Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2013

Surat Terbuka PROKAMI untuk Indonesia (original version)

*orginal version dari Press Release IMANI-PROKAMI terkait demonstrasi dokter 27 November 2013.
as per req. dr Achmad Zaki M.Epid. SpOT disusun selasa 26 November 2013 diatas commuter line Bogor-Jakarta en route ke stasiun cikini, ketikan awal disusun di Microsoft One Note Nokia Lumia. Sumber referensi: Risalah Pergerakan (Hassal Al Banna), Wajah Dokter Indonesia ( {Prof.Sjamsuridzal Djauzi)


Assalamualaikum wr wb

Ba'da tahmid dan shalawat, mencermati kegaduhan di ruang-ruang komunikasi seputar kasus hukum yang dialami sejawat peserta pendidikan program dokter spesialis kebidanan dan kandungan di manado, serta menangkap kegelisahan sejawat dokter dan kegundahan tenaga kesehatan lainnya. PROKAMI sebagai stakeholder kesehatan di negeri ini menyampaikan seruan pada bangsa Indonesia...

1. Kepada saudara kami para dokter yang diikat oleh sumpah yang satu, suarakan aspirasi kalian besok sebagai hak setiap warga negara. Ingatlah bahwa Allah swt yang menyembuhkan penyakit bukan kalian, simpan keraguan dan tutup kebimbangan, pengabdian kita tidak sepatutnya menghilangkan keadilan.

2. Kepada sejawat tenaga kesehatan, perawat, bidan, analis, radiografer, fisioterapis dan lainnya kita adalah keluarga. Mari lupakan sejenak perselisihan, ini adalah momentum evaluasi, konsolidasi, reposisi dan reorganisasi. Ambilah pelajaran dan antisipasi karena sejarah akan berulang

3. Kepada industri farmasi, pejabat kesehatan, pemimpin profesi, civitas akademika, pemilik modal bangunlah! Kita beredar dalam orbit yang sama, ada fundamental yang salah dengan sistem kesehatan di negeri ini. Mari kita manfaatkan momentum ini untuk formulasikan sistem yang harmoni, seimbang dan berkeadilan.

4. Kepada rakyat, kami adalah kalian, hubungan kita bukanlah produsen dan konsumen, bukan provider dan klien, bukan pula keluarga atau saudara melainkan kita adalah sahabat. Setelah segala yang terjadi kami tetap teguh dengan jabat persahabatan, semoga Allah swt meringankan beban kalian dengan kesehatan. Seperti semua sahabat, kami hanya menyatakan apa adanya, tidak lebih.

Demikian, untuk negeri ini dan masa depan umat Islam


Wassalamualaikum wr wb.

Minggu, 24 November 2013

Persepsi masyarakat terhadap Ilmu Pengetahuan

*Diolah dari Sergei Kapitza; Public perception of science and anti science: science and counter culture. World Confrence of Science Hungaria 1999 untuk tugas mata kuliah filsafat sains program doktor IPB

Pada zaman modern, Ilmu pengetahuan dasar dapat dipandang sebagai bagian dari kultur. Kontribusi Ilmu pengetahuan praktis dalam perkembangan industri dan ekonomi tidak dapat disangkal. Meski demikian interaksi Ilmu Pengetahuan dengan masyarakat, pendidikan dan kultur jauh lebih kompleks dan sering kali kontroversial. Ilmu Pengetahuan telah berkembang menjadi dalam skala global menembus batas-batas negara sementara kultur semakin erat dikaitkan dengan identitas bangsa dan bahasa serta tradisi lokal.

Ilmu pengetahuan berkembang  dalam bidang yang semakin lama semakin spesifik akan tetapi masyarakat menerima informasi ilmu pengetahuan melalui upaya multidisiplin, hal ini menyulitkan proses transfer informasi dan pemahaman oleh orang awam atau bahkan para pejabat pemerintahan. Hal ini menjadi sebab hilangnya kontak antara ilmu pengetahuan dengan masyarakat dan kebutuhan manusia dalam kehidupan

Bentuk perceraian antara  ilmu pengetahuan dan masyarakat dapat berupa 1) muncul kembalinya kepercayaan kuno yang bersifat supernatural. Di Indonesia hal ini dapat terlihat pada fenomena “Ponari”  dan  larisnya dukun menjelang tahun pemilu, keduanya mewakili kepercayaan terhadap kekuatan magis yang bertentangan dengan rasionalitas medis dan kalkulasi politik. 2) penolakan terhadap perkembangan-perkembangan modern seperti energi nuklir, rekayasa genetik yang semakin berkembang. Dalam banyak kejadian penolakan ini berupa rasa takut yang irrasional dan kurangnya pemahaman

Perkembangan tekhnologi yang pesat merubah perangkat keras masyarakat sedemikian cepat hingga perubahan perangkat lunak masyarakat selalu tertinggal dan orang-orang kemudian mundur dan berlindung pada ide-ide lama. Jurang pemisah yang semakin lebar ini mungkin adalah alasan penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan sikap anti-ilmu pengetahuan. Tren ini bahkan terlihat diantara para ilmuwan sendiri berupa hilangnya identitas, dan degradasi moral ilmuwan yang terperangkap dalam dunia yang semakin kompetitif.


Efek lebih signifikan kemudian terlihat pada hilangnya rasa percaya dan harapan, serta runtuhnya ide-ide yang selama ini memberi panduan dan tujuan. Penolakan terhadap rasio dan sikap positif adalah konstruk postmodernisme. Kondisi hilangnya arah dan tujuan serta rendahnya pemahaman dan pengertian terhadap ilmu pengetahuan menjerumuskan masyarakat pada sikap pro “natural” yang keliru. Maraknya riset herbal, anjuran back to nature, hidup sehat alami, “obat alami tanpa efek samping”, serta pengobatan ala nabi mudah-mudahan bukanlah bagian sikap anti-ilmu pengetahuan  melainkan murni aktivitas mencari ilmu pengetahuan sehingga sepatutnya berkembang secara terstruktur dan terarah seperti layaknya ilmu pengetahuan disusun, dikaji, dibuktikan dan diorganisasikan dengan baik

Sabtu, 05 Mei 2012

Africanis : A Dog Story

Salah satu Novel best seller internasional pertama yang saya baca adalah The Fourth Protocol oleh Frederick Forsyth, belakangan saya lihat juga sudah ada filmnya. Karakter utama novel ini adalah seorang agen MI5--ini adalah dinas intelijen Inggris yang bertugas di bidang kontraintelijen--saya sudah lupa namanya, tapi diakhir cerita koleganya dari dinas intelijen Afrika Selatan membandingkannya dengan anjing lokal Afrika Selatan yang dikenal saat ini sebagai Africanis.

Sejak lama saya merasa ada makna lebih yang dimaksudkan oleh penulis dengan menggunakan analogi africanis ini. Baru-baru ini saya tiba-tiba teringat kembali bagaimana Mr. Forsyth merangkai cerita dibalik hidup Jan Marais dan bagaimana perwira intelijen inggris kita mampu mengendus kebenaran dan membuktikannya. Saya teringat lagi akibat kemenangan kecil di laboratorium kemarin, keberhasilan yang sudah saya incar sejak setahun lalu. Hanya soal kesempatan, waktu, dan kesabaran.

Cerita dari NUS : Laboratorium In Vitro Elektrofisiologi

Patch Clamp Rig
Saya suka travelling, terutama yang mengandung unsur petualangan. Petualangan tidak berarti harus rimba dan gunung, tapi juga tempat asing seperti Singapura. Saya datang kesini untuk belajar, gratis, dimungkinkan atas nama solidaritas sesama kolega. Saya tidak akan menceritakan keajaiban singapura dengan "pristine district-nya", tapi saya akan sebut satu dua hal yang cukup membuat saya terheran.

Pertama adalah tombol untuk penyebrang jalan yang ada di tiang lampu lalu lintas, waktu kecil tentu kita pernah lihat juga di Jakarta, saya agak takjub aja di sini teryata berfungsi :) ironis ya...Kedua yang tak kalah ironis adalah jadwal bus dan papan nomor bus yang terpampang di halte, ini juga berfungsi dengan baik :)...bagi saya sisanya adalah cerita keseimbangan...modernitas dan keteraturan di satu sisi dan hilangnya budaya malu dan kehangatan.

Kamis, 21 April 2011

Cerita dari Laboratorium kultur sel


Selama 7 bulan terakhir saya bekerja di dalam ruang steril bertekanan positif setiap hari.. dan ini adalah kisah yang dapat saya bagikan.
Awalnya adalah sebuat kehormatan untuk bekerja di bidang yang tidak pernah terbayangkan selama 6 tahun pendidikan kedokteran ( yah mungkin pernah sesekali waktu kecil ). Kultur sel adalah bidang yang baru bagi saya, satu-satunya skill yang telah saya miliki adalah perhatian terhadap tehnik aseptik dan antiseptik. tehnik ini memegang peran yang amat penting dan ditegakkan dengan disiplin tinggi secara berlebihan.
jangan salah, saya tidak bekeja di lembaga riset, meski .. ya riset adalah yang saya lakukan setiap hari tapi saya lebih suka dengan kosa kata "coba". Kami betugas mencoba..mencoba dan mencoba, untuk itu kami perlu membaca ( dalam jumlah besar) setelah itu mulai menghabiskan uang (karena ini bidang yang mahal) dan berharap mendapat hasil yang baik segera (karena terkait pasar)
Sel pertama yang menjadi objek percobaan saya adalah Keratinosit. khususnya basal keratinosit, saya menggunakan sampel foreskin yang banyak diproduksi di negri kita asal tahu kemana harus mencari ( makasi bang Mahdian! ). Saya ingat betapa gemetar tangan saya ketika untuk pertama kalinya menggunakan pipetor di dalam BSC ( Biological safety Cabinet). singkatnya ada terlalu banyak pengalaman pertama mulai dari menghitung pengenceran reagen dengan rumus C1*V1 = C2*V2, menggunakan inverted microscope, kamar hitung Nebauer, seeding.. dll. Sebut saja rupiah seharga laptop yang saya buang dalam proses learning by doing ini..untungnya bukan uang saya..

Sabtu, 01 Mei 2010

Identitas Kelompok dan Toleransi

Ada satu hal yang menarik saat kita pelajari lebih dekat proses embriogenesis utamanya neurogenesis yaitu adanya konsep Contact Inhibition. Secara in vivo ternyata ketika suatu jenis sel mengalami proliferasi memperbanyak dirinya sendiri sampai suatu saat mengalami kontak dengan sel lain yang juga sedang berproliferasi maka sel pada titik kontak akan berhenti berprolifersi dan mengalami diferensiasi menjadi jenis sel lainnya. Pada situasi in vitro hal ini juga diamati pada proses kultur sel. Pada plate kultur sel akan berproliferasi membentuk koloni-koloni maka ketika koloni ini saling kontak maka peristiwa yang terjadi tergantung pada jenis sel. Bila koloni ini terdiri dari jenis sel yang sama yaitu memiliki jenis MHC (Major Histocompatibility Complex) kelas I yang sama maka akan terjadi inhibisi perkembangan dengan kata lain mereka hidup bersama-sama, co-exist. bila tenyata koloni ini memiliki MHC yang berbeda maka meski jenis selnya sama mereka akan berusaha saling meniadakan.

Selasa, 13 April 2010

Induced Pluripotent Stem Cell

Tahun 2006 di Universitas Kyoto Shinya Yamanaka dan rekan-rekannya menghasilkan terobosan di bidang sel punca dengan berhasil menginduksi fibroblas menjadi sel dengan karakter mirip sel punca embrional dengan menggunakan 4 faktor saja yaitu Oct3/4, Sox2, c-Myc dan Klf4.  Sudah lama para peneliti mencurigai serangkaian faktor transkripsi mampu menginduksi sel somatik yang telah terdiferensiasi menjadi sel punca dengan karakter pluripoten, namun yang mengejutkan adalah ternyata hanya dibutuhkan 4 faktor saja, bahkan saat ini beberapa grup berhasil dengan hanya satu faktor saja.

Selasa, 23 Maret 2010

Setiap Penyakit Ada Obatnya

"Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan Izin Allah swt " ( HR. Muslim)

demikian pernyataan Rasulullah seperti juga janjinya yang telah terbukti tentang jatuhnya konstantinopel...banyak diantara kita yang bertanya-tanya dan berharap-cemas siapa gerangan komandan pasukan yang mampu menaklukkan Roma kota berikutnya setelah penaklukan Muhammad Al-Fatih terhadap Konstantinopel. Entah adakah yang bertanya-tanya siapa yang akan merealisasikan hadist Rasul diatas, bahwa setiap penyakit ada obatnya, adakah diantara kita yang bersegera menyambut tantangan ini ?

Kamis, 04 Februari 2010

Sampai Kapan Kita Terlena ?

Apakah anda baca berita 2 hari ini ? “ Tiga Anak Balita di Tinggal di Kontrakan” di Kompas dan Media Indonesia hari ini dan kemarin. Miris sekali, setidak buat saya yang punya 2 anak balita pula di rumah. tiga bersaudara ini usia 3 tahun, 2 tahun dan bayi 9 bulan ditinggal oleh kedua orang tuanya selama minimal 4 hari.
Kesaksian tetangga melihat pertama sang suami yang pergi, disusul oleh Istrinya beberapa hari kemudian, selang 4 hari tetangga/pemilik kontrakan semakin terusik dengan suara tangis anak-anak yang tidak kunjung berhenti maka dilihatnya pemandangan yang amat memilukan…ketiga bersaudara itu tergeletak lemas dikamar dalam rumah yang digembok dari luar, kulit pisang terlihat bekas dimakan ...luar biasa mengerikan bukan ?

Selasa, 12 Januari 2010

Dokter Spesialis Kulit Arthalyta a.k.a Ayin

Hari ini saya dongkol sekali, apa pasal ? bukan karena ujian perbaikan yang gagal hingga saya harus mengambil lagi mata kuliah pengantar biokimia semester depan bukan itu kawan tapi karena judul berita kompas hari ini di pojok kanan bawah :
“Arthalyta Sedang Dirawat Wajahnya oleh Dokter Spesialis”
pada harian lain dinyatakan sebagai dokter spesialis kulit sementara yang lain ada yang menyebut pengobatan gigi.
sebelum lanjut perlu saya beritahu bahwa pemberitaan di media perlu di sikapi dengan bijak karena di era ini tidak ada berita yang berimbang, pemberitaan berimbang dan cover both side sudah kadaluarsa. Ideologi yang dianut saat ini adalah keberpihakan, jadi selalu yang saya pegang adalah jangan mengambil keputusan atau pendirian semata atas informasi media semata, do your own research !!
Pengistimewaan Ayin di Rutan Pondok Bambu rasanya tidak bisa dibantah lagi, ibarat hardisk, para petugas Lapas dan mungkin pejabat diatasnya  sudah pasti mengandung bad sector dan file-file yang corrupt. Sesuai judul, yang ingin saya bicarakan adalah keterlibatan seorang dokter spesialis kulit yang konon sedang memberikan perawatan kecantikan pada Ayin.

Kamis, 22 Oktober 2009

Tepian Terra Incognita

“Boldly go where no one has gone before…”
Saya rasa siapapun di generasi saya mengetahui tagline Star Trek diatas, sama seperti generasi sebelumnya mengenal Darth Vader dari Star Wars. Sejak kecil saya selalu terkesima dengan bintang-bintang di langit malam dan angkasa luar, namun baru sekarang saya mengerti alasan dibaliknya. Setelah saya fikirkan belakangan ini, yang menjadi magnet sebenarnya adalah sebentuk kerinduan…kerinduan untuk berada di perbatasan terakhir dan memandang ke seberang penuh rasa ingin tahu.
Sekarang saya sadar perbatasan terakhir itu tidak melulu berarti angkasa luar, perbatasan itu ternyata juga dapat berarti batas wilayah yang diterangi cahaya pengetahuan. Ketika seseorang menggali lapisan-lapisan pengetahuan sampai pada pertanyaan yang belum terjawab, ia mengangkat kepalanya dan menyadari keganjilan bahwa tidak seorangpun di muka bumi memiliki jawabannya dan serta merta merasakan antusiasme puluhan orang  di berbagai negara yang sedang berlomba mencari jawabannya….

Jumat, 07 Agustus 2009

Mitokondria : Sebuah Kisah Cinta Abadi

Tulisan ini seharusnya merupakan kisah tentang Ibu dan warisan kehidupan yang diberikannya, ini adalah kisah tentang Mitokondria.
Saya kira semua orang tahu dan pernah membaca Harry Potter dan bagaimana ia mendapat reputasi sebagai the boy that survived , Voldermont tidak mampu menyentuh apalagi mencederainya karena perlindungan- menurut Dumbledore, an ancient protective charm yaitu cinta seorang ibu. Pengorbanan ibu telah memberikan Harry perlindungan dari sihir hitam sampai mencapai usia baligh.
Masih mengenai Ibu, dalam Islam kita mengenal suatu hadist yang mengatakan bahwa syurga berada di telapak kaki ibu, mengindikasikan betapa terhormat posisi seorang ibu dalam kehidupan, ditambah lagi hadist lain yang mengatakan sampai tiga kali untuk kita menghormati ibu sebelum menghormati ayah kita, Ibu,ibu, ibu baru lah ayah.
Who should i give my love to, my respect, my honour to, who should i give good mind to, after Allah and Rasulullah comes your mother, who next ? your mother ? who next ? your mother and then your father.

Kamis, 28 Mei 2009

Memilih atau Tidak Memilih

Memilih atau tidak memilih itulah pertanyaan besar pekan-pekan ini sehubungan Pemilu Presiden. banyak yang menyatakan kekecewaan terhadap ke 3 pasangan kandidat, banyak juga kekecewaan terhadap partai-partai. Infomasi yang berseliweran dengan cepat, bertentangan satu dengan yang lain, komentar-komentar provokatif pengamat, silang pendapat di media menambah hiruk pikuk dunia politik yang sedang memanas, dan tentunya masyarakat yang peduli urusan politik, semakin bingung dan gamang menentukan pilihan...tapi hei ! hal itulah yang memang sedang di lancarkan oleh setiap tim sukses kandidat...mengoyahkan keyakinan kita dengan menebar berita busuk , mengeksplotasi setiap celah kelemahan kandidat lawan

nah kalau anda bertanya, bagaimana dengan saya ?

Minggu, 26 April 2009

Komplikasi Domestik Reumatik


Reumatik adalah salah satu penyakit yang bikin saya mati kutu..bagaimana ya..sebenarnya dulu waktu stase IPD, giliran bagian reumatologi itu salah satu yang menyenangkan..itu kalau memeriksa dengkul ama tumit nenek-nenek termasuk mengasyikkan. Anyway kali ini saya mau bercerita tentang Ibu M.

Ibu M 50 tahun adalah contoh klasik pasien saya yang menderita reumatik dan menderita karenanya, maksud saya penyakit ini membawanya pada masalah lain. 2 tahun terakhir ini Ibu M cukup rutin berkunjung ke ruang praktek saya hingga kami sudah saling mengenal dengan baik. Penyakit reumatiknya sebenarnya begitu-begitu saja, seharusnya dia sudah meminta pertolongan spesialistik sejak lama namun terkendala masalah dana, masalah klasik pasien saya ( baca tulisan saya sebelumnya Rastinah dan Rasingkem )

jadi obat yang saya berikan itu-itu saja dengan saran terapi non-farmakologis yang saya tahu tidak akan dia laksanakan. satu-satunya saran saya yang dia sepakati adalah agar seperlunya saja meminum obat tersebut, mengingat efek sampingnya.

Rabu, 15 April 2009

Kebaikan Pada Akhirnya Akan Menang

saya selalu percaya bahwa cara terbaik mendapatkan ilmu adalah dengan membaca langsung dari sumbernya, menuliskan apa yang kita dapat, dan mendiskusikannya dengan teman seperjalanan. maka dari itu saya percaya bahwa sistem pendidikan saat ini (kedokteran) sudah berada pada jalan yang benar.

sistem yang student centered dan evidence based, sistem yang dipenuhi proses diskusi, belajar mandiri, pembuatan laporan, sistem yang memungkinkan kita menemukan "AHA" secara mandiri, sistem yang memungkinkan kita membuat konstruk ilmu dalam kepala kita dengan cara yang paling personal dan unik milik kita sendiri adalah pengejawantahan dari keyakinan saya tersebut.

Sabtu, 28 Maret 2009

How to deal with a Toddler

i must admit it is my mistake, or rather my decision that put us in this situation. the problem is that our litlle angel has not yet develop ability to pee and pup properly. for a 2 year old girl compare to her peer this is a delayed development. so we come up with an idea of "carrot and stick" although we keep the stick yet for last resort.

so after a rigorous explanation, over and over again about how and why, after many examples in front of her eye, after imagining future consequences she may faces in the coming of school age, my wife bought jar full of beautiful marble.

Selasa, 21 Oktober 2008

Hak Dasar Kehayatan Sebuah Komentar

Beberapa hari yang lalu membaca tulisan yang amat menarik di Rubrik Resonansi harian republika, saya kutipkan di bawah, tulisan oleh Ahmad Tohari (kalau tidak salah) silahkan menyimak....

Ini keluhan seorang perempuan usia hampir 40 tahun dan belum menikah. Mungkin, keluhan itu sudah didengar oleh banyak orang sebelum akhirnya sampai ke telinga saya. Begini. perempuan itu menyesali dirinya mengapa belum juga bertemu jodoh. Padahal, dia sudah puluhan tahun mengharapkannya. Dalam keluhan itu, dia bilang bahwa dirinya sehat lahir batin, secara fisik tak kurang suatu apa, berpendidikan baik, masih punya orang tua lengkap, dan berpenghasilan tetap pula. "Saya memang punya penampilan biasa-biasa saja, tidak rupawan. Apakah ini penyebabnya?"

Saya dengar keluhan perempuan itu tidak hanya berhenti di sini. Dia, konon, juga mempertanyakan hak-hak dasar kehayatannya. Kurang lebihnya, dia bertanya, bila para perempuan bersuami bisa mendapat hak-hak dasar kehayatan mereka: punya anak, menyusui, dan seterusnya, sementara dia malah menderita dalam kesendirian. Siapa yang bertanggung jawab? Atau, kehidupan ini memang tidak adil?

Meskipun saya tidak mengenal langsung perempuan itu, keluhannya cukup lama menjadi bahan perenungan. Ya, rasanya keluhan panjang itu bisa dimengerti karena hak kehayatan dia sama dengan perempuan lain yang berumah tangga. Lain halnya bila perempuan itu dengan sukarela melepaskan hak-hak dasarnya tadi. Dan, perempuan (juga lelaki) yang seperti ini pasti amat sedikit jumlahnya. Belum lagi, bila diingat, menikah adalah sunah Nabi.Saya makin tercenung ketika mendengar bahwa perempuan itu melanjutkan keluhannya dengan bertanya, mengapa nilai-nilai agama dan budaya bisa menghambat dirinya mendapat hak-hak dasar kehayatan?

Pertanyaan terakhir ini amat menohok. Dan, saya berharap bukan hanya saya yang merasakan tohokan itu. Sebab, terasa ada kebenaran dalam keluhan perempuan itu. Bahkan, tohokan itu juga menuding kita yang telah mengabaikan 'kefakiran' serius yang sedang diderita oleh seorang Muslimah seperti dia.

Ambillah pengandaian bila perempuan tadi terpaksa menempuh caranya sendiri untuk mendapatkan hak-hak dasar kehayatan itu. Maka, kita paling-paling akan mengutuknya. Dan, kita tidak sadar telah bersalah mengabaikan kefakiran dia, yakni kefakiran yang bisa melebihi seriusnya kelaparan fisik. Bahkan, kefakiran jenis ini bukan monopoli perempuan. Tidak sedikit lelaki dewasa di sekitar kita yang telah cukup syarat, namun karena suatu hal, dia terhambat untuk menikah. Dan, lagi-lagi, bila lelaki itu suka ngeluyur, kita pun hanya akan mengutuknya.

Uraian ini sudah jelas arahnya. Yakni, pertanyaan mengapa kita kurang perhatian terhadap sesama yang menderita kefakiran akibat tidak terwujudnya hak-hak dasar biologis mereka? Bila kefakiran dalam hal materi sudah mendapat perhatian, mengapa kefakiran jenis terakhir ini diabaikan?

Saya kira, sudah saatnya kita membangun kesadaran terhadap kefakiran yang nyata dan lumayan masif ini di tengah kita. Maka, diharapkan kelompok-kelompok pengajian, lembaga masjid, dan organisasi-organisasi keagamaan yang besar segera bertindak. Dalam ukuran kecil pun, setiap pribadi Muslim atau Muslimah bisa menjadi mak comblang, menolong "orang-orang fakir" ini, membantu teman atau saudara menemukan jodoh. Saya percaya, menolong si fakir jenis ini pahalanya tidak kalah besar dengan menolong fakir lapar.

NU dan Muhammadiyah jangan biarkan warganya terpaksa mengiklankan diri di koran untuk mencari jodoh. Bahkan, lebih baik lagi bila biro jodoh, atau apalah namanya, milik NU dan Muhammadiyah bisa membantu siapa saja untuk mendapat hak-hak dasar kehayatan secara sah dan benar. Dengan demikian, tidak ada lagi keluhan bahwa dalam hal mendapat hak-hak dasar kehayatan, kehidupan ini tidak adil. Juga, tidak ada lagi pertanyaan yang sangat menyengat, mengapa nilai-nilai budaya dan agama bisa menghambat orang untuk memperoleh hak-hak dasar kehayatan.

Saya kira kita banyak melihat kasus seperti perempuan diatas, mungkin keluarga dan famili kita sendiri atau teman-teman disekitar kita, ini adalah masalah yang nyata. Menarik sekali bagi saya bahwa ternyata tidak kita sadari bahwa setiap manusia juga berhak menjalani hidup yang penuh - living a full life a marriage life- selain memiliki hak untuk hidup dan hak-hak reproduksi yang banyak di bicarakan.

hak untuk sebuah kehidupan dengan pasangannya dalam sebuah ikatan pernikahan, hak untuk mengandung seorang anak bagi sang istri dan hak untuk menimang dan membesarkan anak mereka. hak yang mungkin terabaikan karena kehidupan pernikahan dalam peradaban barat saat ini sudah amat menyedihkan. memang hak ini tidak otomatis akan membawa kebahagiaan bila seandainya terpenuhi, sebagian bahkan menyadari bahwa dirinya berpotensi menghadapi penderitaan seumur hidup, namun ia juga memiliki kesempatan yang sama mendapat kebahagiaan seperti menjalani kehidupan itu sendiri yang kata orang- seperti di meja Roulette.

Sebagian individu yang belum mendapatkan haknya ini selama banyak menyandarkan nasibnya ini pada ketentuan Sang Pencipta yang mana memang menguasai urusan perjodohan ini. Saya yakin pasti mereka sudah berusaha semampu mereka dan dalam usaha ini pun mereka dibatasi aturan-aturan syariat yang mengatur hubungan dan pergaulan antara lelaki dan perempuan, sebagian ada yang mengabaikan aturan syariat ini karena ketidaktahuan atau semata kesombongan belaka namun pada dasarnya mereka merasakan hal yang sama yaitu dorongan fitrah mencari pasangannya masing-masing.

yang jelas saya sepakat dengan kutipan diatas bahwa sejatinya belum terpenuhinya hak dasar kehayatan pada anggota masyarakat adalah tanggung jawab masyarakat, bukan sekedar tanggung jawab individu tersebut semata, semakin dimengerti bahwa kebiasaan orang tua zaman dahulu yang menjodohkan anaknya bukanlah kesewenang-wenangan namun bagian dari kebijaksanaan dalam kehidupan. Kita sebagai orang tua dan sebagai anggota masyarakat harus berusaha menjadi jalan terciptanya perjodohan yang dinanti-nantikan, bukan kah itu rezeki juga, mereka mendapatkannya karena pintu-pintu dan keran-keran rezeki yang kita buka.

mencarikan jodoh yang baik untuk anak kita, berpedoman pada sunnah rasul saat ada lelaki yang datang melamar, meringankan mahar, menyederhanakan prosesi pernikahan dan banyak lagi yang bisa kita lakukan. di lain pihak mereka yang saat ini masih mencari pasangannya agar menggunakan standar rasul dalam hal ini lihatlah agamanya dahulu sebelum yang lain, dan jangan terjebak pada aspek fisik semata, kebetulan saya habis nonton film "Mongol" ternyata bagi suku-suku mongol istri yang ideal bukan lah yang berkulit putih, ramping dst tapi yang kakinya besar, wajahnya bulat dst, intinya semua standar fisik ini adalah semu, standar yang kita pakai sekarang semata adalah cara pandang peradaban barat yang sedang dominan dalam kehidupan kita saat ini.

Banyak anak muda sekarang juga sedemikian mengagungkan Cinta, mereka mencari cinta sejatinya atau soul mate-nya, alhasil mereka terlambat menikah bahkan menghalangi tepenuhinya hak dasar orang lain. saya katakan pada mereka cinta jangan dicari, tapi ciptakan cinta dalam kehidupan anda, ini hanya bisa dilakukan bila anda percaya cinta sejati hanya milik Allah swt semata, dan Allah pun akan melihat cinta yang anda upayakan tersebut dan InsyaAllah memberkahinya dengan segala kebaikan di dunia yang sesaat dan membalasnya dengan Syurga di akhirat yang abadi

Ada kebiasaan lain yang juga menghambat terpenuhinya hak tersebut, opini anti poligami ! Ibu-Ibu yang telah bersuami tentunya mudah saja mengambil opini ini, namun penolakan dan kampaye yang masif terhadap opini ini sudah menciptakan dinding sosial, dan pelanggarnya akan menjadi bulan-bulanan masyakarat.

ah saya sudah bicara panjang lebar, terakhir memang sudah seharusnya dan menjadi tanggung jawab pula agar setiap keluarga, organisasi agama dan organ masyarakat lainnya menjadikan masalah ini sebagai salah satu fokus programnya, karena bersamaan dengan terabaikannya satu hak maka kita telah menbiarkan terjadinya satu kezaliman yang lain.

Senin, 22 September 2008

Menghormati Yang Berpuasa

Saya mau menulis sesuatu yang mungkin agak sulit di pahami. hal ini sudah lama saya perhatikan di masyarakat dan entah kenapa belum pernah saya bertemu atau membaca pendapat yang sepakat dengan saya.

ini tentang seseorang yang tidak berpuasa kemudian merasa malu untuk mengkonsumsi makanan didepan rekannya yang sedang berpuasa, akhirnya sembunyi-sembunyi makannya, katanya ia ingin menghormati orang yang berpuasa. situasi ini saya lihat sering terjadi terutama pada ibu-ibu yang tentunya saat datang haid tidak berpuasa dan entah kenapa saya selalu tidak merasa sreg.

yaitu tepatnya pada alasan mereka "ingin menghormati yang berpuasa" saya kira ini juga menyebabkan banyak warung makan menutup jendelanya dengan kain disiang hari karena lagi-lagi ingin menghormati yang berpuasa. tepatnya mengapa saya merasa kurang sreg juga agak sulit dijelaskan tapi akan saya coba analisa perlahan-lahan.

saya akan mulai dengan fakta bahwa ibu-ibu yang kedatangan haid, atau hamil atau menyusui punya argumen yang sah untuk tidak berpuasa, begitu juga usaha warung makan tidak berarti harus kehilangan haknya berusaha memasuki bulan ramadhan. 

bila memang memiliki hak yang sah, untuk apa mereka harus sembunyi-sembunyi dan merasa malu  atau "tidak enak" kepada yang berpuasa, sikap seperti ini sepantasnya di miliki oleh mereka yang tidak berhak atau pelanggar dan perampas hak ( baca : zalim).

saya melihat sikap tidak enakan ini sudah menjadi budaya masyarakat maka sulit dikatakan bila mereka masyarakat yang banyak ini merupakan orang yang tidak berhak atau para pelanggar dan perampas hak. mereka sesungguhnya adalah orang yang berhak, tapi mengapa mereka mengambil sikap seperti seorang yang zalim.

mengapa ini terjadi saya kira adalah hal yang amat menarik. pertama terfikir oleh saya ini disebabkan trend, dan telah menjadi kode kesopanan di masyarakat kita. kedua mungkin ini pengaruh kurangnya keberagamaan, maksud saya adalah anggota masyarakat tidak mengerti bagaimana seharusnya bersikap sesuai keadaan dirinya, hak dan kewajibannya dalam islam

ketiga bisa dipertimbangkan juga adanya tekanan mayoritas yang berpuasa,  apakah ketika berpuasa kita begitu haus akan pernghormatan sedemikian hingga mengharapkan orang lain yang tidak berpuasa agar menyembunyikan keadaan mereka. seharusnya hal ini tidak terjadi karena puasa kita kan karena perintah Allah bukan karena orang-orang

mereka yang berpuasa karena Allah swt tidak akan tersinggung hanya karena melihat ada muslim yang makan di hadapan mereka di bulan ramadhan, prasangka baik kita tentu karena ia memiliki udzur yang syar'i. tapi mereka yang berpuasa karena tradisi atau ikut-ikutan saja mudah dimengerti bila akan tersinggung bila ada muslim yang makan dihadapan mereka, pasalnya adalah kurangnya pengetahuan agama akan membawa pada sikap berlebihan dalam ibadah

jadi kesimpulan saya adalah agar setiap kita kembali meluruskan niat dalam menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan semata karena perintah Allah swt, inilah ibadah yang akan dinilai langsung olehNya. Menghormati orang yang berpuasa saya kira adalah dengan bersikap seperti biasa apa adanya


Jumat, 15 Agustus 2008

Air Asia a Better Low Cost Carier

Last week I flew to Medan with Air Asia, and again at the return trip to Jakarta. It is my first time with this airline and a good chance to compare them with other low cost carier. In my opinion, on their effort to reduce cost Air Asia has develop a certain policy like the ticket policy that I found to be a great inovation.

Air Asia does not issue a bisnis-like ticket like we used to see with other airline such as Adam Air, Loin Air and others. In fact their ticket is a simple print out paper with our name print on it without a predesignated seat. I think this policy save them lots of fund. Without a predesignated seat passenger will compete for their favorite corner and this could reduce passenger satisfaction on the other hand everybody will get a seat eventually.

There are many way to satisfy customer but certainly not with draging them to a different terminal by a bus. Air Asia passenger check in at terminal 1A but board the airplane at terminal 2 for foreign airline, instead of taxiing the plane which require consideable amount of expenxive avtur, they simply move the passenger with a less expensive bus. Sacrifying a bit comfort in exchange with efficiency, utterly briliant !

A passenger who never before have experience with Air Asia should feel less comfortable with the mentioned policy. I assure you their steward and stewardess still as good looking and pretty as other airline and perform their duty as good as it is. If a delay is unavoidable they still gave us meal, and most important they did not get my baggage lost.

To conclude this, all I can say is although Air Asia handle things differently, and ordinary paper for ticket and a bus solar for avtur, they still can satisfy their passenger. I can offer no complaint so I think even they are not the best still I assure you they are better than the others.




( tulisan ini di buat untuk berlatih writing dalam bahasa inggris bukan untuk promosi, penulis tidak mendapat apapun dari Air Asia, tapi berharap mendapat masukan tentang struktur dan gaya penulisan )

Jumat, 25 Juli 2008

Tehnik Khitan

Setelah beberapa lama lulus dari fakultas kedokteran dan masuk dalam dunia profesi dokter, satu hal yang saya cermati yaitu : pelajaran yang kita dapat saat menuntut ilmu ternyata hanya satu versi dari banyak versi yang lain. sebagai contoh, saya ambil tehnik khitan/sirkumsisi. memang kalau kita timbang-timbang tekhnik yang kita dapat dari bangku sekolah memang tehnik yang dapat dipertanggung jawabkan dan memiliki dasar rasionalismenya (baca : evidence based)

tidak dapat dipungkiri preferensi masing-masing dokter banyak mendominasi tekhnik apa yang paling nyaman untuk dirinya tentu dengan pertimbangannya masing-masing. dan berikut dibawah ini adalah tehnik yang saya rasa nyaman untuk saya, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang dulu saya pelajari.

Perlengkapan
Sebelum mulai menerima pasien untuk dikhitan, terlebih dahulu kita harus melakukan persiapan.
  1. Minor set/Sirkum Set terdiri dari : gunting dengan ujung tajam dan tumpul, pinset anatomis, Klem lurus 3 buah, Klem bengkok (mosquito) 1 buah, Neddle holder 1 buah-saya lebih suka bila semuanya berukuran kecil-sedang bukan yang besar-besar.
  2. wadah stainles untuk minor set- semuanya ini dalam kondisi steril
  3. berikut dibutuhkan jarum cutting ukuran kecil-sedang dan benang cat-gut plain ( lebih asyik lagi bila ada yang atraumatik)
  4. spuit 3 cc dan lidocain 2% (saya tidak suka merk phapros)
  5. kassa steril yang banyak
  6. plester yang merah (jangan yang tebuat dari kertas)
  7. trifamycetin zalf atau sofratule bila ada.
  8. duk steril-lebih disukai berwarna hijau
  9. handskun steril ukuran sesuai tangan
  10. meja untuk pasien berbaring beserta perlaknya dan kipas angin, serta pencahayaan yang baik
  11. adrenalin yang sudah dimasukkan dalam spuit untuk jaga-jaga saja
  12. alkohol 70 % dan betadine
  13. tempat sampah
setelah persiapan lengkap lidocain sudah masuk dalam spuit sebanyak 2,5 cc, jarum sudah dipegang oleh needle holder serta benang catgut sudah terpasang ( "klik" 2 kali ) di pantat jarum, barulah kita panggil pasien.

Persiapan
sebelum dimulai kita pastikan identitas pasien, usia dan conset dari orang tua/walinya. usahakan membangun komunikasi dengan anak tersebut, tanyakanlah siapa nama panggilannya?, udah kelas berapa?, udah bisa ngaji belum?, udah bisa sholat belum? saya selalu menanyakan apakah ia ingin di khitan dan berani ? saya jelaskan bahwa nanti akan di suntik, terasa sakit sedikit, tolong ditahan ( kan udah gede :) ) setelah itu tidak akan terasa sakit lagi. mungkin terasa burungnya di bersihkan, atau terasa dingin (paha bagian dalam tersentuh alat) dan perih karena di kasih betadin.

penolakan pasti ada, pasti akan muncul air mata, kita harus persuasif tapi saya berusaha keras untuk tidak berbohong ( kecuali terpaksa ). bagi saya pendekatan awal ini penting karena akan memudahkan kita bekerja selanjutnya, tentu lebih mudah bekerja pada anak yang menangis keras, dari pada anak yang menendang-nendang.

Pemeriksaan Awal
berikutnya kita minta untuk menurunkan sarung/celananya untuk diperiksa kondisi penisnya, harus kita pastikan bahwa tidak ada kontraindikasi seperti hipo/epispadia, atau kondisi lain yang membuat kita ragu. lihat juga adanya indikasi seperti fimosis atau buried penis. pertanyaan yang berguna pada tahap ini adalah apakah anak bila buang air kecil memancar jauh atau menetes-netes? (hipo/epispadia) ada alergi obat? apakah luka susah sembuh? (kelainan pembekuan darah)

bila semua OK , kita minta anak berbaring, jelaskan peraturannya dahulu yaitu, kedua tangan diletakkan dibelakang kepala, jangan sekali-kali turun kebawah, kaki tidak boleh diangkat-angkat, dan pantat tidak boleh geser kiri-kanan, bila terasa sakit boleh menangis yang keras (posisi tubuh tidak berubah) tapi bila tidak sakit tidak boleh menangis.

minta agar orang tua ( ibu lebih baik) mendampingi anak, posisi ibu di bagian kepala anak menghadap ke wajahnya ( sekaligus menghalangi arah pandang anak ke bawah ) tapi jangan menutupi jalan napasnya.

Asepsis dan Antisepsis

sekarang kita beralih ke penis, pada tahap ini kita memakai sarung tangan dan mulai membersihkan lapangan operasi dengan betadine, mulai dari penis terus melingkar dari dalam keluar seluas-luasnya ( sampai ke paha dan SIAS ) saat kassa betadine telah menyeka daerah perineum buang kassa itu dan ganti yang baru. setelah puas membersihkan saatnya kita melakukan anestesi.

Anestesi
saya menggunakan blok di pangkal/dorsal penis dikombinasi dengan infiltrasi. bersihkan kulit dengan alkohol di pangkal penis bagian dorsal. tusukkan jarum tanpa ragu-ragu, sampai menusuk fascia buck ( seperti menusuk selapis kertas ) pengalaman saya kira-kira setengah panjang jarum dimasukkan agar yakin. deposit 1 cc disana, lalu angkat sedikit (tanpa keluar dari kulit ) dan tusukkan kembali dengan sudut 30 derajat ke kanan deposit 0,5 cc dan ulangi di arah kiri. selesai cabut jarumnya. lakukan infiltrasi di ventral penis kira-kira di pertengahan atau sekitar corona penis. jepit kulit daerah ventral dengan ibu jari dan telunjuk dan tusuk mendatar kearah distal diantara ibu jari dan telunjuk, depositkan o,5 cc- harus berhati-hati karena disini berjalan vena besar tepat di raphe penis, jangan sampat tertusuk.

sambil menunggu obat berkerja kembali buka komunikasi dengan anak, setelah beberapa menit tes apakah obat sudah bekerja dengan cara menjepit bagian-bagian preputium dengan klem, di dorsal, ventral dan tempat lain yang dirasa perlu. bila anak menangis saat di jepit, dan tangisan berhenti saat jepitan dilepas berarti obat belum bekerja. terkadang anak menangis terus menerus meski tidak di apa-apakan (karena takut) perhatikan volume tangisan apakah semakin keras saat di jepit atau tidak.

bila kita telah yakin anestesi telah bekerja tunjukkan pada orang tuanya agar mereka juga mengerti, jangan sampai terjadi salah faham. sebaliknya bila kita tidak yakin jangan ragu untuk mengulangi anestesi. jangan lupa duknya dipasang.

Smegma
Tahap berikutnya adalah kita buka kulup/preputium sampai kita melihat dengan jelas glans penis dan coronanya, selama proses yang mirip mengupas ini, kita mungkin akan mendapati smegma ( saya menyebutnya nasi :) ) di corona, bisa banyak, sedikit atau tidak ada sama sekali.
saat mengupas bisa jadi lengket sekali, gunakan klem bengkok untuk memperlebar lubang preputium, dan gunakan kassa bersih supaya tidak licin, pesan saya pada tahap ini adalah "agresif" dan gunakan tenaga.

bila semua telah terbuka, smegma sudah dibersihkan, bersihkan kembali dengan betadine. kembalikan preputium ke posisi semula.

Dorsumsisi
gunakan klem lurus untuk menandai posisi jam 12 pada preputium, dan jadikan patokan untuk mencari jam 10 dan jam 2, pasang klem di kedua posisi ini sedalam mungkin ( jangan cuma menjepit sedikit). terakhir pasang di jam 6, tepat di garis tengah dan ujung klem tidak jauh dari orificium uretra eksternum (OUE).

setelah yakin posisi ketiga klem mantap, ambil gunting ( bismilah dan sholawat dulu ) dan lakukan dorsumsisi, gunting pada jam 12, ujung gunting yang tajam berada diluar, yang tumpul di dalam, dengan sedikit mengungkit, gunting tanpa ragu sampai terlihat corona.
darah akan mulai keluar siapkan kassa untuk men-"dab", menyeka darah dengan tekanan ringan kassa agar darah terserap dan lapangan operasi terlihat lagi. bila perdarahan yang terjadi dirasa banyak, cari sumber perdarahan dibawah kulit dan klem lalu ikat dengan catgut.

untuk mencari sumber perdarahan gunakan klem dan pinset dengan harmonis, pakai pinset untuk mengangkat mukosa yang dicurigai, minta asisten men-dab dan perhatikan darimana darah keluar, bila teridentifikasi, segera klem dan jahit ( pakai jari jangan jarum) mukosa yang terjepit oleh klem. bila klem menjepit tempat yang benar maka darah akan berhenti mengalir.

setelah perdarahan terkendali, lakukan jahitan di jam 12, pastikan anda menjahit mucosa dan kulitnya, hati-hati jangan sampai glans terjahit/tertusuk, mulailah menjahit membelakangi glans, bukan mengarah ke glans. berikutnya kita lakukan sirmuksisi.

Sirkumsisi
dengan gunting yang sama dan tehnik yang sama, kita potong mucosa dan kulit dari arah jam 6 menuju jam 12 (atau sebaliknya) dengan arah potong yang melengkung mengikuti corona. pada saat memotong di sekitar jam 6 jangan terlalu mepet dengan klem jam 6. klem ini memegang pembuluh darah, kita tidak ingin vena ini terpotong. kembali di sini akan terjadi perdarahan, bila banyak cari sumbernya, klem dan jahit, sampai keadaan terkendali.

langkah berikutnya adalah kita melakukan jahitan angka 8 di jam 6. saat ini tinggal satu klem tersisa di jam 6 dan glans penis beserta coronanya telihat jelas. jahit mucosa dan kulit disekitar ujung klem pastikan kulit terbawa, setelah di ikat (simpul I), tanpa di gunting, jahit juga sisi yang berlawanan ( simpul II ), lalu ujung simpul I diikatkan lagi lewat bawah klem dengan ujng simpul II, hingga keduanya menyatu dan menjerat kulit dan mucosa yang saat ini dijepit oleh klem, ulangi bila perlu, yang penting kita yakin simpulnya sudah kuat. lepas klemnya dan potong kulit yang tersisa.

setelah itu jahit mucosa dan kulit di jam 9 dan jam 3 dan kendalikan perdarahan yang terjadi bila semua OK maka kita sudah selesai.bersihkan dengan betadin semuanya, buka duknya dan tutup daerah jahitan sepanjang corona dengan kassa steril dengan lapisan sofratule/kemicetine di bagian dalamnya dan di plester. pastikan tidak menutupi dan terlalu dekat dengan OUE.

Pesan-pesan
pesankan agar anak tidak banyak berlari-lari dahulu, makan yang banyak, kalau kencing agak menunggung sedikit atau menggunakan botol aqua, intinya jangan sampai kassa bagian bawah terkena urine, mandi boleh tapi kassa tidak boelh basah. kontrol setelah 3 hari, saya biasa menggunakan amoksisilin 250 3 x1 dan asam mefenamat 250 3x 1.

sampai sini kita sepenuhnya selesai.