Tampilkan postingan dengan label klinik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label klinik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Februari 2010

Sampai Kapan Kita Terlena ?

Apakah anda baca berita 2 hari ini ? “ Tiga Anak Balita di Tinggal di Kontrakan” di Kompas dan Media Indonesia hari ini dan kemarin. Miris sekali, setidak buat saya yang punya 2 anak balita pula di rumah. tiga bersaudara ini usia 3 tahun, 2 tahun dan bayi 9 bulan ditinggal oleh kedua orang tuanya selama minimal 4 hari.
Kesaksian tetangga melihat pertama sang suami yang pergi, disusul oleh Istrinya beberapa hari kemudian, selang 4 hari tetangga/pemilik kontrakan semakin terusik dengan suara tangis anak-anak yang tidak kunjung berhenti maka dilihatnya pemandangan yang amat memilukan…ketiga bersaudara itu tergeletak lemas dikamar dalam rumah yang digembok dari luar, kulit pisang terlihat bekas dimakan ...luar biasa mengerikan bukan ?

Minggu, 26 April 2009

Komplikasi Domestik Reumatik


Reumatik adalah salah satu penyakit yang bikin saya mati kutu..bagaimana ya..sebenarnya dulu waktu stase IPD, giliran bagian reumatologi itu salah satu yang menyenangkan..itu kalau memeriksa dengkul ama tumit nenek-nenek termasuk mengasyikkan. Anyway kali ini saya mau bercerita tentang Ibu M.

Ibu M 50 tahun adalah contoh klasik pasien saya yang menderita reumatik dan menderita karenanya, maksud saya penyakit ini membawanya pada masalah lain. 2 tahun terakhir ini Ibu M cukup rutin berkunjung ke ruang praktek saya hingga kami sudah saling mengenal dengan baik. Penyakit reumatiknya sebenarnya begitu-begitu saja, seharusnya dia sudah meminta pertolongan spesialistik sejak lama namun terkendala masalah dana, masalah klasik pasien saya ( baca tulisan saya sebelumnya Rastinah dan Rasingkem )

jadi obat yang saya berikan itu-itu saja dengan saran terapi non-farmakologis yang saya tahu tidak akan dia laksanakan. satu-satunya saran saya yang dia sepakati adalah agar seperlunya saja meminum obat tersebut, mengingat efek sampingnya.

Kamis, 05 Juni 2008

kejang pada bayi

os bayi 11 bulan, laki-laki. datang dengan demam sejak sebulan terakhir, dengan kisaran 38 derajat. sejak usia 6 bulan menderita kejang tonik. telah diperiksa EEG-nya dan mengindikasikan epilepsi, oleh neurolog anaknya diobati dengan depaken, saat ini telah di kombinasi dengan topamax. kejang saat ini telah berkurang, meski tidak hilang sama sekali.

hasil CT Scan di dapatkan kalsifikasi daerah temporo-parietal, dan pembesaran ventrikel. hasil pemeriksaan darah didapat kesan anemia, dengan Hb 9-10 mg/dl, dengan leukosit bertahan di kisaran 13.000. ferroglobin 2 minggu tidak memberikan perubahan variabel laboratorium.

riwayat persalinan SC, dengan paparan obat KB pada kehamilan muda, BL normal, saat ini BB sudah lebih dari 10 kg

pertanyaan :
  1. bisakah low grade fever yang dialami ada hubungan dengan dugaan epilepsinya? ataukah entitas penyakit yang berbeda?
  2. apa makna hasil pembacaan CT yaitu kalsifikasi? apa konsekuensi berkaitan dengan regionya di otak
  3. apakah mungkin pada CT berikutnya (serial) pembesaran ventrikel terjadi lebih besar lagi? apakah biasa terjadi pada epilepsi?
  4. demam saat ini diobati dengan sanmol drops, depaken sudah mencapai dosis maksimal, topamax pada labelnya ada perhatian terhadap gangguan fungsi hati. mengingat demam yang persisten dan sulitnya menghilangkan kejang, sejauh mana interaksi obat yang mungkin terjadi
  5. apa alternatif obat bila depaken dan topamax gagal
  6. bagaimana prognosis pasien ini
mohon tangggapan sejawat sekalian utamanya para (calon) neurolog dan (calon) pediatrician
informasi detil lanjutan bisa japri ke qus_corporation@yahoo.com
banyak terima kasih

Selasa, 06 Mei 2008

Rumah Zakat Indonesia

Lembaga Pengumpul zakat yang satu ini berkantor pusat di Bandung, di jakarta mereka sudah lama hadir, sebagian mengenalnya dengan nama DSUQ, Dompet Sosial Ummul Quro', nama yang dipakai waktu jamannya "Dompet" booming sekali dulu gara-gara Dompet Dhua'afa Republika. Rumah Zakat Indonesia atau RZI akhir-akhir ini memfokuskan diri pada Ibu hamil dengan membuka Rumah Bersalin Gratiis (notice bahwa ii-nya ada 2 bukan kesalahan ketik tapi memang telah dipatenkan sebagai brand).

Di jakarta RBG-RZI hadir Jl Taruna 43 Pulogadung. disini selain tersedia bidan yang siap melayani persalinan 24/7 , juga ada klinik umum dan layanan ambulans/jenazah serta sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syariah. officenya sendiri terletak di ruko matraman deket jembatan rel KA itu. format seperti ini sudah berlangsung selama setahun dan yang menariknya adalah jumlah pasien umum yang bertambah secara eksponensial. bulan pertama operasonal tahun lalu ada hampir 100 orang yang berobat tapi bulan lalu jumlah pasien umum sudah mencapai 1200-an orang.

tentu ini hal yang amat menggembirakan, senang rasanya bila usaha kita mendapat respon yang baik, dan orang dapat merasakan manfaatnya. memang karena pembiayaan fasilitas ini di dukung oleh dana zakat yang terkumpul maka biaya berobat yang perlu dikeluarkan pasien amat kecil, sering kali tidak lebih dari beberapa ribu rupiah saja. mungkin ini salah satu faktor penyebab tingginya animo masyarakat. disisi lain, pelayanan tim dokter-perawat yang baik, penerapan konsep dokter keluarga dan terutama mungkin angka kesembuhan yang tinggi turut menyumbang tingginya animo tersebut.

di lain pihak ramainya kunjungan, murahnya biaya membawa dampak lain, yang pertama terlihat adalah rendahnya penghargaan terhadap peraturan. banyak pasien yang datang tanpa membawa kartu pasien, yang menyebabkan pegawai administrasi kita harus bekerja ekstra. juga rendahnya penghargaan terhadap kesehatan itu sendiri, sedikit-sedikit berobat, tidak mencoba self medication terlebih dahulu, tidak berusaha merubah kebiasaan hidup/makan, karena tokh nanti tinggal berobat aja. tapi itu dulu, sekarang sudah banyak kemajuan, setelah manajemen mengambil beberapa langkah.

tingginya angka kunjungan dengan total pasien diatas 10.000 kunjungan setahun terakhir, cepat atau lambat akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kasus alergi contohnya cepat atau lambat akan terjadi, keteledoran pemberian obat, persalinan patologis, bahkan malpraktik (duh jangan sampe deh). tapi that sort of thing is bound to happen anytime... jadi kita memang harus selalu berhati-hati. tapi menghadapi 80 orang pasien dalam 8 jam kerja, benar-benar menguras konsentrasi, dan bila konsentrasi buyar, dan jemari kita bekerja langsung berdasarkan informasi yang telinga dengar, tanpa melalui neuron-neuron asosiasi di otak besar terlebih dahulu, bersiaplah bila sewaktu-waktu langit runtuh menimpa kita... ( inget istilahnya Kepala desa Arbaracoucix di Armorik )

oleh karena itu maka tingkat kunjungan harus di rasionalisasikan. harus dilakukan peningkatan level biaya yang harus dikeluarkan pasien, supaya ada penghargaan lebih terhadap kesehatan. bila tingkat kunjungan menurun kita berharap beban kerja dokter bisa menurun, dan diimbangi dengan peningkatan kualitas waktu interaksi dengan pasien, lebih banyak komunikasi, edukasi dan membangun kepercayaan..hal-hal ini bisa meredam masalah yang timbul dikemudian hari, bila ada. tentu level biaya masih jauh dari tingkat komersial, bagaimanapun ini kan lembaga zakat dan kita tidak menarik untung dari mustahik zakat.

3 bulan terakhir ini kunjungan perbulannya sudah menembus angka 1000, satu hal terakhir yang menarik adalah pasien konjungtivis (terutama bakterial) meningkat dari bulan Februari 2008 sebanya 5 orang saja, Maret 11 orang dan April kemarin 37 orang. Sakit mata model ini memang sudah mahfum mudah sekali tersebar dan nampaknya wilayah pulogadung ini sedang merebak luas. bagaimana cara memuus rantai penularannya? faktor apa yang menyebabkannya begitu mudah tersebar? apakah cuaca memiliki pengaruh? pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya menggelitik setiap orang yang memiliki naluri peneliti, bagaimana apakah anda tergelitik? :)

Rabu, 09 April 2008

Sindroma Steven Johnson

Tidak lama lepas Isya masuk telepon dari Rumah Zakat Indonesia, perawat jaga menelepon, dalam hati aku berfikir ini pasti buruk..dan benar saja, perawat jaga mengabarkan bahwa ada keluarga pasien yang minta bertemu, karena sedang jaga praktek saat itu, saya menawarkan untuk berbicara via telepon. sebelumnya perawat jaga sudah menginformasikan bahwa ini keluarga pasien yang kutangani saat terakhir kali praktek di sana, dan pasien ini mengalami reaksi alergi obay yang berat yang dinamakan sindroma steven johnson. pasien ini siang tadi sudah di kunjungi oleh dokter jaga siang tadi.

i brace myself prepare for the worst. keluarga pasien mengatakan apa yang telah aku ketahui dari informasi perawat tadi, dan pihak keluarga meminta saran dari saya bagaimana sebaiknya. saya membalas dengan mengatakan bahwa penyakit ini gawat dan harus segera di rujuk ke rumah sakit terdekat..namun problem klasik masyarakat menengah ke bawah bila menghadapi situasi ini adalah tidak adanya dana, mereka tidak menyebut secara eksplisit namun nampak sekali dari keraguan mereka. detik itu juga saya sadar bahwa mereka meminta tolong pendanaan.

nah masalah muncul disini karena asumsi mereka kesalahan ada pada saya yang memang memberikan obat yang dimaksud, saya kira wajar mereka berfikir seperti itu, namun dari sudut pandang saya ini menjadi dilematis, membantu mudah saja sebenarnya, tapi dengan melihat asumsi yang mereka miliki, bantuan akan di anggap sebagai bentuk pertanggungjawaban pihak yang bersalah. SSJ bentuk reaksi alergi obat yang berat yang sering tidak bisa diprediksi, kesalahan saya adalah tidak menanyakan riwayat alergi-apologinya adalah apakah kita harus menanyakan riwayat alergi setiap orang? jawabanya ya..betapapun banyaknya pasien yang kita hadapi

saya kira dalam situasi sosial masyarakat yang abnormal seperti ini, solusinya adalah memberi bantuan terbatas, dengan harapan tidak ada kelanjutannya.

rumah zakat menerima lebih dari 12.000 pasien tahun lalu, cepat atau lambat kita akan menghadapi hal seperti ini, dikatakan SSJ terjadi pada 1 orang diantara 1 juta orang pertahun
wah profesi ini rawan sekali :( harus banyak berdo'a

Jumat, 14 Maret 2008

Pengalaman buat Klinik


Tidak pernah terfikir dulu bahwa akan buat klinik sendiri, tapi begitulah tawaran datang dan tampaknya sebagai pilihan yang paling logis saat itu. Klinik ini tidak sepenuhnya milik pribadi, bahkan dari sudut kepemilikan, agak-agak kurang jelas, soalnya aku dan temanku itu bersepakat atas dasar 50-50, jadi semua keputusan didasari prinsip ini. klinik ini juga menempati sebagian dari rumah temanku dan tidak wajib membayar kontrak sepeserpun, termasuk biaya listrik dan air.

jadi jelas kenapa tampak pilihan yang logis bukan, temanku berfikir ia akan dapat manfaat karena praktek gigi pribadinya bisa lebih ramai, oya temanku ini dokter gigi. niatnya dulu ingin buka praktek pagi dan sore tapi sementara ini baru sore aja 5 jam (16.00-21.00) (senang sekali kalau ada yang mau ngisi praktek pagi ). merintis praktek sendiri, seperti juga tempat usaha lainnya pasti akan luar biasa sulit, jadi dibutuhkan mental yang tahan banting dan tidak mudah menyerah, dan tentu saja mau berkorban. dan yang terakhir ini sulit sekali dicari dari para dokter karena rata-rata sulit sekali mau berkorban menginvestasikan waktunya dengan imbal hasil yang tidak sebanding dan harapan yang kurang jelas tentang masa depan yang lebih cerah (prakteknya rame) so jadilah dari sejak pertama buka setahun lalu baru ada praktek sore.

kalau buka klinik zaman sekarang pertama-tama dari segi perizinan harus clear dulu, sebenarnya tidak sulit (tergantung lokasi juga sih ) persyaratan bisa diminta ke suku dinas kesehatan setempat bagian Pelayanan Kesehatan Dasar, pilih lah mau buat praktek pribadi atau balai pengobatan atau klinik 24 jam, lengkapi berkasnya masukan ke loketnya di kantor walikota (kalau di jakrta timur gitu), lalu tunggu saja 1-2 minggu, follow up aja via telpon bagaimana nasib berkasnya, karena harusnya berikutnya di kunjungi oleh tim dari yankesar. yang diperhatikan oleh mereka itu biasanya kelengkapan emergency (adernalin dkk), 2 tempat sampah infeksi dan non-infeksi, penghijauan, dll

lalu ada banyak tanda tangan dan tunggu satu-dua minggu lagi surat udah bisa diambil di walikota. oya itu izin klinik, lain lagi SIP pengurusannya lain, perlu rekomendasi IDI setempat dll
alhamdulilah tidak ada masalah saat kecuali orang sudin menghilangkan satu STR-ku :( tapi sudah ku balas setimpal hehehe. biaya SIP 100.000, izin klinik ( balai pengobatan ) 500 ribu , resmi udah ada SK-nya kok. anggaran buat alat-alat sekitar 1 jutaan, buat kursi meja, tempat tidur periksa, lemari obat dll, obat-obat awal habis 3 jutaan.

dan setelah setahun bulan februari 2008 dalam sebulan ada 57 pasien (dikit ya) dengan 22 hari kerja (@4-5 jam). tarif yang diberlakukan sekarang berada dalam kisaran 25 ribu sampai 50 ribuan dengan rincian, jasa 10 rb,administrasi 2 ribu (pasien baru 4 ribu), sisanya obat dan tindakan. sejak desember 2007 harga jual 0bat adalah harga beli + 30%

2 hari pertama buka, kami membuat semacam baksos, saat itu lebih dari 200 ratus pasien dalam 2 hari. berikutnya selama 2 bulan kami tidak mengambil untung dari obat.lalu tahap berikutnya kami mengambil kebijakan tarif pasien flat 15.000,- dengan kualitas obat biasa, dan tidak ada pembatasan jumlah hari peresepan. tahap berikutnya secara perlahan tarif disebar antara 15-20-dan 25 ribu tergantung obat dan tindakan. dan terakhir kami menerapkan tarif liberal seperti yang disebutkan diatas sejak bulan desember

jumlah pasien berfluktuasi namun suatu saat pernah mencapai 150 pasien per bulan dengan rerata harian 7-8 orang. take home pay bulanan (ga enak sebut nominal ) katakanlah cukup buat bayar cicilan motor new smash 2007. meskipun pasien dan tarif berubah-rubah, THP relatif stabil berkat adanya tindakan. pemasukan tindakan atau apapun yang memakai sumber dari lemari tindakan menjadi hak prerogatif ku, dan ini adalah sumber pemasukan yang cukup besar sekitar 50 %

alhasil kalau dibandingkan dengan zaman waktu kita masih "ngamen" dulu memang kalah jauh, dulu bisa sejuta sehari ya? tapi karena ini sifatnya sampingan dan interaksi dengan pasien ternyata cukup menghibur dan tentu bagi ku jumlah pasien yang sedikit berarti kita bisa ngobrol2, sekali-kali mencoba jadi dokter keluarga yang ideal ternyata menyenangkan juga jadi sementara ini enjoy aja deh tapi tetap ada batasnya, aku menetapkan 2 tahun, bila dalam 2 tahun suatu usaha tidak berkembang lebih baik dievaluasi lagi

lokasi klinik, tingkat ekonomi dan kepadatan penduduk, karakter khas warga sekitas juga harus ditimbang-timbang, saranku, bila kita buka klinik di pemukiman, tentukan 3-4 RW yang diproyeksi akan menjadi langganan. klinikku saat ini baru bisa menyasar 3 RW itupun belum keseluruhan RT-nya. kerjasama dengan asuransi akan banyak membantu juga.

begitu mudah-mudahan bermanfaat kalau kliniknya berkembang tolong aku ditawari ya ( kalau klinikku gulung tikar ) senang sekali bisa jaga sore di klinik daerah jakarta pusat-timur dalam radius 2-3 km dari salemba dengan rerata tingkat kunjungan pasien 10 perharinya dan sudah menerapkan tarif liberal + jam kerja maksimal 4 jam (bisa nego)

Kamis, 31 Januari 2008

Masalah Bau Mulut*

Bau mulut atau Halitosis adalah hawa dari rongga mulut dan hidung yang beraroma tidak enak, sebenarnya bau mulut normal samar-samar terdapat sedikit bau manis. Mengapa pada saat bangun tidur pagi hari atau di bulan Ramadahan bau mulut lebih terasa?

Pada dua keadaan diatas terjadi penumpukan sisa-sisa makanan yang tertinggal dalam rongga mulut diiringi menurunnya jumlah air liur sehingga proses pembusukan terjadi lebih cepat. Beberapa keadaan yang dapat mnyebabkan terjadinya Halitosis adalah kebersihan mulut yang jelek, karies dan penyakit gigi, sariawan dan berkurangnya jumlah air liur.

Kebersihan mulut yang jelek akan meyebabkan penumpukan sisa-sisa makanan. Pembusukan sisa makanan ini menimbulkan bau yang tidak enak. Gigi berlubang (karies) juga menyebabkan banyak sisa makanan tersangkut.

Penyakit gigi seperti karang, radang gusi dan dan infeksi, termasuk juga luka sariawan biasa disertai perdarahan, adanya darah dalam rongga mulut merupakan tempat hidup yang amat baik untuk kuman, sehingga proses pembusukan semakin hebat. Bagaimana cara mengatasinya ? Berikut beberapa tips yang dianjurkan :

· Menyikat gigi dan gusi setidaknya 45 menit setelah makan

· Membersihkan permukaan lidah

· Menelan makanan

· Segera mengobati peyakit gigi dan mulut yang dialami

· Menggunakan antiseptik kumur untuk mengendalikan kuman

Sumber : Jurnal KPPIKG –Fakultas Kedokteran Gigi UI

Penulis Drg Masagus Zainuri adalah Dokter Klinik Sriwijaya dan Rumah Sehat Masjid Agung Sunda Kelapa serta Pegawai Departemen Keseahtan RI. Kontak di 081317633764

Senin, 14 Januari 2008

Mengenal Nyeri Dada

Nyeri dada sering diasosiasikan dengan serangan jantung. Bagi pasien-pasien yang telah berusia cukup tua, penting sekali mengetahui serba-serbi nyeri dada ini. Nyeri dada pada serangan jantung ternyata lebih sering dikeluhkan sebagai ketidaknyamanan daerah dada.

Ketidaknyamanan ini sering digambarkan sebagai tekanan, rasa berat, rasa sempit, dan seperti diremas. Selain itu juga bisa seperti terbakar dan tersedak. Dari segi lokasi juga ternyata tidak melulu di daerah dada, bahkan bisa dirasakan di daerah ulu hati, punggung, leher, rahang bawah atau bahu.

Nyeri dada atau Angina seringkali dipicu oleh olahraga ( kerja fisik ) dan keadaan emosi, berlangsung hanya sekitar 1-5 menit, namun bila berlangsung selama 15 menit lebih dan semakin lama semakin berat, ini merupakan suatu kondisi yang mengarah pada Infark Miokard Akut/Serangan Jantung.

Infark Miokard Akut adalah suatu kondisi dimana otot jantung tidak mendapatkan cukup darah dan olsigen, sering disebabkan adanya aterosklerosis pembuluh darah jantung sehingga sel otot jantung mati. Mudahnya hal ini bisa di ibaratkan seperti mesin, mesin membutuhkan bensin pada serangan jantung, selang bensin tersumbat kotoran, hingga mesin tidak mau hidup atau mogok.

Pada orang yang gemar merokok, kelebihan berat badan ( tinggi kolesterol ) , darah tinggi selang/pembuluh darahnya amat sering telah terjadi penyempitan dan penyumbatan hingga mereka yang memilki keadaan diatas patut waspada, segera berobat dan berhenti merokok dan hindari olahraga yang berlebihan

diterbitkan dalam buletin klinik sriwijaya edisi I/01/08 dengan judul yang sama- sumber wikipedia angina pectoris

Selasa, 11 Desember 2007

Bahaya Diabetes Melitus Tipe II

Diabetes atau sakit gula adalah penyakit yang berbahaya karena menimbulkan banyak komplikasi, diantaranya yang paling ditakuti adalah kerusakan pembuluh darah otak atau Stroke.

Penderita Diabetes dapat mengalami stroke bila terlambat mendapat pengobatan. Stroke banyak dialami oleh penderita diabetes yang disertai beberapa penyakit dan atau kebiasaan berikut :

· Penyakit darah tinggi/ Hipertensi
· Dislipidemia/kelainan kadar lemak darah
· Merokok
· Penyakit Jantung Koroner

Komplikasi lain adalah Kerusakan Ginjal atau Nefropati, yang berakibat pada rusaknya fungsi ginjal ditandai dengan pembengkakan bagian tubuh seperti kelopak mata dan kaki bagian bawah, sulit atau jarang kencing, batuk lama, dan sesak nafas karena penumpukan cairan tubuh. Bila ginjal sudah tidak berfungsi sama sekali maka terpaksa harus cuci darah untuk membuang kotoran yang ada dalam darah.

Komplikasi berikutnya menyerang mata atau Retinopati. Kerusakan pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan dan mempercepat timbulnya Glaukoma dan Katarak. Komplikasi terakhir dan yang paling sering terjadi adalah Neuropati atau kerusakan saraf terutama pada telapak kaki. Dimulai dengan adanya kemerahan, rasa hangat dan peenbalan telapak kaki, diikuti rasa kesemutan dan baal, bila penderita tidak segera berobat untuk mengontrol kadar gula darah maka dapat timbul luka yang sulit sembuh dan bukan tidak mungkin pada akhirnya perlu di amputasi.


Sumber : Standard of Medical in Diabetes– 2007
American Diabetes Association (ADA)
diterbitkan dalam Buletin Klinik Sriwijaya edisi II/12/07

Senin, 03 Desember 2007

Mengenal Diabetes


Diabetes atau sakit gula adalah penyakit kronik yang membutuhlkan penanganan medis terus menerus untuk mencegah terjadinya komplikasi. Diabetes ada 2 jenis yaitu Diabetes Tipe I dan Diabetes tipe II, yang sering dialami dan banyak terjadi adalah Diabetes Tipe II.

Gejala diabetes yang umum adalah bila seseorang menjadi sering minum tanpa sebab jelas, menjadi sering makan, dan sering kencing sampai 3-4x terutama malam hari serta kadang-kadang mengalami penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Diagnosis Diabetes ditegakkan bila seseorang memiliki beberapa gejala diatas dan pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu hasilnya lebih besar dari 200 atau pada pemeriksaan Gula darah Puasa ( minimal 8 jam) hasilnya lebih dari 126

Seseorang dianjurkan untuk memeriksakan dirinya untuk mengetahui apakah menderita diabetes atau tidak, bila ia telah mencapai usia 45 tahun, terutama mereka yang kegemukan. Bila ditemukan normal/tidak ada Diabetes, disarankan untuk check up paling lambat 3 tahun kemudian. Pemeriksaan diajurkan untuk usia yang lebih muda dari 45 tahun atau diulang lebih cepat pada mereka yang kegemukan dan memiliki keadaan sebagai berikut :

· Terbiasa tidak olahraga/jarang beraktivitas fisik
· Ada saudara dekat (orang tua,anak,kakak,adik) yang menderita Diabetes
· Pernah melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4 kg
· Ada hipertensi/darah tinggi ( > 140/90 )
· Kadar kolesterol HDL <> 250
· Ada Sindroma Ovarium Polikistik
· Pada pemeriksaan sebelumnya kadar gula meningkat namun belum sampai diatas 200 ( GDS ) dan 126 ( GD Puasa)

Sumber : Standard of Medical in Diabetes– 2007
American Diabetes Association (ADA
Tulisan ini juga diterbitkan pada Buletin Mingguan Klinik Sriwijaya

Selasa, 30 Oktober 2007

Bell's Palsy

tadi malam datang pasien perempuan 28 tahun dengan keluhan wajah terasa tertarik ke sebelah kanan sejak 3 hari. tanda vital dalam batas normal, pada pemeriksaan lokalis terlihat adanya asimetri ketika os diminta untuk tersenyum,menutup kelopak mata dan mengerutkan dahi.

tidak mampunya pasien mengerutkan dahi menandakan masalah ada di perifer dan bukan sentral, karena bagian dahi memiliki dua persarafan dari kiri dan kanan. bila masalah di sentral maka bagian dahi masih tetap bisa dikerutkan. ini adalah kekhasan dari properti N. fasialis.

os tidak merasa demam,pusing, tidak ada riwayat trauma wajah,tidak ada vesikel herpes zooster, kecuali bicara yang menjadi kaku, maka diagnosis sementara adalah paralisis nervis fasialis kiri perifer atau bell's palsy. bell's palsy adalah mononeuropati paling umum yang dapat terjadi dengan penyebab yang tidak jelas, biasa akan sembuh dengan sendirinya dalam 2-3 minggu.

pengobatan dengan kortikosteroid prednisolon dan acyclovir dapat membantu. pasien ini diberikan dexametason 2x1,asam mefenamat 2x1 dan vitamin neurotropik 1x1, os diminta kembali dalam 1 minggu untuk evaluasi paralisis menggunakan House-brackmann grading scale

ini pasien bell's palsy pertamaku dan pertama kalinya melihat dalam bentuk yang klasik.

Senin, 29 Oktober 2007

Klinik Sriwijaya

Suatu hari pasca PTT, waktu itu kami job seeker kumpul-kumpul di sekretariat masjid Arif Rahman Hakim di salemba. omong punya omong terlontar ide membuat klinik sendiri, gayung bersambut dan jadilah klinik sriwijaya.

zainuri dan aku bersepakat membangun klinik, mengambil tempat di rumahnya daerah kayumanis matraman. dalam tulisan ini aku ingin berbagi serba serbi membangun klinik, suatu jalan yang jarang ditempuh karena tidak banyak menghasilkan-pada awalnya,begitu harapanku-sulit, perlu komitmen tinggi dan telaten.

hal pertama yang kami cari adalah realitas persaingan yang ada, klinik paling ramai dalam radius 500 m memiliki kisaran tarif 25-30.000. maka kami tetapkan sedemikian pula tarif yang akan kami pakai. berikutnya adalah perizinan,dibutuhkan kesabaran dan totalitas waktu untuk mengurusnya, izin klinik, sip dan kunjungan selesai dalam 3 bulan. persyaratan bisa dilihat pada brosur yang ada di dinas kesehatan setempat. yang jelas klinik kami berupa balai pengobatan umum dan dokter gigi praktek swasta.

berapa modal yang kami keluarkan? untuk perizinan tidak sampai satu juta rupiah, tanpa uang pelicin yang alhamdullilah berhasil kami hindari. belanja obat pertama kami habiskan 1,5 juta, gaji pegawai sebesar 300 ribu rupiah per bulan. sistem kepemilikian prinsip dasarnya adalah 50-50

komponen tarif terdiri dari jasa dokter+administrasi+ obat, ditambah jasa tindakan bila ada. klinik kami saat ini tidak mengambil margin keuntungan dari obat bahkan subsidi silang, dengan cara ini tarif bisa ditekan tanpa mengurangi kualitas obat.

problem utama klinik baru tentu adalah tingkat kunjungan pasien. marketing dan promosi tentu dilakukan, spanduk dan pamflet disebar, mengetahui karakteristik warga sekitar vital dalam penyusunan isi spanduk/pamflet, kemampuan dokter dan policy klinik terhadap beberapa pasein dapat menghasilkan pasien-pasien langganan.

klinik kami selama 6 bulan pertama rata-rata tingkat kunjungan hanya 100/bulan, padahal target kami 200/bulan atau sekitar 15-20 pasien /hari. hitung-hitungan kami dengan tingkat kunjungan yang memadai akan menutup semua biaya dan memberikan jasa yang menjanjikan pada dokter, pada gilirannya akan memudahkan mendapatkan dokter pengganti. namun sebelum semua itu terjadi jangan harap mendapat dokter pengganti, kita harus rajin hadir 6 hari seminggu dan siap bila jasa dipotong untuk menutup biaya.

2 tahun operasi,menurut kami akan memperlihatkan apakah klinik ini akan hidup terus atau akan mati
sekarang klinik kami masih berjuang, jasa yang didapat lumayan lah buat cicilan motor...doakan ya 10 tahun dari sekarang klinik kami masih survive dan berkembang menjadi rumah sakit.