Kamis, 19 November 2009
19/11/2009
Kamis, 22 Oktober 2009
Tepian Terra Incognita
“Boldly go where no one has gone before…”
Saya rasa siapapun di generasi saya mengetahui tagline Star Trek diatas, sama seperti generasi sebelumnya mengenal Darth Vader dari Star Wars. Sejak kecil saya selalu terkesima dengan bintang-bintang di langit malam dan angkasa luar, namun baru sekarang saya mengerti alasan dibaliknya. Setelah saya fikirkan belakangan ini, yang menjadi magnet sebenarnya adalah sebentuk kerinduan…kerinduan untuk berada di perbatasan terakhir dan memandang ke seberang penuh rasa ingin tahu.
Sekarang saya sadar perbatasan terakhir itu tidak melulu berarti angkasa luar, perbatasan itu ternyata juga dapat berarti batas wilayah yang diterangi cahaya pengetahuan. Ketika seseorang menggali lapisan-lapisan pengetahuan sampai pada pertanyaan yang belum terjawab, ia mengangkat kepalanya dan menyadari keganjilan bahwa tidak seorangpun di muka bumi memiliki jawabannya dan serta merta merasakan antusiasme puluhan orang di berbagai negara yang sedang berlomba mencari jawabannya….
Selama ini saya belajar dengan anggapan bahwa ada lebih banyak pengetahuan, rincian dan detail yang memang bukan (belum) porsi saya untuk dipelajari, saya belajar dengan notion bahwa setiap pertanyaan tentu telah ada jawabannya di berbagai textbook khusus atau jurnal terbaru, namun baru-baru ini saya dipaksa menggali sedalam-dalamnya sampai setiap artikel terbaru tidak lagi bisa memberikan jawaban, mentor saya mengatakan apa yang kita diskusikan belum pernah didiskusikan orang lain di tempat ini, dan sejauh inilah yang baru diketahui komunitas ilmiah.
Pada saat itu seberkas perasaan ganjil menyelinap dalam hati. Inilah saya fikir rasanya berada di perbatasan terakhir dan memandang Terra Incognita ilmu pengetahuan manusia. sejenak kemudian saya menghela nafas mengingat berbagai keterbatasan material yang kita miliki untuk berpacu menjadi yang terdepan
Saya teringat teman saya seorang PPDS bedah saraf menceritakan antusiasme yang dirasakan ketika melakukan prosedur operasi otak eksperimental pada pasien, berusaha menjangkau area dalam otak yang sebelumnya tidak terjangkau pisau bedah dengan menyadari setiap sayatan bisa berarti memotong memori masa kanak-kanak seseorang. Berada di perbatasan itu dengan pisau bedah ditangan menjadi magnet yang membuatnya bertahan belasan jam dikamar operasi.
Itulah juga mungkin yang dirasakan Julius Caesar dan pasukannya saat memandang the white cliff of Dover, dengan kemampuan militer yang tidak tertandingi tidak ada yang bisa menghalanginya memperluas cahaya peradaban yang dibawa pada Legioner. Teman saya dengan pisau bedahnya, Caesar dan pasukannya, Picard dengan USS Enterprise-nya,semua memandang kegelapan dihadapan dengan jiwa petualang dan eksplorasi. Berada di tepian Terra Incognita bersiap dengan material dan mental untuk mengarunginya bagi saya adalah tanda superioritas.
Bukan kebetulan bila Rasulullah saw meminta kita untuk terus menjaga perbatasan negeri-negeri Islam-Ribath, selalu dalam keadaan siap siaga berjihad dan membawa cahaya Islam kemanapun. Pastinya bukan kebetulan juga bila harus selalu ada yang tinggal di belakang untuk mengajar dan berdakwah pada masyarakat, to nurture fresh mind , dan membimbing generasi baru menuju perbatasan ilmu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, menjamin superioritas peradaban.
Jadi kawan bila sebagian besar masyarakat belum terbiasa merasakan sindroma antusiasme perbatasan, sebagai individu dan sebagai ummah, seperti antusiasme rakyat Amerika menanti petualangan Neil Amstrong dan rekan-rekannya, ini berarti masih jauh perjalanan kita menjadi bangsa yang maju dengan peradaban yang superior. keterlaluan rasanya kalau kita sudah berpuas diri menenteng gadget dengan teknologi terbaru, atau mendulang uang dari penggunaan USG 4 dimensi, atau berbangga telah menerapkan protokol ADA terbaru, atau bahkan sekedar berhasil mendapatkan artikel dari PUBMED milik NIH
selamanya menjadi konsumen produk rekayasa ilmu pengetahuan, tanpa mengetahui mekanisme kerja, peluh ratusan peneliti dan berkah kerjasama komunitas ilmiah internasional untuk mewujudkan persepsi kemewahan, kecanggihan,dan berbagai hal yang memudahkan hidup dan kerja kita sehari-hari. tanpa sadar kembali menjadi bangsa jajahan di negeri sendiri karena peperangan tidak lagi di laksanakan di lembah-lembah atau di meja perundingan korporasi dan diplomasi tapi peperangan di langsungkan setiap hari di pusat-pusat penelitian terkemuka
Sungguh hina selamanya hidup dibawah bayang-bayang bangsa lain, bangsa yang demikian memahami kekuatan ilmu pengetahuan hingga pembelaannya untuk mengembalikan kredibilitas salah satu lembaga riset kecil miliknya dapat membuat geger publik di negeri “jajahannya”
Jumat, 25 September 2009
Longing For Another Barbarossa
Can it be Barbarossa now returning
From Tunis or Algiers or from the Isles?
Two hundred vessels ride upon the waves,
Coming from lands the rising Crescent lights:
O blessed ships, from what seas are ye come?
Jumat, 07 Agustus 2009
Mitokondria : Sebuah Kisah Cinta Abadi
Tulisan ini seharusnya merupakan kisah tentang Ibu dan warisan kehidupan yang diberikannya, ini adalah kisah tentang Mitokondria.
Saya kira semua orang tahu dan pernah membaca Harry Potter dan bagaimana ia mendapat reputasi sebagai the boy that survived , Voldermont tidak mampu menyentuh apalagi mencederainya karena perlindungan- menurut Dumbledore, an ancient protective charm yaitu cinta seorang ibu. Pengorbanan ibu telah memberikan Harry perlindungan dari sihir hitam sampai mencapai usia baligh.
Masih mengenai Ibu, dalam Islam kita mengenal suatu hadist yang mengatakan bahwa syurga berada di telapak kaki ibu, mengindikasikan betapa terhormat posisi seorang ibu dalam kehidupan, ditambah lagi hadist lain yang mengatakan sampai tiga kali untuk kita menghormati ibu sebelum menghormati ayah kita, Ibu,ibu, ibu baru lah ayah.
Who should i give my love to, my respect, my honour to, who should i give good mind to, after Allah and Rasulullah comes your mother, who next ? your mother ? who next ? your mother and then your father.
dalam cerita rakyat kita mengenal kisah Malinkundang yang kedurhakaannya telah menyakiti ibunya sendiri hingga terucaplah kutukan tersebut, dan si Malin berubah menjadi batu. Kasih ibu sepanjang jalan dan kini perkembangan ilmu pengetahuan telah mendapat bukti-bukti yang mendukungnya.
Berkembang diantara para pakar biologi bahwa pada organisme multiselular, sel-sel diatur secara hirearkis dan karenanya terdapat sebuah entitas master, dipercayai bahwa entitas utama ini bukanlah inti sel seperti yang dipercayai sebelumnya namun tidak lain adalah maternal mitochondrion yaitu mitokondria yang kini diketahui diwarisi secara maternal. DNA Mitokondria ( mtDNA) diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa dipengaruhi atau dihalang-halangi oleh mekanisme seksual. sementara DNA inti (nDNA)tidak lain dari campuran antara DNA ibu dan ayah.
Mitokondria sebagai entitas utama dalam suatu sel adalah pengertian yang dapat dibandingkan dengan Revolusi Copernicus, organel intra sellular tidak lagi mengorbit di sekeliling Nukleus, tapi justru semua mengorbit disekeliling dan melayani kepentingan mitokondria maternal. Mitokondria berkuasa atas hidup dan matinya sebuah sel karena ia memiliki kontrol atas programmed cell death ini mengapa sel manusia mendedikasikan lebih dari 100 gen inti untuk melayani mtDNA yang hanya mengkode 13 protein saja. 13 protein yang memiliki kontrol total atas proses produksi energi mitokondria yang mensuplai energi untuk sel hingga pada gilirannya memegang kunci atas hidup dan matinya sebuah sel, atau bahkan keseluruhan organisme tersebut.
Ketidakseimbangan fusi dan fisi mitokondria menyebabkan fragmentasi dan distiribusi abnormal sehingga suplai energi terganggu dan terjadi kerusakan sel bahkan berujung pada apoptosis dan degenerasi sel saraf seperti pada penyakit Parkinson, Alzheimer etc. mitokondria disisi lain adalah organel yang egois dia dapat berpindah dari satu sel yang sekarat menuju sel yang lebih sehat, ia juga tidak dapat dibentuk utuh dari nol melainkan harus memiliki sebagian struktur sebelumnya sebagai template.
sebagai kesimpulan mitokondria diangkat sebagai entitas master karena memiliki kualitas berikut yang tidak dimiliki yang lain yaitu :
- garis keturunan tidak terputus dari generasi sel ke generasi berikutnya
- kontrol atas produksi energi
- kemampuan untuk melintas antar sel dan bertahan hidup dari kematian sel
- mengatur kematian sel
- mitokondria mendapat manfaat terbanyak dari interaksi antara organel dan mengeksploitasi secara efisien milieu disekitarnya.
Jadi kawan adalah fakta yang sulit dibantah bahwa dalam setiap mitokondria dalam sel tubuh kita terkandung material genetik yang sama yang dimiliki oleh ibu kita dan ibu beliau, nenek kita, dan ibunya sebelumnya sampai ke ibu kita yang pertama Siti Hawa, warisan tanpa terputus dari ribuan generasi.
Mungkin mata kita adalah milik ayah, kulit kita milik ibu, hidung kita milik nenek, dan postur kita milik kakek, semua yang tampak pada diri kita adalah hasil kontribusi banyak generasi kedua orang tua kita, namun energi yang menggerakkan kehidupan kita sehari-hari di produksi oleh satu saja, yaitu warisan dari ibu kita. Buatlah ia kecewa dan tersakiti hatinya, bukan tidak mungkin Allah berkehendak maka kutukannya akan mengalir menuju setiap mitokondria kita dan BUMM ! menjadi batu , kaku , tanpa energi, seperti robot yang yang dilepas baterainya.
dibalik setiap pemimpin yang sukses disitu ada istri dan ibu yang setia dan berbakat, dibalik setiap prestasi dan gerak langkah sehari-hari tersembunyi didalam tubuh berkah cinta ibu kita, warisan cintanya menjadi energi penggerak. Ibu, ibu, ibu dan barulah ayah, 3 dari 4 bagian, seperti juga mtDNA dan nDNA, 3 bagian ternyata milik ibu kita hanya satu bagian saja dari ayah. betapa banyak kita mendengar berita bahwa keikhlasan, ridha dan maaf dari seorang ibu telah membebaskan anaknya dari sakaratul maut yang berkepanjangan.
Jadi kawan ini adalah kisah cinta abadi seorang ibu pada anaknya tidak terputus meski ribuan generasi berlalu, Allah jadikan energi cinta itu bagian utama dari hidup kita, hormatilah maka surga ganjarannya, khianatilah maka jangan terkejut bila hidup dan mati kita berada pada ridha ibu, demikianlah Allah menempatkan posisi ibu diantara kehidupan dimuka bumi ini berbanggalah dan berbahagialah atas kehormatan yang Allah berikan pada Ibu !
Atas cinta yang tak pernah berhenti dari nadi
dan ketabahan menumbuhkan matahari
untuk semua yang kau tulis
yang kau ukir di dalam diriku
dan lekuk jiwa semesta
( kutipan dari Perempuan Berselendang Bintang, Abdurrahman Faiz )
Bahan Bacaan :
- Agnati et al. Are maternal mitochondria the selfish entities that are masters of the cells of eukariotic multicellular organisms ? Communicative & Integrative Biology 2009; 2:2; 194-200
- Wulandari DT. Evolusi mitokondria dan pemanfaatannya dalam penelusuran kekerabatan dan evolusi organisme. http://www.coffe-cat.net 2005
Sabtu, 01 Agustus 2009
Hari Ini : Sepuluh Tahun Yang Lalu
Bila menganggap “Seleksi Nasional” ekuivalen dengan “Ujian” maka hari ini adalah tepat 1 dekade dari hari bersejarah itu [oh dear ! a decade already]. Sejujurnya optimisme itu tidak pernah benar-benar nyata, hanya antusiasme yang menggebu-gebu menanti hari besar tersebut.
Pada dasarnya peristiwa hari itu adalah kulminasi dari serangkaian kejadian sebelumnya, demikian bila kita melihatnya hari ini secara introspektif. Semuanya mungkin dimulai dari kontemplasi soliter di kamar kost-an saat itu, kamar terakhir dan terbaik di Bandung- kota perantauan ku yang pertama. Saat itu sedang menimbang-nimbang dengan hati-hati sebuah keputusan yang sebenarnya sederhana : Bimbel yang mana ?
Ya. Bagi saya saat itu, persoalannya cukup rumit hingga saya perlu membuat analisis SWOT versi saya sendiri, tercatat rapih dalam Jurnal, premis culun macam “ si I dan Y akan bimbel di sana” serta argumen sejenis bernada romansa dan konyol. Pada akhirnya saya mengambil keputusan yang kompromistis sekaligus berani, kompromistis karena saya mengikuti 2 Bimbel tapi tidak pada keseluruhan fragmen, karena pada fragmen akhir persiapan saya memilih untuk mengalienasikan diri dari dukungan peer dengan bergabung di Nurul Fikri [ ini promosi ya :) ]
Demikian langkah pertama saya menghadapi ujian terbesar yang pernah saya ikuti [literaly, karena ia diikuti puluhan ribu peserta], UMPTN waktu itu namanya. Menghadapinya saya bersikap praktis saja : “kalau tidak lulus ya ikut lagi tahun depan”. Jadi mengherankan sekali ketika kakak saya mendorong untuk mengikuti ujian-ujian masuk lain, sehingga setengah terpaksa + menemani rekan-rekan saya mendaftar ke Politeknik Manufaktur, Olala ! lulus sih lulus tapi ngeri bayangin ospeknya.
Setelah banyak latihan dan eksperimen saya sampai pada posisi yang melegakan sekaligus membingungkan, menghadap lah saya pada pembimbing saat itu. Saya harus memilih bidang lain dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi lagi, menghadap lah saya pada Ibu, dan ia memberikan dambaannya yang tertinggi untuk saya coba capai, maka sejak itu fokus saya alihkan pada FKUI. It’s a long shot, worth trying and nothing to lose.
Maka sampai kita pada hari itu. Biasanya saya akan memulai hari dengan 2 lap jogging yang diakhiri dengan sebungkus gorengan dan koran pagi di kamar, tapi dengan ansietas yang cukup membuat saya tak mampu memejam mata semalam, saya bersegera ke kios langganan untuk mendapat kecewa karena abangnya tidak menyiapkan eksemplar pesanan saya. Tidak sekali saya berfikir untuk bergabung bersama teman-teman semalam menunggu tengah malam, dan pengumuman resmi, jadi pagi itu dengan lunglai saya kembali ke kost-an menyesali keengganan semalam.
Kembali ke kamar saya terduduk lesu saat mendengar panggilan bapak kost mengajak saya melihat pengumuman bersama di bawah, spontan saya berdiri dan setengah berlari ke ruang makan, rupanya beliau sudah menemukan nama saya karena ia tersenyum menunjuk bagian tertentu dari ribuan daftar nama yang tercantum, kuperiksa nomornya benar, tapi kodenya menunjuk pada pilihan pertama ! mengerjap-ngerjap kodenya tidak berubah…ya tidak salah lagi, do’a ibu menjadi kenyataan.
Ingin berteriak dan melompat-lompat, tapi teman ku di sebrang meja masih mencari namanya, ia masih juga meneliti daftar tersebut, dan masih seperti itu saat di kamar aku menyetel kaset album Sherina yang pertama, volume maksimal dan aku menandak-nandak sendirian di kamar :) sampai puas, setelah bersujud aku keluar mencari telepon [belum jaman HP] untuk memberi kabar gembira pada keluarga. Itulah mengapa Sherina selalu menjadi penyanyi favorit ku
Hari ini adalah peringatan 1 dekade peristiwa besar tersebut dan aku masih mengingatnya sejelas matahari.
Jumat, 31 Juli 2009
Umar Update : Menolak Nenen
Dehidrasi adalah hal pertama yang harus kita waspadai pada balita yang mengalami Diare. Saya tidak akan menjelaskan klasifikasi dan tingkatan Dehidrasi, tapi secara sederhana kita dapat melihat beberapa poin. Adalah hal yang lumrah bila bayi yang sedang sakit akan rewel, kita menyebutnya Iritable, tidurnya tidak nyenyak, gelisah dan mudah terbangun, ia juga akan lebih sering meminta di gendong untuk mendapat kenyamanan.
Bayi yang mengalami dehidrasi juga akan iritable, namun semakin berat dehidrasinya tentunya ia akan lemas karena kekurangan cairan, ia hanya bisa meretih.
tanda lain yang bisa kita lihat adalah ubun-ubunnya yang menjadi cekung, tidak adanya air mata saat menangis dan bibir yang kering, tidak lagi “ngeces” dan kurangnya buang air kecil.
pada kasus umar terlihat peningkatan iritabilitas dan mulai tadi malam menolak nenen lagi dari umminya, meski mencret dan muntahnya seharian kemarin hanya satu kali, dengan menolak nenen maka asupan cairan yang amat dibutuhkan menjadi terkendala. Demam sudah minimal maka pilihan kami hanya mencoba menggunakan botol dot, disuapi dengan sendok atau ke rumah sakit untuk akses intra vena.
kami memutuskan untuk memerah ASInya dan menyuapi dengan sendok, meski payah dan menguras kesabaran, upaya ini terlihat berhasil, dengan perut terisi ASI iritabilitasnya menurun. seperti yang telah diperkirakan sebagai infeksi gastrointestinal, meski pada asutkultasi bising usus dalam batas normal, frekuensi flatus jelas meningkat, begitu pula sendawanya. sendawa yang berlebih bisa diiringi muntahan, sementara flatus bisa disusul mencret.
pada umumnya kasus, orang tua akan kepayahan bila balitanya mulai muntah-muntah, makanan, susu, oralit, obat semua dikeluarkan lagi. pada tahap ini bila obat-obat anti emetik tidak berfungsi, atau tidak masuk sama sekali, input tidak ada, sementara output (mencret) jalan terus. pilihan satu-satunya adalah akses intravena di rumah sakit.
Jadi kesimpulannya pada balita diare yang masih bisa makan minum, kita dapat bersandar pada oralit, namun pada balita diare yang tidak bisa mendapat input cairan sama sekali maka harus segera mendapat pertolongan di rumah sakit
Seperti yang selalu terjadi kasus Diare pada bayi always be a trying moment for the parent, for good reason too, begitu yang terjadi pada kami, tidak sekali kami berfikir untuk membawanya ke rumah sakit, bahkan DSA kami sudah memberikan surat rujukan sewaktu-waktu diperlukan. oya DSA kami memberikan antibiotik dan antijamur sekaligus, never take a risk anyway, especially dengan keluarga dokter :(
tapi pada akhirnya si kecil umar kembali nenen dengan umminya, dan frekuensi BAB cairnya semakin berkurang dan berkurang, jadi total kira-kira 1 minggu kondisinya kembali seperti sediakala. Alhamdulillah.
Senin, 20 Juli 2009
Umar Sakit dan Batal ke Garut
Pada periode liburan kali ini saya telah mengatur agar bagian kedua liburan diisi dengan silaturahim ke rumah orang tua saya di Garut. ini juga adalah tantangan perjalanan yang cukup berat, Umar belum pernah naik bis dalam jangka waktu yang lama, sedikitnya dibutuhkan 4 jam perjalanan ke Garut, total di jalan sekitar 6 jam. Tanpa kenyamanan kendaraan pribadi kami belum pernah mengalami yang seperti ini dengan dua balita yang harus diawasi.
Karena itu kami merancang perjalanan ini serapih mungkin, membawa bagasi seefisien mungkin, dan tidak sekali ummi mengingatkan untuk membawa mainan anak-anak untuk diperjalanan, untunglah bagi caca dan umar itu bisa berarti hampir apa saja yang mudah ditemui sehari-hari.
Bulan Juli-Agustus seperti yang sudah diperkirakan dan diberitahukan oleh orang tua kami, adalah bulan-bulan terdingin dalam setahun. hawa dingin di musim kemarau pada malam hari amat menggigit bahkan penduduk lokal pun segan mandi di pagi hari. Tapi fikir kami ini kesempatan yang baik untuk silaturahim menjelang Ramadhan, jalanan tidak terlalu padat.
Rencana tinggal rencana karena tenyata 12 jam sebelum keberangkatan Umar panas tinggi mendadak, diikuti dengan muntah dan diare. Ibarat MU kami pun membatalkan kunjungan dengan alasan keselamatan :) lagi pula mengingat udara dingin di sana bukannya satu balita yang sakit, sepulangnya dari Garut bisa jadi kami menghadapi 2 balita sakit sekaligus. Tentu saja orang tua kami kecewa, tapi pasti ada hikmahnya, mudah-mudahan lain waktu di beri kemudahan.
jadi sekarang dengan tanggal merah berturut-turut di hadapan adalah mimpi buruk orang tua karena pertolongan medis semakin sulit dijangkau, setidaknya, tidak ada DSA yang praktek di RS langganan kami dan Apotik kepercayaan kami pun tutup. terpaksa bikin resep sendiri deh. baiklah melihat gejalanya ini mengarah pada infeksi virus, melihat gejala tambahan seputar pencernaan tentu kemungkinan besar kami berhadapan dengan Rotavirus. Dehidrasi adalah ancaman utama, stamina orang tua akan di test pada saat-saat seperti ini.
kami serahkan penanganan demam pada Sanmol drops dan Proris Suppositoria yang telah terbukti keandalannya pada Caca. Untuk menghindari ancaman dehidrasi kami menyandarkan pada oralit dan pedialit, mereka digunakan sesering mungkin sebagai campuran pada saat membuat bubur, dan minum obat. Sedangkan mengatasi gejala simtomatik kami buatkan puyer domperidon, papaverin dan ctm agar dapat tidur lebih nyenyak dan orang tuanya mendapat kesempatan istirahat. beruntung Umar masih menetek pada umminya hingga pasokan cairan tidak terlalu sulit, sebagai tambahan kami berikan suplementasi lacto B untuk dicampur pada buburnya.
| Obat | Sediaan | Dosis anak | Golongan | ESO |
| Domperidon | 10 mg | o.25/kgbb/x | antiemetik | gejala ekstrapiramidal |
| Papaverin | 40 mg | 0.25/kgbb dalam dosis terbagi 4 | antispasmodik | |
| CTM | 4 mg | 1/4 dosis dewasa | antialergi | mengantuk |
Sebagai penunjang stamina umminya kami menggunakan Redoxon+Zinc yang lagi-lagi terbukti keampuhannya menghindarkan terkena sakit, atau sakit yang berkepanjangan. tidak lupa potensi penularan rotavirus juga perlu diwaspadai menyerang Caca dan kakak-kakak sepupu yang sering bermain kemari, Sisa muntahan umar diperlakukan dengan hati-hati begitu pula semua pakaian yang terkena dan lap yang digunakan dipisahkan dari cucian yang lain, alat-alat makan umar sudah otomatis terpisah dari yang lain.
Demikian mudah-mudahan niat kami dihitung oleh Allah swt dan apa yang terjadi menjadi penebus dosa-dosa kami, mensucikan diri dihadapan Ramadhan yang menjelang.





