpa rujukan yang sesuai dengan bidang ilmu spesialistik yang dikuasainya.
Dokter yang memahami kultur riset cenderung rasional dan lebih mempercayai data dan fakta serta tidak silau dengan iming-iming keuntungan duniawi. Kemampuan membuat proposal riset, melaksanakan, melaporkan dan membuat publikasi riset adalah satu set keahlian yang memungkinkan seorang dokter menjadi pembelajar seumur hidup. Sebagai contoh adalah maraknya pseudoscience yang beredar mulai dari terapi batu giok hingga terapi yang bersifat supranatural. Dokter akan mudah memisahkan terapi rasional dengan terapi abal-abal hingga dapat memberikan saran dan edukasi yang terbaik untuk masyarakat umum
Hal kedua yang ingin saya berikan adalah kontribusi di bidang kedokteran regeneratif di Indonesia. Kedokteran regeneratif meliputi bidang rekayasa jaringan, sel punca, dan biomaterial. Meski Indonesia masih tergolong negara berkembang dan prioritas riset masih terfokus pada penyakit infeksi menular namun bidang kedokteran regeneratif adalah masa depan yang harus dirintis sejak sekarang. Riset dan aplikasi terapi regeneratif akan mendorong industri farmasi meninggalkan tekhnologi konvensional dan beralih pada bioteknologi dengan produk berupa biofarmaka.
Rekayasa jaringan mencakup penggantian jaringan atau bahkan organ tubuh yang rusak dengan jaringan/organ yang dikembangkan di dalam laboratorium. Hal ini menjadi alternatif untuk memenuhi demand transplantasi organ yang selalu lebih besar dari supply. Sebagai contoh penyakit diabetes akibat produksi insulin yang kurang, suatu saat alih-alih melakukan injeksi insulin secara rutin pasien dapat mendapat transplantasi pankreas dengan kemampuan produksi insulin yang normal.
Bidang sel punca saat ini sudah sampai pada tahap produksi sel yang mampu berdiferensiasi menjadi hampir seluruh jenis yang ada dalam tubuh menggunakan sel pasien sendiri. Fibroblas dan keratinosit yang didapat dari kulit dapat di induksi tanpa menggunakan perantara virus menjadi sel iPSc (Induced pluripotent stem cells) suatu sel yang mampu berdiferensiasi menjadi sel dari ketiga lapisan germinal ectoderm, mesoderm dan endoderm.
Bidang biomaterial melengkapi rekayasa jaringan dengan menyediakan rangka atau scaffold  tempat sel tumbuh dan berkembang membentuk struktur 3 dimensi. Material biologis yang digunakan seringkali berasal dari kekayaan hayati yang banyak dimiliki Indonesia. Sebagai contoh adalah chitosan yang berasal dari hewan laut dapat dikombinasikan dengan kolagen membentuk rangka untuk tempat tumbuh fibroblast. Keratinosit yang ditanam diatas struktur ini akan menghasilkan suatu produk kulit buatan atau Bioengineered Skin yang dapat digunakan untuk terapi luka bakar atau ulkus diabetes.

Akhir kata, peran saya untuk Indonesia adalah menularkan semangat ilmiah dan kultur riset pada dokter Indonesia sehingga terbentuk dokter yang cerdas, cermat dan rendah hati dan seorang pembelajar seumur hidup untuk menyehatkan masyarakat luas. Peran saya berikutnya adalah membangun bidang kedokteran regeneratif yang mendorong revolusi industri farmasi, bioteknologi dan pemanfaatan kekayaan sumber daya hayati menjadi salah satu kompetensi strategis bangsa Indonesia diantara bangsa-bangsa lain.

Sukses terbesar dalam hidupku

*essay yang dibuat untuk aplikasi beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)

Kesuksesan umumnya terkait prestasi, jadi kalau melihat resume pribadiku yang tidak mencantumkan prestasi apapun, wajar bila pertanyaan kesuksesan termasuk sulit aku jawab. Orang tuaku akan mengatakan Indra sukses karena sudah berhasil menjadi dokter. Tetangga dan keluarga besar akan mengatakan Indra sukses karena masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat perkerjaan yang tetap. Mereka yang menyertaiku sepanjang perjalanan hidup melihat apa yang kulalui ini adalah sebuah kesuksesan, tapi aku sendiri yang menjalaninya melihat teman-teman seangkatan yang lebih menonjol dengan beragam prestasinya, sementara Indra ini biasa saja sebenarnya.
Sampai titik ini dalam kehidupan aku merasa tidak memiliki prestasi yang menonjol seperti orang lain yang menjadi juara lomba cabang olahraga tertentu, mendapat penghargaan akademik, mendapat beasiswa, mendapat hadiah, bonus, pekerjaan bergaji tinggi dan lain sebagainya. Dalam setiap kondisi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik dan hasilnya juga lumayan memuaskan aku dan orang lain seperti teman dan atasan yang melihat hasil kerjaku. Untuk semua itu aku mendapatkan penghargaan, respek, dan persahabatan, tapi tidak ada satupun yang bisa kucantumkan dalam curriculum vitae sebagai prestasi dan sebuah kesuksesan yang dapat dibanggakan.
Ini bukan berarti aku mengeluhkan hidupku, hanya saja aku merasa heran sendiri dan terus berfikir lebih dalam. Inspirasi itu hinggap di dalam kereta komuter yang kunaiki setiap hari. Pada sore hari itu dalam perjalanan pulang melintasi stasiun Pasar Minggu aku menyadari kesuksesan terbesar dalam hidupku hanya dengan merubah sudut pandang sedikit.  Untuk bisa memahaminya aku perlu memberikan  gambaran sekilas perjalanan hidupku. Aku adalah anak kedua dari 2 bersaudara, menjalani masa kecil di kota  kecil yaitu Garut di daerah Jawa Barat hingga memasuki usia SMP. Pendidikan menengah aku jalani di salah satu SMU favorit di Bandung. Hidup sendiri, terpisah dari kakak dan keluarga, hingga aku kuliah di PTN di Jakarta, menikah dan berkeluarga aku tidak pernah lagi kembali ke rumah orang tua, kecuali dalam rangka liburan tentunya.
Pada usia 16 tahun aku seperti burung yang telah pergi dari sarangnya, meninggalkan kedua orang tua dan menjalani hidup hingga saat ini di usia 31 tahun. 15 tahun telah berlalu dan banyak hal sudah terjadi dan disinilah aku merasakan sukses terbesar dalam hidupku. Dalam tahun-tahun yang berlalu itu tanpa naungan orang tua, ditengah masyarakat, mengatur hidupku secara mandiri, memilih teman sendiri, dalam kebebasan yang sebebas-bebasnya aku berhasil menjadi dewasa, meraih kematangan, kemandirian tanpa insiden apapun. Tanpa terjerat narkoba, seks bebas, atau perbuatan kriminal lainnya.
Sukses terbesar dalam hidupku adalah survive sebagai orang biasa, baik, normal dan waras ditengah masyarakat yang semakin galau ini. Itulah kesuksesan yang paling aku syukuri, berapa banyak sudah kesempatan menjadi ‘rusak’ yang aku lewati dengan disadari ataupun tanpa kusadari. Kesuksesan ini memberikan aku pijakan yang bersih, kokoh dan lapang untuk banyak berbuat, memberi manfaat, berkarya, membangun dan memperbaiki tanpa dibebani penyesalan dan hambatan dari masa lalu.

. Aku menyadari kesuksesan ini bukan lah atas usaha dan kerja kerasku tapi buah dari do’a orang tua dan rencana yang Allah swt rancang untuk diriku. Kesadaran itu terasa kuat karena kesuksesan ini tidak bisa aku klaim sebagai hasil peluh sendiri tapi bagian dari skenario besar untuk bangsa ini. Hari ini aku berada pada kondisi yang siap siaga untuk berkontribusi dalam masyarakat adalah buah dari kesuksesan tersebut. Aku meyakini bahwa aku adalah bagian dari perwujudan do’a dan pengorbanan orang-orang ikhlas, pahlawan tanpa nama, dan orang-orang terzalimi yang menginginkan bangsa ini unggul dan menjadi tauladan serta negara ini mewujudkan nama yang sudah lama disematkan yaitu sepenggal firdaus di muka bumi.

Sabtu, 05 Mei 2012

Africanis : A Dog Story

Salah satu Novel best seller internasional pertama yang saya baca adalah The Fourth Protocol oleh Frederick Forsyth, belakangan saya lihat juga sudah ada filmnya. Karakter utama novel ini adalah seorang agen MI5--ini adalah dinas intelijen Inggris yang bertugas di bidang kontraintelijen--saya sudah lupa namanya, tapi diakhir cerita koleganya dari dinas intelijen Afrika Selatan membandingkannya dengan anjing lokal Afrika Selatan yang dikenal saat ini sebagai Africanis.

Sejak lama saya merasa ada makna lebih yang dimaksudkan oleh penulis dengan menggunakan analogi africanis ini. Baru-baru ini saya tiba-tiba teringat kembali bagaimana Mr. Forsyth merangkai cerita dibalik hidup Jan Marais dan bagaimana perwira intelijen inggris kita mampu mengendus kebenaran dan membuktikannya. Saya teringat lagi akibat kemenangan kecil di laboratorium kemarin, keberhasilan yang sudah saya incar sejak setahun lalu. Hanya soal kesempatan, waktu, dan kesabaran.

Cerita dari NUS : Laboratorium In Vitro Elektrofisiologi

Patch Clamp Rig
Saya suka travelling, terutama yang mengandung unsur petualangan. Petualangan tidak berarti harus rimba dan gunung, tapi juga tempat asing seperti Singapura. Saya datang kesini untuk belajar, gratis, dimungkinkan atas nama solidaritas sesama kolega. Saya tidak akan menceritakan keajaiban singapura dengan "pristine district-nya", tapi saya akan sebut satu dua hal yang cukup membuat saya terheran.

Pertama adalah tombol untuk penyebrang jalan yang ada di tiang lampu lalu lintas, waktu kecil tentu kita pernah lihat juga di Jakarta, saya agak takjub aja di sini teryata berfungsi :) ironis ya...Kedua yang tak kalah ironis adalah jadwal bus dan papan nomor bus yang terpampang di halte, ini juga berfungsi dengan baik :)...bagi saya sisanya adalah cerita keseimbangan...modernitas dan keteraturan di satu sisi dan hilangnya budaya malu dan kehangatan.

Kamis, 21 April 2011

Cerita dari Laboratorium kultur sel


Selama 7 bulan terakhir saya bekerja di dalam ruang steril bertekanan positif setiap hari.. dan ini adalah kisah yang dapat saya bagikan.
Awalnya adalah sebuat kehormatan untuk bekerja di bidang yang tidak pernah terbayangkan selama 6 tahun pendidikan kedokteran ( yah mungkin pernah sesekali waktu kecil ). Kultur sel adalah bidang yang baru bagi saya, satu-satunya skill yang telah saya miliki adalah perhatian terhadap tehnik aseptik dan antiseptik. tehnik ini memegang peran yang amat penting dan ditegakkan dengan disiplin tinggi secara berlebihan.
jangan salah, saya tidak bekeja di lembaga riset, meski .. ya riset adalah yang saya lakukan setiap hari tapi saya lebih suka dengan kosa kata "coba". Kami betugas mencoba..mencoba dan mencoba, untuk itu kami perlu membaca ( dalam jumlah besar) setelah itu mulai menghabiskan uang (karena ini bidang yang mahal) dan berharap mendapat hasil yang baik segera (karena terkait pasar)
Sel pertama yang menjadi objek percobaan saya adalah Keratinosit. khususnya basal keratinosit, saya menggunakan sampel foreskin yang banyak diproduksi di negri kita asal tahu kemana harus mencari ( makasi bang Mahdian! ). Saya ingat betapa gemetar tangan saya ketika untuk pertama kalinya menggunakan pipetor di dalam BSC ( Biological safety Cabinet). singkatnya ada terlalu banyak pengalaman pertama mulai dari menghitung pengenceran reagen dengan rumus C1*V1 = C2*V2, menggunakan inverted microscope, kamar hitung Nebauer, seeding.. dll. Sebut saja rupiah seharga laptop yang saya buang dalam proses learning by doing ini..untungnya bukan uang saya..

Senin, 11 Oktober 2010

Resep Selapis Keratinosit

Reagen

Larutan alikuot

Konsentrasi tujuan

50 ml

100 ml

DMEM/F12 3:1

1x

1x

Add 50 ml

Add 100ml

FBS ( di Inaktivasi)

1x

5% total

2,5 ml

5 ml

Hidrokortison

50 ug/ml

10 ug/ml

10 ml

20 ml

ITS

(1 mg/ml)

10 ug/ ml

0,5 ml

1 ml

Amphotericin B

250 ug/ml

2,5 ug/ml

0,5 ml

1 ml

Pen-strep

5000 U pen-5 mg strep /ml

100 U P- 100 ug/ ml

1 ml

2 ml

L-glutamin

200mM

2 mM

0,5 ml

1 ml

EGF

50 ug/ml

10 ng/ml

10 ul

20 ul

KGF/FGF-7

500 ng/ml

1 ng/ml

100 ul

200 ul

BPE

1 mg/ml

60 ug/ml

3 ml