Minggu, 2009 Juni 14

Star Trek

Space the final frontier
These are the voyages of the starship Enterprise
The ongoing mission to explore strange new worlds
To seek out new life form and new civilizations
to boldly go where no one has gone before

Kamis, 2009 Mei 28

Memilih atau Tidak Memilih

Memilih atau tidak memilih itulah pertanyaan besar pekan-pekan ini sehubungan Pemilu Presiden. banyak yang menyatakan kekecewaan terhadap ke 3 pasangan kandidat, banyak juga kekecewaan terhadap partai-partai. Infomasi yang berseliweran dengan cepat, bertentangan satu dengan yang lain, komentar-komentar provokatif pengamat, silang pendapat di media menambah hiruk pikuk dunia politik yang sedang memanas, dan tentunya masyarakat yang peduli urusan politik, semakin bingung dan gamang menentukan pilihan...tapi hei ! hal itulah yang memang sedang di lancarkan oleh setiap tim sukses kandidat...mengoyahkan keyakinan kita dengan menebar berita busuk , mengeksplotasi setiap celah kelemahan kandidat lawan

nah kalau anda bertanya, bagaimana dengan saya ? 

Percayalah kawan saya sama sekali tidak bingung, saya tahu dan mengerti sekali tidak setiap pemberitaan tersebut sesuai dengan kenyataan terkadang terjadi misinformasi, perbedaan persepsi , daya tangkap, dan kaca mata cara pandang terhadap persoalan. sederhananya apapun yang kita lihat di TV atau di Koran, tidak sepantasnya serta merta dijadikan dasar perubahan keyakinan

Seperti yang setiap muslim tahu..manakala datang berita jelek tentang saudara kita -apalagi berasal dari sumber yang tidak otoritatif- maka selayaknya kita tabayyun langsung, bila keadaan tidak memungkinkan maka berprasangka baiklah, tokh ia saudara seiman juga.

Berkenaan langsung dengan kegamangan dan kebingungan yang melanda banyak orang ini..saya tegaskan bahwa jama'ah dakwah ini telah mengambil posisi melalui forum majelis syuro untuk ber musyarokah dengan salah satu kandidat, dan karenanya bila keputusan syuro telah tetap, maka ia mengikat kita semua untuk mengikutinya sesuai bayanat yang ada. pertanyaannya apakah keputusan ini tepat atau tidak ? banyak kepala tentu banyak pendapat, namun saya memilih untuk meyerahkan pilihan saya pada keputusan yang ada, sebagai suatu ijtihad. Ijtihad yang diambil oleh forum yang memang berwenang, dan di isi oleh generasi terbaik yang kita miliki.

Bila waktu membuktikan keputusan tersebut benar maka 2 pahala tercatat, bila ternyata salah maka 1 pahala tercatat, transaksi yang bagus bukan ? sebaliknya bila kita memilih berdasarkan pengamatan pribadi yang terbatas lagi dipenuhi hawa nafsu, melalui perantara media yang seringkali bias dan berpihak tentu besar kemungkinannaya kita akan merugi.

Sama saja untuk yang terfikir Golput, sementara fatwa majelis ulama telah menyatakan haram, ketiga kandidat adalah muslim, yang memiliki kapasitas dan pengalaman, tidak ada alasan untuk menolak memberikan suara. kalaupun ternyata memberikan suara kita itu salah tokh tetap ada pahala tercatat karena kita mengikuti fatwa, transaksi yang aman bukan ?

Jadi kawan masalahnya sederhana saja sebenarnya.. pertama adakah kepercayaan kita terhadap jama'ah dakwah ini utuh atau tidak? percayakah kita bahwa para qiyadah adalah generasi yang lebih baik dari kita pribadi dan karenanya layak mengemban amanah kepemimpinan dan menjadi wali atas urusan-urusan kita ?

Kedua bila premis pertama telah selesai maka berikutnya adalah maukah kita melepaskan ego intelektual kita, berhenti membanggakan ketajaman analisa kita, merobek baju kesombongan yang kita pakai seraya memberikan kepercayaan dan prasangka yang baik pada pemimpin kita yang dengan rendah hati kita akui memang adalah generasi yang lebih baik dari kita di mata Allah swt.


The wise is not the one who differentiates good from bad. It is the one who differentiates the best out of two good choices, and the worst out of two bad choices
 -Amru ibn Ash Ra.-

Jumat, 2009 Mei 01

Emperor :A Novel Of Julius Caesar


Akhirnya selesai juga membaca rangkaian seri Emperor dari Conn Iggulden. dimulai dari sekitar tahun 2006, diperkenalkan oleh kakak The Gates Of Rome, buku pertama dari seri Emperor. Ini adalah Novel bergenre Novel Sejarah mengenai perjalanan hidup Gaius Julius Caesar dan sahabatnya Marcus Brutus.

Cerita dimulai dari saat mereka kecil dan besar bersama di Caesar's Estate dibawah bimbingan sang Ayah, Si Budak Tubruk dan gladiator-pahlawan 
Renius. kisah ini membawa kita pada peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Kota Roma : Kisah Consul Marius dan Primigenia-nya serta seteru abadinya Cornelius Sulla, Pemberontakan Spartacus dan Mithridates, Triumvirate Pompey-Crassus-Caesar, Penaklukan Gaul dan Vercingetorix. Ekspedisi ke Briton, Pertempuran terakhir di Pharsalus, dan tentu saja petualangan Caesar 
dan kawan-kawannya serta 2 legiun di Alexandria bersama Cleopatra.

Emperor juga memberikan kita insight ke dalam budaya kota Roma yang menjadi pusat dunia saat itu, pengetahuan mengenai kehidupan para veteran legioner serta aksi mereka di medan pertempuran. Intril politik di senat termasuk juga kisah pengkhianatan Marcus Brutus dan pembunuhan Gaius sahabat lamanya.

bagi mereka yang terpesona dengan bagian awal dari film Gladiator, maksud saya adalah saat terjadi peperangan dengan suku-suku Germania,
 serta aksi para Extraordinarii-pasukan berkuda 
pasti juga akan menyukai aksi pertempuran-pertempuran dalam buku ini, bagaimana para legioner melakukan Forced March melintasi semenanjung italia mengejar para budak pemberontak Spartacus, serta bagaimana aksi gerilya Caesar dan pasukannya menghadapi ratusan ribu yunani dibawah pimpinan Mithridates dan tentu saja menyaksikan pertempuran bersejarah Pharsalus antara Caesar dan Pompey

ini adalah kisah terutama tentang kharisma seorang jendral besar pada zamannya, keadilan dan kasih sayangnya terhadap pasukannya dibalas dengan kesetiaan tanpa batas dan berbuah kemenangan dan kehormatan tanpa banding sebelumnya-kecuali Alexander yang agung. Jendral yang mampu memenangkan hati pasukannya sebelum memenangkan pertempuran sebenarnya. ini adalah kisah seorang Imperator yang mengakhiri Republik Roma dan memberi jalan pada Kekaisaran Romawi di bawah Kaisar Augustus atau Oktavianus seorang kerabat jauh dan jendral Legiun Kelima.

kesimpulannya seri ini amat direkomendasikan namun perhatikan waktu yang anda miliki karena sekali memulai sulit sekali membiarkan buku ini tertutup lagi, selamat membaca ! 
ROMA VICTOR !!

Minggu, 2009 April 26

Komplikasi Domestik Reumatik


Reumatik adalah salah satu penyakit yang bikin saya mati kutu..bagaimana ya..sebenarnya dulu waktu stase IPD, giliran bagian reumatologi itu salah satu yang menyenangkan..itu kalau memeriksa dengkul ama tumit nenek-nenek termasuk mengasyikkan. Anyway kali ini saya mau bercerita tentang Ibu M.

Ibu M 50 tahun adalah contoh klasik pasien saya yang menderita reumatik dan menderita karenanya, maksud saya penyakit ini membawanya pada masalah lain. 2 tahun terakhir ini Ibu M cukup rutin berkunjung ke ruang praktek saya hingga kami sudah saling mengenal dengan baik. Penyakit reumatiknya sebenarnya begitu-begitu saja, seharusnya dia sudah meminta pertolongan spesialistik sejak lama namun terkendala masalah dana, masalah klasik pasien saya ( baca tulisan saya sebelumnya Rastinah dan Rasingkem )
jadi obat yang saya berikan itu-itu saja dengan saran terapi non-farmakologis yang saya tahu tidak akan dia laksanakan. satu-satunya saran saya yang dia sepakati adalah agar seperlunya saja meminum obat tersebut, mengingat efek sampingnya.

tapi bukan penyakitnya yang ingin saya bicarakan tetapi akibat dari penyakit ini terhadap dirinya dan keluarganya yang membuatnya datang pada saya siang itu dengan wajah yang lain dari biasanya. sebelum masuk lebih dalam saya mengambil risiko sedikit menyerempet hak kerahasiaan pasien karena ini adalah kedua kalinya saya berada dalam situasi ini dan kekhawatiran lama saya nampaknya memang fakta yang ada di masyarakat.

Ibu M mempergunakan saya siang itu sebagai "exit valve" atas kegundahan hatinya, selama 15 menit dia memperlakukan telinga saya bagai jendela untuk melepaskan kekesalan yang menumpuk dalam dada, kekesalan terhadap suaminya..siapa lagi ?! pertanyaan utamanya adalah ia ingin mengetahui apakah dirinya ini-menurut pengamatan saya- stress atau gila? adakah tanda-tanda kearah sana? tentu ini bukan pertanyaan biasa fikir saya dalam hati. maka mulailah saya dengan serangkaian pertanyaan psikiatri untuk mengetahui duduk persoalannya.

awalnya ia mengatakan bahwa ia mudah marah terhadap cucu-cucunya, ( kasus : nenek merawat cucu, karena si ibu jadi TKW di Arab) tapi tidak lama waktu dibutuhkan untuk mengetahui bahwa suaminya lah yang menjadi biang keladinya ( kasus : suami pengangguran yang mengandalkan hasil keringat istrinya ) bertahun-tahun cerita dia bahwa kondisi ini ditelannya karena ia masih sanggup berusaha dan mendapat penghasilan sendiri. tapi seperti yang sudah kita ketahui reumatiknya akhir-akhir ini membuatnya menjadi amat terbatas, nyeri dan kekakuan sendi itu memaksanya melupakan kegesitan dan semangat muda yang pernah dimiliki

jadi lambat laun ia semakin mengharapkan agar suaminya berubah dan mengambil tanggung jawab mencari nafkah sebagaimana layaknya lelaki sejati. kebebalan dan sifat keras kepala suaminya inilah yang membuat wajah Kartini modern ini begitu muram didepan saya. Jadi kita lihat suatu penyakit yang datang telah membuat keluarga ini jatuh dalam krisis, sampai-sampai penopangnya, tempat anggota yang lain bersandar, terlihat kesulitan menghadapi krisis ini.

ini adalah kasus untuk seorang dokter keluarga. dalam pendidikan dulu saya juga pernah mendapati keluarga lain dengan penyakit lain ( TBC ) berkubang dalam situasi yang serupa, saat itu dan sekarang kesimpulan saya tetap sama, tidak banyak yang kita ( dokter ) dapat lakukan selain berusaha agar penyakit ini tidak terlalu memberatinya, namun agar ia dapat menyesuaikan hidupnya dan keluarganya berdampingan dengan penyakit ini memerlukan campur tangan yang lain. siapa yang sanggup menasehati suaminya? siapa yang dapat mencarikan pemecahan masalah ekonominya ? siapa yang dapat melindungi para cucu dan menjamin tumbuh kembang mereka ?

psikolog, konsultan keluarga, petugas sosial, orang tua asuh, pelayanan spesialistik, perlindungan anak....semuanya ada fikir saya tapi terpisah-pisah dan inaccesible untuk profil pasien saya yang datang dari kaum marginal, kaum miskin kota. Yang saya butuhkan adalah ketika menghadapi kasus seperti ini kita dapat menanganinya secara terpadu, multidisiplin. tim yang mudah diakses, dan mengenal lapangan serta tentunya memiliki perhatian yang sepenuhnya profesional.

Rabu, 2009 April 15

Kebaikan Pada Akhirnya Akan Menang

saya selalu percaya bahwa cara terbaik mendapatkan ilmu adalah dengan membaca langsung dari sumbernya, menuliskan apa yang kita dapat, dan mendiskusikannya dengan teman seperjalanan. maka dari itu saya percaya bahwa sistem pendidikan saat ini (kedokteran) sudah berada pada jalan yang benar.

sistem yang student centered dan evidence based, sistem yang dipenuhi proses diskusi, belajar mandiri, pembuatan laporan, sistem yang memungkinkan kita menemukan "AHA" secara mandiri, sistem yang memungkinkan kita membuat konstruk ilmu dalam kepala kita dengan cara yang paling personal dan unik milik kita sendiri adalah pengejawantahan dari keyakinan saya tersebut.

berangkat dari keyakinan tersebut dengan semangat saya mengkampanyekannnya pada setiap orang yang saya temui (mahasiswa) namun apa lacur...antusiasme saya seringkali tidak bersambut. saya terfikir kasus yang sama juga terjadi tapi pada bidang lain, maksud saya adalah demokrasi. sejatinya kita tentu memilih wakil dan pemimpin yang terbaik, yang dapat dipercaya dan mampu mengemban amanah, tapi kenyataannya masyarakat kita banyak yang memilih seseorang hanya karena dijanjikan uang atau seseorang dipilih karena ketampanannya, atau karena dorongan peer-group dan banyak alasan lain.

intinya adalah seringkali kebenaran itu tertutupi oleh hal-hal lain, seringkali dikalahkan demi tujuan jangka pendek, dan tidak ambil pusing bagaimana jangka panjangnya. saya pernah membaca masyarakat kita adalah masyarakat yang berfikiran pendek, dan pelupa...ya negara lain sibuk berinvestasi di sektor riset dan pendidikan yang hasilnya mungkin baru terlihat ketika generasi berganti. sementara semua orang tahu betapa menjadi seorang peneliti di negri ini berarti hidup sederhana dan kesepian, minim perhatian dan sorotan.

dalam kasus saya maka kebenaran itu pun tertutupi oleh mental pikiran pendek itu, ini cerita lama, siapa sih yang tidak mau dapat nilai bagus, siapa sih yang ingin IPK-nya hancur?, tugas selesai alakadarnya, yang penting saat ujian nanti. saya rasa kita semua ( saya sendiri ) juga berfikir seperti itu dulu, namun kesadaran memang datang belakangan.

saya rasa kita semua tahu keberhasilan, kesuksesan, keuntungan yang didapat dari hasil kerja yang semu, atau dari kecurangan, pada akhirnya akan kembali pada kita sendiri dimasa depan atau di akhirat nanti. banyak yang bertanya-tanya mengapa orang-orang yang jahat atau licik selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara orang-0rang yang tulus, dan lurus mendapat banyak kesulitan dan tantangan?

ini salah satu pertanyaan dasar dalam kehidupan, saya hanya berharap agar segelintir orang yang tersisa meneguhkan keyakinan mereka akan janji Allah, kebaikan pada akhirnya akan menang dan Allah bersama orang-orang yang beriman dan teguh dalam keimanannya.

semoga Allah menguatkan hati kita dan menunjuki kepada jalan yang lurus sepanjang sisa hidup kita. Amin

Senin, 2009 April 13

Sam Kok dan Tere-Liye

2 pekan terakhir ini banyak liburan panjang di akhir pekan, akhirnya berkesempatan juga ke Gramedia setelah...berapa ya? mungkin ada 4-5 bulan tidak disambangi. Terus terang Gramedia di Depok agak mengecewakan..bagaimanapun Gramedia Matraman tetap lebih baik, nevertheless, kita pulang dengan 2 buku yang potensial, pertama Karya terakhir Tere-Liye : Rembulan Tenggelam di Wajah mu dan Sam Kok yang tulis ulang oleh penulis indonesia.

Sempat bingung juga ada banyak jenis buku bertema "tiga kerajaan" ini dan indra penasaran sekali ingin membaca cerita lengkapnya, sebenarnya sudah lama sekali terpapar dengan kisah 3 bersaudara Liu Bei, Zhang Fei dan Guan Yu pertama sekali dulu waktu SMU sering memainkan Game Dos Sam Kok dari Koei, lalu tentu saja komik Legenda Naga yang ternyata sekarang mulai dari nomor 1 lagi entah kenapa? meski ceritanya tetap nyambung, dan yang terakhir tentu saja "Red Cliff " yang luar biasa, pantas saja di game dulu kalau kita dapat Kong Ming maka seakan tidak terkalahkan meski jumlah pasukan lebih sedikit

Ingin membuat resensi buku Sam Kok ini cuma belum sempat aja, dan tidak bisa luar kepala karena terlalu banyak detail yang perlu diperhatikan, membaca buku ini seperti membaca cerita sejarah tapi tanpa disibukkan dengan tanggal dan tahun, ada banyak kisah kepahlawanan dan heroisme yang tidak terlalu didramatisir, maklum karena ia berusaha merangkum kisah dari sejak 3 orang hebat bersumpah untuk bersaudara sampai 3 kerajaan sama kuat berdiri menopang kestabilan di daratan china.

tapi kali ini sempat membuat resensi atau apalah namanya dari buku tere-liye yang baru, berikut adalah tulisan yang telah dipublikasi sebelumnya di facebook :

tere-liye dalam bukunya yang terakhir Rembulan Tenggelam Di Wajahmu membawa kita mengarungi 60 tahun kehidupan Ray dengan 5 pertanyaan yang terlalu sering kita temui dalam kehidupan setiap manusia bahkan kehidupan kita sendiri.

kisah klasik drama kehidupan Ray disajikan dengan apik dan indah, gaya flashback membuat rasa ingin tahu memaksa kita lekat dalam setiap lembaran cerita. kisah sederhana yang memancing air mata mengembang. hikmah yang kita semua sudah mafhum disampaikan ulang secara...memikat mengundang introspeksi diri

tere-liye konsisten dengan kalimat-kalimat berkelas koleksi, daya magis sebuah do'a yang tulus, serta keadilan kehidupan. kisah ini seputar 5 pertanyaan

mengapa kita dilahirkan disini, di besarkan disini, tidakkah kita dapat memilih?

apakah hidup ini adil?

mengapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?

mengapa setelah sejauh ini semuanya tetap terasa kosong, terasa hampa?

mengapa takdir sakit itu mungungkung kita?

dijawab tuntas dan menyentuh oleh Orang yang berwajah menyenangkan dengan sebuah perjalanan kilas balik selama 60 tahun, jawaban ditunjukkan dengan meyingkap garis kehidupan yang terjalin satu sama lain bagai bola raksasa takdir yang berputar sesuai hukum sebab-akibat.

begitulah berikutnya adalah tulisan tentang Sam Kok mudah-mudahan sempat.

Selasa, 2009 Maret 31

Kejutan Biomedik dan Guru Singa

Hari ini memang luar biasa, begitu banyak kejadian penting yang terjadi susul menyusul. pertama-tama hari ini selasa 31 maret 2009 adalah hari terakhir penyerahan SPT wajib pajak perorangan, dan hari ini juga adalah hari yang telah aku cadangkan untuk persiapan terakhir ujian I blok respirasi besok. Jadi pagi ini aku berangkat dari rumah dengan pikiran bagaimana caranya aku bisa menyerahkan SPT itu sementara aku harus menyusun soal ujian dan memperbanyaknya untuk dipergunakan besok. Dua hal ini saja sudah sulit dikompromikan.

jadi setelah lihat-lihat dan riset sedikit via goggle aku menyerah, biarlah ku bayar saja denda itu tokh salah ku juga menunggu-nunggu sampai terlambat. Dengan demikian perhatianku sepenuhnya tercurah untuk mempersiapkan soal sebaik-baiknya agar tak ada satupun kesalahan ketik atau lebih parah lagi terpaksa meralat soal besok. saat asyik-asyiknya aku menekan tuts-tuts keyboard itu datanglah telepon yang pertama, jam 10-an kira-kira.

terkejut bukan kepalang aku mendengar seseorang diseberang sana yang mengaku menelepon dari sekertariat biomedik bertanya 

"kenapa anda belum juga menyerahkan berkas untuk diseleksi ?" aku balik bertanya 

"memang saya sudah diterima Pak? " ia balas begini 

"anda tidak buka-buka websitenya ya? sudah diumumkan sejak lama dan sudah 2 minggu yang lalu seharusnya berkas anda kami terima....". 

Hati siapa tidak meloncat...kufikir baru awal bulan ini ada pengumuman, segera ku buka situs yang dimaksud dan ternyata tepat benar perkataan si bapak barusan tertulis dengan manis disana selamat anda telah lulus ujian masuk...dst belum sempat aku senang kembali bapak itu bertanya 

"anda serius kan mau sekolah ?" kujawab segera
 
"serius sekali pak !" 

 "kalau begitu" katanya "sebelum jam 12.oo berkas dimaksud harus sudah diterima oleh panitia di rektorat depok..."  olala berputar cepat benakku bagaimana caranya ?! maka kubilang padanya

" saya di jakarta pak dan sekarang sudah jam sepuluh.." dengan agak memelas

kututup telepon dengan bingung..kubaca-baca, situs tersebut menyebutkan nomor fax dan alamat PO.BOX, semangat ku bangkit mungkin TIKI bisa menolongku..belum selesai aku menyiapkan berkas yang diminta kembali telepon ku menjerit-jerit alamak ! nomor yang tadi lagi....

"ya halo " kataku

" maaf dok in ketua program mau bicara " sahut nya, yaikss gugup ku tunggu dia bicara

" begini saja" katanya " saya sudah bicara dengan rektorat, kalau anda bisa serahkan berkas ke salemba sebelum jam 12.00 saya akan OK kan ke depok, tapi anda tetap harus serahkan berkas juga ke depok hari ini"

" bisa begitu dok ya " kataku

"iya saya tunggu sampai jam dua belas lewat dari itu saya anggap gugur " balasnya
baiklah akhirnya aku sanggupi, rencana matang mulai tersusun dalam kepala ku

kusiapkan berkas dan kuminta tolong pak margono (makasi pak ! ) untuk mengantarkan berkas itu ke salemba, dan pos kan yang satu ke TIKI one day service,  mudah-mudahan berhasil, kurasa itu sudah yang terbaik bisa dilakukan saat itu.

jadi setelah pak margono berangkat, aku kembali pada soal yang harus diselesaikan tapi kali ini dengan pikiran yang tidak tenang, mudah-mudahan tidak ada kesalahan yang parah atau kunci jawaban yang lupa kuhapus ( maaf ya anak-anak.. ). zuhur berlalu dan semua berjalan lancar sampai muncul telepon yang kedua, saat itu jam menunjukan pukul 13.30

telepon itu dari tante pitut adik ibuku ( indra punya tante pitut juga tan !) mengabarkan bahwa tante ku yang lain, tante Ade, tertabrak motor dan mengalami patah tulang dan sekarang sedang di obati di pengobatan alternatif patah tulang Guru Singa...sampai sini aku alisku mulai naik..Guru Singa ?! setelah kucatat alamat dan berjanji akan datang menjenguk sore hari nanti, aku segera bertanya pada paman Goggle.

dengan google map aku mendapat gambaran lebih jelas rute mana yang harus kuambil, ku baca-baca nampaknya tempat pengobatan ini cukup populer dan sering kali jadi alternatif utama para bikers. kucoba tanya-tanya pada pegawai di kantorku dan ternyata mereka tahu bahkan berkata ada alumni yang bekerja disana.

jadi sore itu berkunjunglah aku ke Klinik pengobatan patah tulang Guru Singa di jalan raya pondok kelapa, informasi di HP ku menunjukkan daerah ini termasuk wilayah Bintara. Keadaan tanteku cukup baik untuk yang mengalami kecelakaan dan patah tulang kakinya, tepatnya di sepertiga distal tungkai bawah kanan entah kemingkinan os fibulanya yang patah. kulihat daerah tersebut telah difiksasi dengan spalk dan dibalut dengan kain elastis yang sesuai meski spalknya tidak cukup panjang hingga tidak sampai memfiksasi sendi lutut dan pergelangan kakinya.

tapi kufikir cukuplah untuk alternatif, paling tidak mereka tidak terlalu sembarang. jadi perhatian ku beralih pada klinik ini sendiri. Tanteku ditempatkan di ruang perawatan kelas III Kambuna ( klinik ini cukup besar hingga memiliki ruang perawatan )  ada 7 dipan tanpa kasur yang terisi penuh. Ruang ini diisi oleh 3 anak usia SD, satu SMP dan 2 dewasa perempuan termasuk tanteku. semuanya menderita patah tulang ( pastinya ya ). 

semua orang berkata disini ada dokter yang mengunjungi mereka setiap hari, setengah tak percaya, sampai kulihat seorang berusia 30-an berbaju kemeja putih dengan 2 kancing paling atas terbuka (OMG !) plus name tag : DR H. XXXXX, memeriksa kondisi fiksasi yang terpasang pada pasien baru, memegang perut tanteku yang mengeluh mual dan muntah, lalu ia memberikan instruksi yang sayang sekali tidak jelas terdengar oleh ku, dan segera dicatat oleh lelaki asisten yang membuntutinya dengan kertas buram bagai resep. 

meski sesak dadaku melihat dokternya, melihat pola kerja seperti ini mau tidak mau aku mengakui ada tangan dokter yang bermain disini mengintrodusir pola kerja seperti di rumah sakit. Plang di depan juga mengisyaratkan bahwa klinik ini dibangun oleh seorang berpendidikan tepatnya Prof (HC) DR (HC) Ng Rusli Guru Singa almarhum. 

Goggle membawa ku pada blog seorang dokter yang mengaku bekerja di tempat ini, dalam blognya Alloen Endonesia menjelaskan bahwa di klinik GS ini diterapkan tehnik Traksi Luar yang dikerjakan oleh tukang pijat tradisional, lalu dibaluri oleh minyak khusus ramuan tradisional baru kemudian di immobilisasi. Dokter berperan lebih sebagai konsultan dan penanganan kasus berat, dokter memiliki hak untuk menolak dan menerima pasien, selain itu dokter juga bertanggung jawab terhadap seluruh pasien rawat inap. Menurutnya saat ini terdapat 60 pasien rawati inap perhari dan 100 pasien rawat jalan yang tangani oleh klinik GS.

Kembali pada situsi klinik, selain Kambuna ada Sibayak, Sibolangit, Tampomas dan lain-lain mencakup kelas I dan II, karena ada yang sendirian saja dalam satu kamar ber AC, persis seperti di rumah sakit dengan TV dan halaman, biaya rawat di Kambuna sendiri adalah IDR 70.000 perhari termasuk makan, saat admisi telah dikenakan biaya sampai IDR 700.000 untuk biaya reposisi dan fiksasi plus dokter dan tukang pijatnya belum termasuk obat. Nenek disebelah yang cucu perempuannya patah os femur mengaku telah 20 hari dirawat dan telah menghabiskan IDR 3.500.000,-  dan ia masih bersyukur karena biaya lebih besar pasti harus dikeluarkan kalau ia ke rumah sakit, keluarga ini berharap senin depan sudah bisa pulang.

Ada satu hal unik lainnya, setelah melihat nama-nama ruang perawatan dan suasana lingkungan kinik jadi bertanya-tanya apa kah nama guru singa itu ada hubunganya dengan hewan singa betulan atau jadi-jadian atau jangan-jangan harusnya Gurusinga itu marganya orang batak ?! tahun lalu pernah ke medan dan sepanjang jalan membaca berbagai nama marga batak yang tidak pernah mampir ketelinga yang ajaib dan lucu, mungkin ini salah satunya :)

dan ternyata benar gurusinga ini marga batak karo tempat asal tehnik tradisional yang diterapkan di klinik ini sejak di dirikan tahun 1984 sebagai yayasan non-profit. satu hal yang pasti klinik ini menghidupi benar kampung setempat, sampai-sampai gang tempat masuknya dinamakan gang Guru Singa (di pisah karena memang demikian mereka menulisnya)

jadi begitulah akhir petualangan hari ini, memang hari yang luar biasa bukan ?